alexa

Patah Hati Ribuan Calon Haji

Ribuan jemaah calon haji asal Kalimantan Timur patah hati. Dua kali mendapat janji, dua kali pula diingkari. Tahun ini mereka kembali gagal ke Tanah Suci.

nomorsatukaltim.com – Sebanyak 2.586 calon jemaah haji Indonesia asal Kalimantan Timur terpaksa gigit jari. Untuk kedua kalinya mereka gagal ke Tanah Suci. Dua kali dalam rentan dua tahun, harapan para jemaah menunaikan rukun islam kelima itu, pupus.

Belum adanya kejelasan dari Pemerintah Arab Saudi, alasan keamanan dan keselamatan, serta kecukupan waktu persiapan, mendorong Kementerian Agama RI secara resmi membatalkan keberangkatan calon jemaah haji Indonesia tahun ini.

Kebijakan itu tertuang dalam Surat Keputusan Menag No. 660 Tahun 2021 tentang Pembatalan Keberangkatan Jemaah Haji Pada Penyelenggaraan Ibadah Haji Tahun 1442 H/2021 M, tertanggal 3 Juni 2021. Yang telah beredar luas di masyarakat sejak Kamis sore.

Dalam ketetapannya, Kemenag membatalkan keberangkatan jemaah haji bagi Warga Negara Indonesia (WNI) yang menggunakan kuota haji Indonesia dan kuota haji lainnya. Jemaah haji reguler dan haji khusus, yang telah melunasi Biaya Perjalanan Ibadah Haji (Bipih) tahun 1441 H/2020 M, diputuskan menjadi jemaah haji pada penyelenggaraan ibadah haji 1443 H/2022 M.

Kementerian Agama dalam memutuskan kebijakan ini menimbang beberapa hal. Diantaranya; bahwa kesehatan, keamanan dan keselamatan jemaah haji terancam oleh pandemi COVID-19 serta varian barunya yang melanda seluruh dunia. Dan sebagaimana kewajiban negara dan tanggung jawab pemerintah melindungi segenap warga negaranya.

Pertimbangan lainnya, bahwa Pemerintah Kerajaan Arab Saudi belum mengundang Pemerintah Indonesia untuk membahas dan menandatangani Nota Kesepahaman tentang persiapan penyelenggaraan ibadah haji 2021.

Berdasarkan itu pula, Pemerintah Arab Saudi belum membuka akses layanan penyelenggaraan ibadah haji tahun ini. Sedangkan pemerintah RI diakui memerlukan ketersediaan waktu yang cukup untuk melakukan persiapan pelayanan bagi jemaah.

“Karena masih pandemi dan demi keselamatan jemaah, pemerintah memutuskan tahun ini tidak memberangkatkan kembali jemaah haji Indonesia,” ujar Menteri Agama Yaqut Cholil Qoumas dalam telekonference di Jakarta, Kamis (3/6/2021).

Baca Juga:  Penerbangan Internasional di Bandara SAMS Berkurang

Pada kesempatan itu pula, Menag menyampaikan simpati kepada seluruh calon jemaah haji yang terdampak pembatalan. Untuk memudahkan akses informasi masyarakat, Kemenag menyiapkan posko komunikasi di Ditjen Penyelenggaraan Haji dan Umrah. Kemenag juga tengah menyiapkan WhatsApp Center yang akan dirilis dalam waktu dekat.

“Keputusan ini pahit. Tapi inilah yang terbaik. Semoga ujian COVID-19 ini segera usai,” ujarnya.

MEMENDAM KEKECEWAAN

Seorang Petugas Kesehatan Haji Indonesia (PKHI) asal Kaltim, dr. Yushelly Dinda Pratiwi mengatakan sudah mencoba menjelaskan alasan pemerintah membatalkan keberangkatan haji tahun ini kepada calon jemaah yang akan didampinginya itu. Diakui bahwa sebagian jemaah menerima keputusan ini. Kendatipun itu pahit.

“Ya pastilah ada yang kecewa. Tapi umumnya menerima. Menganggap ini sudah keputusan yang sudah tidak bisa diganggu gugat,” ujarnya berbicara kepada Disway Kaltim melalui saluran telepon, Kamis (3/6).

Namun dokter muda yang berdomisili di Kabupaten Berau itu mengakui bahwa secara pribadi ia tidak kecewa. Meskipun bayangan keberangkatan ke Tanah Suci untuk pertama kalinya membersamai jemaah haji Kaltim sudah mengawang-awang sejak jauh hari.

Kata dokter Shelly, untuk apa kecewa, karena memang sudah begitu pertimbangannya. Kementerian pasti sudah memikirkan dengan matang dan dalam. Yang jelas menurutnya, ia dan tim kesehatan lainnya telah menjalankan tugas mempersiapkan keberangkatan dengan sangat baik.

“Persiapan kami PKHI Indonesia dan jemaah haji sudah sangat baik,” ungkapnya.

Dokter Shelly, sapaannya, menuturkan, ketidakpastian keberangkatan ini sebenarnya sudah tercium sejak hampir dua pekan lalu.

Pada 21-24 Mei 2021, ia mengaku mengikuti pertemuan secara virtual yang dihadiri seluruh petugas haji di Indonesia. Perjumpaan itu dikatakan membicarakan kesiapan keberangkatan haji Indonesia.

