Aktivis di PPU Putar Film ‘KPK Endgame’

PPU, nomorsatukaltim.com – Komunitas Gemar Belajar (Gembel) Penajam Paser Utara (PPU) menginisiasi sebuah gelaran. Nobar alias nonton bareng. Namun kali ini yang disajikan bukan gelaran pertunjukan sepakbola kompetisi Euro yang baru saja mulai. Bukan juga film box office yang sedang ramai diperbincangkan di jagad maya. Melainkan sebuah film “KPK Endgame”.

Seperti di daerah lainnya, pemutaran film dokumenter besutan Watchdog ini menarik antusiasme pemuda Benuo Taka. Sabtu malam, 12 juni 2021, 5 hari sudah film dokumenter dengan durasi kurang lebih 2 jam ini diputar.

Film yang mengisahkan 74 anggota KPK yang tidak lolos TWK (tes wawasan kebangsaan) ini, kata pengurus Komunitas Gembel, diharapkan mampu memantik kepedulian generasi muda setempat.

“Gelaran ini menjadi tempat kita belajar, berdiskusi bersama tentang apa yang sedang dihadapi bangsa ini. Diharapkan mereka yang datang setidaknya mampu berpikir kritis,” ujar pengurus Komunitas Gembel, Achmad Fitriady.

Bertempat di Gen Bull Cafe, Babulu, riuh peserta tak terelakkan. Tentu dengan menerapkan protokol kesehatan (prokes) pandemi COVID-19.

Hadir dari forum Kemahasiswaan, komunitas motor, dan anak-anak muda lainnya. Kegiatan dimoderatori oleh Negel Pulung. Juga dihadiri Dinamisator Jaringan Advokasi Tambang (JATAM) Merah Johansyah dan indonesian Coruption Watch (ICW) secara virtual.

Dalam kesempatannya, Merah menaruh harapan besar. Agar diskusi-diskusi terbuka seperti ini bisa terus ada. Tak mesti membahas isu nasional, tapi bisa dimulai dengan diskusi isu lokal.

“Kita tidak bisa lagi berharap kepada pemimpin kita. Kita akan melakukan gerakan secara kolektif dengan melakukan diskusi dan menonton film sebagai bentuk penyadaran, masyarakat khususnya anak muda,” tegasnya.

Berjam-jam berselang, penonton secara khidmat menyaksikan per bagian kesaksian di film itu. Satu dan lain hal nampak mulai membuka pemikiran setiap pelajar yang hadir.

“Ini menjadi salah satu jalan untuk membongkar kebusukan KPK. Diadakan di PPU, membuat kami yang memiliki ganjalan mulai membicarakan isu nasional dengan skala diskusi lokal,” kata Sahar, mahasiswa Universitas Mulawarman (Unmul) Jurusan Peternakan. Juga Anggota Forum Komunikasi Mahasiswa Kabupaten (FKMK) Samarinda.

Ada lagi Adam, Sekertaris Dewan Mahasiswa Sekolah Tinggi Balikpapan Kelas Penajam menuturkan ajang ini memberikan penyadaran. Bahwa setiap kalangan muda dan pelajar. Bahwa tindakan korupsi itu bisa saja terjadi di mana saja. Termasuk Kaltim, khususnya PPU.

“Kejadian ini sudah suatu tanda negara ini sedang tidak baik-baik saja. Di Kabupaten kita yang akan menjadi IKN, dengan begitu akan membuka peluang terjadinya korupsi di sini,” ujarnya.

Pun bagi Muhammad Tazir Anggota FKMK Balikpapan. Menyebutkan film ini membuka cakrawala berpikir. Memandang sebuah isu dengan sudut pandang yang luas

“Walaupun kita merdeka hari ini, kita dijajah secara ideologi. Kita tidak kaget lagi, indonesia yang kaya memberikan potensi oknum tak bertanggungjawab datang. Jadi kita harus siap,” urainya.

Tak sedikit pula yang berharga wadah seperti ini dibuka rutin. Agar ruang belajar ini semakin menjamur. Membuat pemuda lokal peduli semakin banyak.

“Kegiatan seperti ini harus terus ada dan menjamur. Tidak hanya di PPU, misal juga di Paser. Memberikan penyadaran kepada generasi muda dalam era dominasi digital, yang seolah membuat sosial kita menjadi apatis,” tandasnya.

Sinopsis film KPK Endgame

Film “KPK Endgame” menjelaskan kesaksian para anggota KPK yang tidak lulus Tes Wawasan Kebangsaan. Film dokumenter yang baru-baru ini rilis. Menunjukkan bahwa ada beberapa orang pegawai KPK yang melakukan kesaksian. Mereka sudah fix akan dipecat dan tidak lulus uji tes wawasan kebangsaan.

Terlihat para pegawai yang bebas tugas dari pekerjaanya memberikan kesaksian bahwa TWK diskriminatif. Banyak hal yang mereka ungkapkan sebagai bentuk kesaksian.

Beberapa ada yang menyebut bahwa materi tidak ada hubungannya dengan kompetensi mereka. Mengingat bahwa tugas utama pegawai KPK adalah menangani kasus korupsi Indonesia.

Mereka-mereka itu secara terbuka menunjukkan tes wawasan kebangsaan tersebut kurang pas. Hal ini karena cenderung seksisi pada perempuan pegawai KPK.

Bagi mereka banyak pertanyaan yang kurang sesuai sehingga menjebak. Bahkan itu bukanlah pertanyaan yang layak sebagai bahan tes wawasan kebangsaan.

Terdapat beberapa pertanyaan yang seharusnya tidak boleh ada. Pasalnya hanya menjurus pada satu fokus atau tidak secara umum.

Sinopsis film KPK Endgame memperlihatkan detail pertanyaan yang cukup membuat banyak orang terheran. Misalnya pertanyaan “Memilih Pancasila atau Al Quran?”, ” Mau tidak untuk melepas kerudung?”. Semua sudut pandang mereka itu diungkapkan di film ini. (rsy/zul)

Simak video terbaru dari Nomor Satu Kaltim: