Dandri Dauri Usul Pemkot Samarinda Bikin Aplikasi Ojol Sendiri

Samarinda, nomorsatukaltim.com – Seiring selesainya masa ‘bakar duit’ dari raksasa besar transportasi online. Pendapatan mitra alias driver mulai tak menentu. Banyak kebijakan yang hanya menguntungkan penyedia platform saja. Karena itu, Dandri Dauri melihat mestinya Pemkot Samarinda bisa hadir di tengah para driver ojol. Dengan cara, menciptakan dan membesarkan aplikasi transportasi online garapan sendiri.

Di awal ekspansi transportasi online di Indonesia. Pemain besar di usaha ini diketahui melakukan aksi ‘bakar duit’ gila-gilaan. Dalam bentuk promo potongan harga jasa angkut dan makanan untuk konsumen. Sementara untuk driver. Potensi bonus untuk yang mampu menyelesaikan misi harian tergolong tinggi.

Jadilah transportasi online menjadi primadona. Konsumen ojek online makin banyak. Usaha makanan online bertumbuh pesat. Bahkan dari dalam gang sempit Kota Samarinda sekalipun. Pun di posisi mitra. Banyak orang beralih profesi menjadi driver ojek online karena tergolong mudah, bekerja tanpa tenggat waktu, serta penghasilan yang lumayan memadai.

Tapi kini kondisinya sudah berbeda. Promo potongan harga sudah jarang. Insentif harian untuk driver pun dipangkas habis-habisan. Bisa dibilang tidak ada insentif lagi. Jika pun ada promo, driver bukan pihak yang mendapat keuntungan lagi.

Nah, di situasi ini, eks manajer Borneo FC Samarinda, yang kini aktif menjadi salah satu petinggi di Pemuda Pancasila, Dandri Dauri. Mengusulkan pada Pemkot Samarinda untuk membuat aplikasi transportasi online sendiri. Tak sekadar dibuat, tapi juga dibesarkan.

Dalam praktiknya, menurut Dandri, apkikasi ojol milik Pemkot Samarinda tetap mengikuti aturan main dari Kemenhub RI soal besaran tarif minimal. Serta tetap mengutamakan kecepatan, ketepatan, dan ketersediaan layanan yang memadai. Secara prinsipnya, sama dengan produk milik raksasa ojol. Yang membedakan adalah, bahwa mitra bisa meraup pendapatan yang sepantasnya. Baik melalui skema pemberian bonus ataupun dengan pemotongan yang lebih kecil.

“Kenapa sih anggak kita yang (Pemkot) Samarinda ini punya aplikasi ini. Kita belajar bagaimana formatnya. Kita berdayakan potensi lokal. Yang pastinya akan kerja sama dengan banyak stakholder. Kita bisa jadi satu kota percontohan terhadap sistem layanan jasa transportasi atau sejenisnya,” ungkapnya baru baru ini.

“Terkait bagaimana teknisnya mari kita duduk bareng. Saya pikir ini juga bisa jadi program unggulan Pemkot Samarinda. Karena jelas di sana ada lapangan kerja yang sangat terbuka. Dan tentunya sekaligus memberikan kenyamanan bagi warga,” imbuhnya.

Dandri yakin, para petinggi pemkot sebenarnya sudah memikirkan hal ini. Namun belum berani memulainya saja. Makanya, ia mengatakan bahwa segala keraguan itu bisa dikikis dengan memulai diskusi kecil-kecilan dulu. Namun intensif.

Soal SDM, Pemkot Samarinda dirasa sudah berpengalaman membuat aplikasi serupa. Karena sebelumnya sudah ada aplikasi belanja online bernama BEBAYA. Tinggal, bagaimana aplikasi yang sudah dibuat. Bisa dimaksimalkan lagi dengan menerapkan cara memasarkan yang baik. Diiringi kebijakan dari pemerintah.

“Mungkin dinas terkait bisa menjembatani persoalan ini. Ke depan kita gak pakai lagi perusahaan itu, ini bukan maksud apa-apa, intinya kita berdaya saing. Karena kita sudah punya aplikasinya. Kami juga sudah diskusikan bersama mereka yang kompeten, yang ahli dalam bidang pembuatan aplikasi atau sistemnya,” lugasnya melanjutkan pembicaraan.

“Makanya kita berharap, mewakili teman – teman menghadapi persoalan ini. Kami berharap ada suatu sistem pemberdayaaan masyarakat lokal. Toh juga bakal ada pendapatan untuk daerah dari program ini,” tutupnya. (frd/ava)

Simak video terbaru dari Nomor Satu Kaltim: