Subari: Politisi Pendiri Sekolah Tahfiz

Kepekaan terhadap kondisi sosial dan lingkungan, mendorong Subari maju dalam kontestasi Pemilihan Calon Legislatif (Pileg) pada 2004 dan 2017.

Balikpapan, nomorsatukaltim.com – Meski dua kali pencalonan itu gagal, namun semangatnya untuk menyuarakan aspirasi masyarakat pesisir tak pernah luntur. Hingga akhirnya Subari bisa menghuni gedung DPRD Balikpapan. Tepatnya sebagai Wakil Ketua DPRD Balikpapan periode 2019-2024.

Politisi Partai Keadilan Sejahtera (PKS) itu menyebut, saat ini Balikpapan telah mendapati sosok kepala daerah yang paling memahami masyarakatnya. Rahmad Mas’ud (RM) dinilai memiliki kepekaan terhadap kondisi sosial ekonomi masyarakat, dan visioner.

Hal ini bisa dinilai dari program-program kerja yang akan dituangkan dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) 2021-2024. Seperti menggratiskan iuran BPJS Kesehatan bagi golongan kelas bawah dan program lain di sektor pendidikan, lingkungan dan lainnya.

Nah, jika ada kriteria khusus untuk mengisi posisi wakil wali kota Balikpapan yang saat ini masih lowong, maka sosok yang paham seluk beluk pemerintahan lah yang paling diperlukan, katanya.

Wali Kota Balikpapan Rahmad Mas’ud dinilai memerlukan sosok pendamping dalam menjalankan roda pemerintahan. Yakni sosok yang mampu memahami birokrasi untuk mengakselerasi kinerja pemerintahan saat ini.

“PKS (Partai Keadilan Sosial) juga ingin berkontribusi untuk Balikpapan. Insyallah ketua partai kami akan kami dukung karena sudah berpengalaman dua periode di dewan dan paham seluk beluk pemerintahan Kota Balikpapan,” ujarnya, saat ditemui, baru-baru ini.

Meski demikian, Subari memastikan bahwa PKS akan mengikuti proses dan ketentuan yang berlaku. Sehingga pihaknya juga masih akan melihat perkembangan perpolitikan, lantaran Koalisi Gotong Royong yang dibangun untuk mendorong pasangan Rahmad Mas’ud – Thohari Azis dalam kontestasi Pilkada 2020, merupakan koalisi besar yang terdiri dari partai-partai yang kuat di parlemen.

Perlu pertemuan khusus untuk membahas hal-hal krusial sesuai mekanisme dan aturan main. “Kita tahu bahwa nantinya keputusan juga ada di tangan wali kota. Kita sebagai partai pengusung tentu juga akan mengajukan calon yang terbaik,” katanya.

Subari sendiri tak ujug-ujug memosisikan dirinya sebagai calon yang tepat untuk mengisi kekosongan wakil wali kota Balikpapan. Meski peluang itu ada.

Ia merasa bahwa posisinya sebagai Wakil Ketua DPRD Balikpapan lebih tepat untuk mengawasi jalannya pemerintahan dan mengawal kebijakan-kebijakan di masa depan.

Subari, merupakan politisi yang lahir di masa pergolakan perjuangan reformasi pada 1999. Ia mengaku sudah terlibat dalam Partai Keadilan (PK) sebelum partai itu berubah menjadi PKS.

“Saat pintu reformasi dibuka, muncullah partai-partai untuk berpartisipasi. Nah saya terlibat didalamnya. Saya terlibat di Partai Keadilan. Saat itu 1999 namanya masih PK, Ikut pemilu namun tidak memenuhi elektoral treshold (ambang batas parlemen),” kenangnya.

Ia masih ingat, saat itu ambang batas parlemen minimal 3 persen, namun PK hanya mencapai 1,4 persen secara nasional. Pengalaman itu akhirnya membentuk PK menjadi Partai Keadilan Sosial (PKS), dengan cara mereformasi diri dari sisi ideologi hingga proses kaderisasinya pada 2004.

“Sambutan masyarakat luar biasa. Di tahun itu saya sudah masuk di pengurusan partai. Artinya saya memang dari nol menjadi pengurus ranting. Pada 2009 menjadi pengurus cabang yang akhirnya saya banyak berinteraksi dengan masyarakat,” katanya

Subari merupakan sosok politisi yang pantang menyerah. Ia menyebut sempat tiga kali mengikuti pemilihan umum caleg di Balikpapan namun dua kali gagal.

Pencalonan pertama terjadi pada 2009 namun gagal. Pada pemilu Caleg 2014 ia gagal lagi, padahal perolehan suaranya cukup tinggi kala itu. Yakni sekitar 700 suara dan menjadi nomor urut dua dari PKS Dapil Balikpapan Timur. “Tapi saat itu saya tetap bersemangat,” tukasnya.

Namun pada 2017, Subari mendapat kesempatan mengisi kekosongan satu kursi PKS melalui Pergantian Antar Waktu (PAW). Itulah awal mula ia bergabung dalam susunan parlemen, saat itu masa kepemimpinan Ketua DPRD Balikpapan Abdulloh, periode pertamanya.

Kemudian pada 2019 Subari kembali maju dalam kontestasi caleg dan berhasil mengamankan satu kursi. Bahkan saat itu pula ia melakoni Wakil Ketua DPRD Balikpapan periode 2019-2024.

Yang menarik elektabilitasnya meningkat 300 persen dari pemilu 2014, yakni mencapai 2.216 suara. “Kalau ditanya dananya dari mana? Jujur saya enggak punya dana, nol rupiah,” katanya.

Ketua Badan Wakaf Indonesia (BWI) Balikpapan itu menyebut, hal yang membedakan PKS dengan partai lainnya yakni, proses kaderisasi di partai berjalan sangat baik, loyal dan solid.

Sehingga sosok sepertinya mampu menembus batas paradigma masyarakat soal seberapa banyak cuan seorang caleg saat memutuskan mencalonkan diri.

“PKS itu dibangun dari kader. Kader yang bergerak, kader yang bekerja. Soal dana itu urusan belakangan yang penting kita mau bekerja. Karena kita tanamkan, sebelum pemilu kita sudah bekerja,” terangnya.

Kerja-kerja kader, kata dia, misalnya membuat kegiatan sosial seperti pengajian dan aktif mengadakan kegiatan lain yang berangkat dari kepekaan terhadap kondisi warga di lingkungan. “Itulah kelebihan PKS. Walaupun kader tidak dicalonkan tapi tetap bergerak saling support rekannya yang lain,” imbuhnya.

Ketua Pembina Yayasan Nasrullah itu, mengaku bukan berasal dari keluarga konglomerat dan bukan pemimpin perusahaan sukses. Ia hanya mengelola yayasan yang bergerak di bidang sosial kemasyarakatan termasuk fokus pada bidang pendidikan. “Ya tidak hanya pendidikan. Kita juga sosialisasi pertanian dan peternakan sapi, dulunya,” katanya.

Sejak 2005 hingga saat ini, yayasan yang dia kelola berkembang dan akhirnya berhasil membangun TK dan SD Islam Terpadu Nurul Ilmi Balikpapan yang dibangun tiga lantai, lokasinya di pemukiman warga, tepatnya di Gang Amal, jalan Mulawarman, sekitar Batakan. Bahkan sekarang yayasan berencana mengembangkan dan membangun sekolah setingkat SMP di wilayah timur Balikpapan.

Awal merintis, TK yang ia bangun menggunakan ruang di rumah pribadinya sendiri. “Sekarang alhamdulillah kita sudah punya bangunan sekolah yang baru. Kita sekarang punya LTTQ Tahfiz Alquran. Ya kita membina banyak masyarakat. Itulah salah satu kenapa kami dikenal masyarakat. Karena kita bergerak di sosial kemasyarakatan,” tukasnya.

Menjadi seorang politisi, kata dia, merupakan perjuangan menyampaikan suara-suara masyarakat agar sampai kepada pemerintah. Menjadi politisi juga mesti dilakoni dengan ketulusan, agar semua pencapaian mendapat berkah dari Tuhan.

“Saya berangkat dari nol. Semua ini karena melihat (peka) kondisi masyarakat di sana, infrastrukturnya, masih jauh tertinggal,” katanya. (*)

Pewarta: Ryan Amanta

Simak video terbaru dari Nomor Satu Kaltim: