ngopi

Pelajari Kehidupan Prasejarah di Lokasi IKN, Arkenas Tilik Masyarakat Mentawir di PPU

Balikpapan, nomorsatukaltim.com – Penemuan situs bersejarah di kawasan inti Ibu Kota Negara (IKN) terus dikembangkan. Termasuk meneliti tentang kearifan lokal dari kebudayaan lama. Agar bisa diadaptasi menjadi identitas IKN.

Hal itu disampaikan Kepala Pusat Penelitian Arkeologi Nasional (Arkenas) Dr I Made Geria. Ia menilai potesi sumber daya peradaban di Kaltim sangat luar biasa. Tidak secara historis.

Tapi juga dari sisi nilai-nilai peradaban di masa lampau. Di Kaltim sendiri sudah ada penelitian tentang peradaban di Sangkulirang dan peradaban Kerajaan Kutai Kertanegara.

“Mengindikasikan peradaban itu sudah ada sejak dulu. Nah itu menjadi pondasi keberadaan kita sekarang,” ujarnya didampingi Paleoantropolog Arkenas Sofwan Noerwidi baru-baru ini.

Secara umum, Indonesia merupakan semacam nation state. Atau negara yang terdiri dari bangsa-bangsa. Masing-masing bangsa memiliki entitas. Ia yakin aktivitas masa lalu merupakan adaptasi dengan lingkungan. Dan menghasilkan nilai-nilai entitas sehingga menjadi peradaban. Kemudian peradaban itu terwariskan kepada generasi sekarang.

“Artinya punya nilai luar biasa, bukan hanya secara historis tapi juga dari nilai-nilai kearifan,” sebutnya.

Berdasarkan hal itu, timnya turun ke lapangan. Mengunjungi desa-desa adat yang ada di sekitar lokasi IKN. Tujuannya mengidentifikasi kebudayaan dan kearifan lokal masyarakat setempat yang diwariskan dari peradaban kuno.

Hasil akhirnya yakni memberi rekomendasi kepada pemerintah pusat terkait landasan pembangunan IKN berwawaaan forest city. Yakni kota yang dibangun dengan melestarikan sumber daya hutan.

“Kalau kita bicara kehutanan kan ada sisi keberlanjutan, keseimbangan ekosistem. Nah kami dari arkeologi nasional mencoba mengangkat akar peradaban. Jadi kalau kita tarik ke rona awal, sebenarnya peradaban itu yang menjadi pondasi keberadaan kita yang sekarang,” katanya.

Timnya berusaha mengangkat nilai-nilai kearifan lokal agar tidak hanya menjadi sekedar tontonan tetapi menjadi tuntunan.

“Karena kalau kita bicara kearifan tentang mengelola lingkungan, air, sumber daya alam, saya kira masyarakat adat di Kalimantan memiliki itu,” katanya.

Ia mencontohkan konsep masyarakat Dayak dengan istilah Lewu Tatau. Dalam eskatologi suku Dayak itu berarti konsep tentang ruang atas atau surge. Khayangan atau entitas ketuhan yang menguasai langit.

Selain ruang atas, ada manusia, tanah dan lingkungan. Menurutnya istilah itu bisa digunakan sebagai salahsatu landasan dasar dalam konteks menjaga keseimbangan kawasan pembangunan di lokasi IKN.

Ia menyebut proses penelitian masih berjalan. Termasuk dengan mendatangi desa adat Mentawir, Sepaku, Penajam Paser Utara (PPU). Di mana masyarakat sekitar mengelola kawasan mangrovenya dengan kearifan lokal.

“Nanti (hasil penelitian) kita kawinkan dengan upaya masyarakat menyelamatkan kawasan mangrovenya. Mungkin kawasan mangrove itu juga menjadi sumber pangan mereka dan dikelola secara kearifan,” katanya.

Keberadaan mangrove atau hutan bakau di Desa Mentawir sendiri sangat penting bagi masyarakat. Sebab berdasarkan temuan timnya, masyarakat memanfaatkan buahnya menjadi olahan pangan. Seperti sirup, kemudian juga bisa dijadikan pupuk.
Berdasarkan hasil wawancara timnya kepada tetua desa bernama Lamali, Masyarakat masih memegang teguh adab dari budaya lama.

Hal itu dibuktikan dari kuatnya kepercayaan masyarakat terhadap kata pamali. Sehingga maayarakat berusaha agar tidak melakukan perbuatan yang bisa dianggap sebagai bentuk kejahatan. Misalnya merusak lingkungan. Ada sanksi sosial dan adatnya.

Temuan lainnya adalah masyarakatnya sudah mengolah bambu. Salah satunya dimanfaatkan sebagai konstruksi tanggul untuk memproteksi air larian dari sungai yang meluap pada waktu hujan. Bambu juga dimanfaatkan untuk mengantisipasi erosi. Jadi bukan hal baru bahwa bambu dimanfaatkan warga untuk menyelamatkan kawasan sungai.

Selain itu bambu juga menjadi bahan baku kerajinan. Misalnya membuat caping. Semacam topi berbentuk silinder dan melebar untuk melindungi bagian kepala warga di sana dari cuaca panas dan hujan.

Uniknya di sana ada aliran sungai yang masuk ke lingkungan desa. Dan lingkungan itu baru bisa dimanfaatkan kala hujan. Karena mereka juga beraktivitas menggunakan perahu.

Saat musim kemarau, perahu-perahu tersebut berjajar rapi namun sungainya mengering. Sehingga lansekap seperti itu dianggap langka dan sangat berpotensi menjadi kawasan wisata.

“Saya waktu pertama ke sana melihat, kenapa ada perahu di kebun warga. Ada perahu di darat,” ujarnya, sembari tertawa.

Menurutnya kearifan lokal masyarakat perlu didukung. Apa lagi ada informasi bahwa Desa Mentawir akan menjadi destinasi wisata dalam lingkup ruang IKN.

“Masyarakat memanfaatkan kawasan dan lingkungannya. Mereka hidup dari lingkungannya di hutan mangrove, termasuk melestarikan hutan bambu. Kenyataannya hal itu bisa memberikan penghidupan kepada masyarakat sekitar. Ini bisa menjadi masukan dalam perencanaan pembangunan IKN,” tutup Made. (ryn/boy)

Simak video terbaru dari Nomor Satu Kaltim:

Leave A Reply