Tenang dengan Menyelam

Tak perlu keluar negeri untuk menikmati keindahan bawah laut. Menyelam bisa dilakukan di seputar ibu kota negara baru, Penajam Paser Utara. Banyak lokasi yang menggoda dijelajahi. Seperti yang dilakukan Muhammad Bijak Ilhamdani.

nomorsatukaltim.com – Beberapa tahun terakhir ini, anak muda yang tumbuh dari keluarga politisi, menikmati diving. Olah raga rekreasi yang tidak hanya memerlukan keahlian, tetapi juga nyali.

“Dunia bawah laut sangat luar biasa. Selain sehat untuk badan, kita bisa lihat ikan-ikan saling berseliweran, terumbu karang yang indah dan banyak hal lagi,” ujar pria kelahiran Maret 1996 itu.

Wakil rakyat termuda di Penajam Paser Utara (PPU) ini mengenal diving sejak lima tahun lalu. Mendalami hobi ini, Sekretaris Komisi III itu aktif di sebuah komunitas. Jamrut Diving Community (DC) namanya.

Ia didapuk menjadi dewan penasihat. Bersama kawan-kawan itulah, ia sering terjun ke salah satu spot selam terbaik di Benuo Taka. Di perairan Teluk Balikpapan, area Tanjung Jumlai. Warga biasa menyebutnya dengan Pulau Gusung Kampung Baru. Di situ spot favoritnya.

Untuk selam sendiri, putra Wakil Bupati PPU Hamdam Pongrewa ini menjelaskan banyak hal. Salah satunya, soal asumsi bahwa penyelam harus bisa berenang. Menurutnya perspektif itu tak selamanya benar.

Ayah satu anak ini menyebutkan idealnya penyelam memang harus bisa berenang. Tapi, itu bukan persyaratan mutlak. Pun hal itu bisa dilatih. Makanya sebelum terjun, selalu ada briefing serta pelatihan. Mulai teori, praktik, hingga penyelaman di laut.

Politikus Partai Demokrat ini juga menyebutkan calon penyelam akan diajari berbagai hal dalam persiapan. Mulai cara bernapas, menyelam, hingga apa saja yang harus dipatuhi penyelam.

Selama ini, banyak yang berpikir bahwa menyelam itu butuh keterampilan dalam menarik dan mengembuskan napas. Bahkan, ada asumsi bahwa penyelam harus menghemat napas di dalam air.

Padahal, penyelam tidak boleh menahan napas. Keutamaannya justru penyelam harus bernapas normal, tapi hanya menghirup dan melepas udaranya melalui mulut.

Napas penyelam saat berada di dalam air pun tetap normal. Yang memengaruhi boros tidaknya udara adalah pergerakan tubuh selama menyelam. Bila terlalu banyak bergerak, tubuh otomatis membutuhkan energi. Napas pun memerlukan oksigen yang cukup banyak. “Yang terpenting untuk dipersiapkan penyelam ialah perasaan tenang dan berani,” ucapnya.

Kondisi di permukaan dan bawah laut memang berbeda. Bisa jadi, orang terlihat nyaman dan menikmati di permukaan laut. Namun, dia merasa takut saat berada di bawah air. Gelap dan sesekali ada arus. Pada situasi seperti itu, orang tidak boleh takut. ”Itu modal yang paling penting,” tandasnya.

Hanya, banyak orang yang enggan mencoba karena sudah berpikir tentang peralatan menyelam yang ribet dan mahal. Itu juga asumsi yang kurang tepat.

Maka itu, di komunitas ini yang dijunjung tinggi ialah kebersamaan. Untuk peralatannya, masih bisa dipinjamkan. Karena tak sedikit yang tergabung dalam Jamrut DC berasal dari unsur-unsur lembaga yang aktif dalam kegiatan selam. Seperti tim dari TNI-Polri, BPBD termasuk SAR.

Jadi peralatan selam cukup banyak. Di antaranya, masker, regulator, buoyancy compensation device (BCD) yang menyerupai ransel, fins atau sepatu katak, tangki, serta gauges (indikator oksigen dan gas).

Setidaknya, hobi inilah yang memberikan manfaat untuk dirinya untuk bersikap tenang. Dalam mengahadapi berbagai polemik di dunia kerjanya.

Aktivitas menyelam itu rutin setidaknya dilakukan sebulan sekali. Tapi tergantung kondisi laut. “Kita harus tenang. Dari situ saya belajar untuk bersikap bijak dalam mengahadapi permasalahan,” ujarnya.

Satu sisi, duduk sebagai anggota parlemen di kabupaten termuda kedua di Kaltim, Bijak menegaskan akan memperjuangkan iklim pariwisata yang sehat. Dengan mulai mengkampanyekan berbagai hal tentang lingkungan. Menurutnya itu kunci. (*)

Pewarta: Nur Robby Syai’an

Simak video terbaru dari Nomor Satu Kaltim: