Anto Husein, Mantan Caddy Golf yang Kini Melatih

Samarinda, nomorsatukaltim.com– Anto Husein, atlet golf kawakan Kaltim yang memulai karir dari Caddy. Bahkan kini ia merupakan seorang pelatih. Banyak atlet profesional lahir dari tangan dinginnya. Termasuk dirinya yang sudah terdaftar sebagai atlet profesional.

Anto Husein. Ia memulai dari nol, tak tau apa apa soal olahraga golf. Yang ia tau sebatas bola putih kecil dipukulkan sejauh-jauhnya, sekuat tenaga. Menggunakan tongkat ‘mahal’ itu. Saat mereka telah usia, ia memungutnya. Dikumpulkan lagi untuk dimainkan esok hari.

Bermula dari lapangan golf di Kota Pahlawan Surabaya. Anto kecil sudah harus mencari uang tambahan untuk keperluan keluarga. Yang peluang itu datang dari club house yang tak jauh dari tempat tinggalnya.

“Saat itu usia 15 tahun. Menjadi caddy karna kebutuhan ekonomi sih ya. Jadi kerjaan saya ya mungut bola itu. Asik sih, rame-rame. Hasilnya cukuplah buat jajan,” kata Anto belum lama ini saat ditemui di lapangan golf Villa Tamara Samarinda.

Dari rutinitasnya itu, ia yang tak tau apa-apa soal cabang olahraga ‘orang gedean’ itu. Yang memang cenderung dilakukan oleh mereka yang mapan secara finansial. Anto pun makin tertarik dan terbesit untuk menggelutinya.

Saat sedang sepi, ketika pegolf istirahat. Sesekali ia mencoba menggunakan stik yang ada. Memukul dan mengambil bola sendiri. Tekniknya ia dapat dengan memperhatikan mereka bermain. Hingga fasih. Buah kerja keras itu. Mengantarkannya meraih juara pegolf antar Caddy. Ya, kala itu terselenggara juga kejuaraan antar caddy. Sekedar untuk memberikan ruang bagi mereka yang bekerja memungut bola.

“Suatu ketika di adakan kejuaraan antar caddy, dan Alhamdulillah juara. Sejak itu kemudian saya terus belajar dan mengasah kemampuan. Sampai jadi pemain golf beneran,” kenang pria kelahiran 1977 itu.

Menjadi pemain. Tidak menjadikannya jumawa, ia tetap berlatih dan menjalani rutinitasnya sebagai Caddy. Melayani mereka yang bermain. Sampai akhirnya matang sebagai pegolf. Bahkan kala itu, sudah ada sponsor yang membiayai perjalanan karirnya.

Sepuluh tahun bertahan dan berproses disana, Anto muda sudah punya modal jam terbang, Dipercaya untuk melatih pegolf pemula. Hingga akhirnya datang tawaran yang tak mampu ia tolak. Hijrah ke Kaltim oleh salah seorang yang menginginkan jasanya.

“Saya ditawari oleh seorang pegawai pertamina. Untuk pindah ke Samarinda. Menjadi pemain sekaligus pelatih. Sekitar tahun 1987, sejak itu saya menetap dan melanjutkan karir,” kenangnya lagi.

Hari berganti, tahun berlalu. Profesinya sebagai pegolf bak candu. Kali ini, di Samarinda ia berharap lebih. Kesempatan emas untuk meneruskan bakat yang tak pernah ia sadari sebelumnya, yang hadirnya tak pernah disangka. Tetap bermain dan melatih. Bermain untuk jenjang karir, melatih digunakan untuk mendapatkan uang tambahan. Begitu seterusnya. Kejuaraan demi kejuaraan ia ikuti. Termasuk gelaran Porprov. Sudah ia lakoni sebanyak 12 kali. Prestasi sudah tak terhitung jejeran medali dilemari.

Dari turnamen lokal, kejuaraan nasional. Sudah ia lalui. Sebagai pegolf amatir. Termasuk turut andil pada ajang pekan olahraga nasional (PON). Tiga kali ia turun mewakili Kaltim. Terakhir kali ia turun pada PON Palembang, 2004.  Masih ada lagi. Pada 2014. Secara membanggakan ia tergabung dalam asosiasi pegolf profesional, yakni Profesional Golf Asosiation (PGA). Capaian yang cukup membanggakan dalam karirnya didunia olahraga golf.

Lingkungan olahraga itu mengubahnya menjadi seseorang yang cukup disegani. Selain melatih pemula. Tak jarang pemain lawas turut minta saran. Bagaimana trik dan teknik yang baik. Atau posisi terbaik saat melakukan pukulan. Saat ini, ia tengah mempersiapkan pegolf Samarinda yang bakal turun Porprov Kaltim. Termasuk mencari pegolf muda berbakat. Yang dipersiapkan untuk menambah semarak pegolf Samarinda dimasa mendatang.

Sebagai pelatih, ia menginginkan cabang olahraga golf mampu melahirkan pemain-pemain muda berbakat. Dengan rutin diselenggarakan turnamen. Dengan begitu, Samarinda tetap mampu mempertahankan prestasinya di dunia Golf.

“Kita inginkan ada regenerasi, supaya prestasi yang telah diraih mampu dipertahankan bahkan ditingkatkan lagi. Jangan lupa, kesejahteraan pelatih diperhatikan,” Tandasnya.

Apalagi, sejak pandemi. Turnamen atau kejuaraan golf tidak seramai dulu. Hal itu akan memberi dampak buruk bagi kelangsungan olahraga golf. Sementara penjaringan pegolf pemula lebih bagus jika dilakukan melalui turnamen. (frd/fdl)

Simak video terbaru dari Nomor Satu Kaltim:

Leave A Reply