ngopi

Marthinus: Berpolitik Sambil Bermusik, Asik!

TIDAK ada rasa malu berkeliling nyanyi dari kafe ke kafe. Bermusik rupanya sudah mendarah daging. Meski dirinya kini disibukkan sebagai wakil rakyat. Dua tahun lalu ia memulai debut membuat lagu. Awalnya cuma coba-coba. Saat pengumuman ibu kota negara (IKN) di PPU ramai, lagunya mulai ditayangkan di kanal youtube pribadi. Judulnya Sambal Terong Pedas (STP). Menyampaikan tentang ramainya pemberitaan soal IKN usai diumumkan oleh Presiden Jokowi.

Samarinda, nomorsatukaltim.com – Telepas dari itu, ada pesan tersirat yang hendak disampaikan. Oleh Marthinus. