alexa
ngopi

Berau Didorong Jadi Hub Komoditi Kakao

Samarinda, nomorsatukaltim.com – Kabupaten Berau berpotensi menjadi hub komoditi kakao di Kaltim. Dengan peran itu, Bumi Batiwakkal bisa menjadi pusat pengolahan hilirisasi kakao. Tentu saja untuk mendapatkan nilai tambah produk. Juga untuk meningkatkan daya saing.

Dinas Perkebunan (Disbun) Kalimantan Timur mencatat luas kebun kakao di Benua Etam setiap tahun menyusut. Berdasar data Disbun Kaltim pada 2020 lalu, luas kebun kakao saat ini 6.886 hektare (ha). Sementara 2019 lalu, luasannya tercatat mencapai 7.000 hektare.

Kepala Dinas Perkebunan Kaltim Ujang Rachmad mengatakan, bahwa dengan melihat data tersebut maka dari sisi produksi juga mengalami penurunan. Di mana pada 2019 produksi kakao mencapai 2.500 ton. Kemudian pada 2020 hanya berkisar 2.259 ton.

“Kalau dilihat dari sebaran wilayah. Di Kabupaten Berau dari sisi luasan masuk nomor tiga di Kaltim. Berau memiliki luas lahan tanam kakao seluas 1.253 hektare dengan produksi 788 ton per tahun,” terang Ujang Rachmad dalam kegiatan webinar mengulas Rantai Pasok dan Hilirisasi Kakao Berau Menuju Pasar Ekspor, baru-baru ini.

Dua daerah dengan luasan tanam dan produksi terbesar di Kaltim ada Kutai Timur dan Mahulu. Kedua daerah ini berada juga tidak jauh dari Berau.

Dengan melihat lokasi sebaran, menurut Ujang, Berau dapat menjadi hub dalam konteks mata rantai kakao. Dan peluang tersebut harus segera ditindaklanjuti.

“Berau harus ambil kesempatan hub dari aspek pertama. Mengumpulkan biji kalau Berau menjadi hub. Dalam konteks ini volume sebagai bahan pertimbangan. Karena kalau bicara kualitas hanya 10 kilogram tidak ada maknanya,” ujarnya.

Alasan pihaknya mendorong Berau menjadi hub, karena memiliki lokasi yang strategis di antara kedua daerah yang memiliki luasan kebun kakao paling besar.

“Kalau berbicara memenuhi kebutuhan atau volume untuk ekspor dari Berau saja tidak cukup,” beber Ujang.

Sedangkan kualitas, Ujang mengungkap, sepanjang sejalan dengan produksi maka kualitas tetap terjaga sesuai standarnya. “Berau lah yang menciptakan standar dan kualitas tadi. Itu yang pertama saya lihat dari strategi,” tukasnya.

Apabila Berau menjadi hub, bukan hanya pasar ekspor yang bisa disasar. Tetapi juga bisa memenuhi pasar domestik. “Jangan lupa ada sebuah kesempatan dan peluang yang perlu kita pertimbangkan. Di mana tadi kalau berhasil menjadi hub dalam konteks kualitas dan kuantitas ekspor. Kita juga harus melihat peluang pasar domestik. Bisa pasar tradisional atau pasar modern,” sebut Ujang.

Apalagi menjelang pemindahan ibu kota negara. Kesempatan pasar domestik akan besar. Karena perhotelan, pasar retail dan lainnya akan banyak membutuhkan kakao.

“Dalam konteks peluang yang kita hadapi rencana pemindahan IKN. Nanti akan tumbuh hotel. Kalau saja hotel di Kaltim suplai biji kakao-nya dipenuhi lokal Kaltim,” tandasnya.

Untuk itu, Ujang mengatakan kesempatan untuk menjadi hub ini sangat besar. Dan langkah ini juga membantu petani dalam memasarkan produksi kakaonya.

“Kami dari Dinas Perkebunan hanya bagaimana meningkatkan produksi. Tidak bisa berdiri sendiri. Secara terstruktur kesempatan Berau untuk mengambil kesempatan hilirisasinya,” imbuhnya.

Dalam kesempatan itu, Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Penelitian dan Pengembangan Berau Agus Wahyudi mengatakan perlu Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) khusus mengelola komoditi kakao.

 

“BUMD ini menjadi penstabil harga dan stok kakao dari Berau,” katanya.

Disebutkan, komoditi kakao di Berau sudah mulai disiapkan pada 2017 lalu. Pemerintah Kabupaten Berau meluncurkan program Gerakan Mengembangkan Agribisnis (Gemari) Kakao di Kampung Tumbit Melayu.

“Namun untuk mengarah secara komersial dan digitalisasi pemasaran, Berau perlu belajar dari Kabupaten Jembrana, Bali,” tuturya.

Bukti keunggulan Kakao Berau adalah masuk delapan besar biji kakao yang lolos seleksi Indonesian National Cocoa of Excellence 2021 dari 58 biji kakao se-Indonesia.

Konsultan Kakao dari Yayasan Kalimanjari Agung Widiastuti mengatakan, kakao Berau memiliki potensi untuk dikembangkan menjadi single origin seperti komoditas kopi. Sebab jika berbicara kualitas, sudah masuk Cocoa of Excellence. Bahkan dalam hal kuantitas pun masih terbuka.

Disebutkannya, angka produksi kini perlahan mulai meningkat. Mulai 600 kilogram per hektare pada 2018 lalu. Kini empat tahun berselang menjadi 750 kilogram per hektare. Luasan kebunnya pun turut bertambah, hingga mencapai 3.200 hektare pada 2021.

Agung menganalisis rantai pasok di enam kampong. Yakni Long Lanuk, Merasa, Muara Lesan, Lesan Dayak, Long Beliu, dan Sidobangen. Ia mengatakan bahwa arah pengembangan kakao Berau perlu ditujukan ke pasar premium. Yaitu kakao fermentasi dengan sertifikasi organik.

“Produktivitas memang penting, tapi pasar premium terbukti stabil di tengah pandemi, kami sudah lihat nyata dari Kabupaten Jembrana, Bali,” ujarnya.

Sebagai informasi, permintaan kakao premium dari Jembrana, Bali terus berdatangan selama pandemi COVID-19 yang menurunkan banyak permintaan atas komoditas lain. Bahkan pada April lalu, Kakao Jembrana berhasil diekspor perdana ke Qatar. (fey/eny)

Simak video terbaru dari Nomor Satu Kaltim:

Leave A Reply