Disampaikan dalam pertemuan daring itu bahwa memang belum ada kejelasan dari Kedutaan Besar Republik Indonesia di Arab Saudi terkait kebijakan penyelenggaraan haji tahun ini.

Sejak saat itu, dokter jebolan Universitas Yarsi Jakarta menanti kepastian. Hingga hari ini diputuskan ia dan mereka gagal berangkat. Shelly kembali menegaskan, bahwa “kami sebagai petugas mengikuti keputusan dan arahan pemerintah. Kalau dibilang sedih kami juga tidak bisa bilang seperti itu. Walaupun prosesnya ini sudah berjalan panjang. Cuma kan masih ada pertimbangan keselamatan jemaah,” urainya.

Baca Juga:  Tetap Haji Meski Pandemi

Yushelly sebagai salah satu pendamping calon jemaah haji di Kabupaten Berau mengungkapkan para calon jemaah di daerah itu umumnya berpikir positif. Mengganggap hal ini sebagai realitas yang terbaik. Para jemaah melalui ruang virtual disebut berusaha saling menguatkan.

Saling menyemangati. Sembari tetap terus memperkaya pemahaman terhadap pelaksanaan haji. Sama seperti yang dilakukan sehari-hari sebelum adanya keputusan ini.

“Mungkin ini kesempatan untuk menyempurnakan persiapan. Dan pasti banyak hikmah lainnya,” ucap dia ketika berusaha memahamkan jemaah.

Ditambahkan pula, bahwa, adanya pandemi COVID-19 yang mengharuskan pelaksanaan prosesi ibadah ini menerapkan protokol kesehatan ketat, menjadikan lama waktu keberangkatan dipotong menjadi hanya 20 hari.

Dari normalnya 40 hari. Hal itu dinilai salah satu hikmah. Bahwa jika harus berangkat tahun berikutnya, maka kemungkinan para pelaku musafir berada di negeri Arab lebih lama.

“Jadi benar benar banyak hikmahnya. Apalagi ada varian baru di negara yang dekat dengan Arab Saudi. Itu jadi satu kekhawatiran juga,” tandasnya.

Sebagai PKHI Shelly berpikir positif bahwa mungkin persiapan tahun ini sebagai contoh untuk mempersiapkan keberangkatan tahun depan. “Supaya lebih mantap lagi. Soalnya harus diatur agar benar-benar safety,” imbuhnya.

Dalam hal persiapan, dokter kelahiran Tanjung Batu itu memaparkan. Proses pertama yang telah dituntaskan adalah melakukan vaksinasi massal COVID-19 kepada seluruh calon jemaah.

Lalu kemudian, pemeriksaan kesehatan ulang secara umum. Baik fisik, laboratorium, kadar gula darah, asam urat dan semacamnya kepada seluruh jemaah.

Pelatihan kebugaran jemaah haji sebagai syarat wajib juga telah dilaksanakan. Dan persiapan terakhir yang diselesaikan adalah simulasi manasik.

“Kami juga sudah menajalankan kewajiban evaluasi penggunaan vaksin. Latihan kebugaran dan pembinaan jemaah haji,” katanya.

Baca Juga:  Tok, Pemerintah Tetapkan Awal Ramadan 1442 H Mulai 13 April 2021

Dia berkata bahwa hampir semua jenis persiapan sudah dilakukan. Sesuai prosedur. Namun. “Kita semua sudah berusaha, kesiapan menghadapi penyelenggaraan ibadah haji di tengah pandemi ini. Tapi tetap keputusan di Arab Saudi,” tuntasnya.

Terkait pembatalan pemberangkatan haji tahun ini, Kepala Kantor Kemenang Balikpapan, Johan Marpaung segera meneruskan kebijakan itu kepada calon jemaah haji.

Di Balikpapan, ada 530 calon haji yang gagal berangkat. Sebagai dampak pembatalan ini, daftar antrean haji semakin bertambah. Menjadi 25 tahun. Artinya jika masyarakat Balikpapan mendaftar saat ini, 25 tahun mendatang baru bisa berangkat.

Terkait dengan pembatalan ini, para jemaah calon haji tak perlu khawatir soal Biaya Pemberangkatan Ibadah Haji (Bipih) yang sudah disetor. Uang itu bisa diambil kembali, dengan konsekuensi tidak akan mendapat jatah kursi untuk tahun depan.

Kegagalan Indonesia mengikuti ibadah haji tahun ini terungkap sejak Kementerian Dalam Negeri Arab Saudi melalui akun Twitternya, @MOISaudiArabia, merilis daftar negara yang bisa masuk negara itu. Daftar yang dirilis ialah Amerika Serikat, Inggris, Irlandia, Italia, Jepang, Jerman, Prancis, Portugal, Swedia, Swiss, dan Uni Emirat Arab.

Kebijakan itu diduga terkait dengan vaksin Indonesia yang tidak masuk daftar Emergency Use Listing Procedure (EUL) dari WHO. Vaksin yang dimaksud adalah Pfizer, Moderna, Johnson & Johnson dan AstraZeneca. Sementara vaksin paling banyak yang digunakan di Indonesia, yakni Sinovac. Meski belakangan vaksin ini masuk daftar EUL WHO. (DAS/YOS)

Simak video terbaru dari Nomor Satu Kaltim:

Leave A Reply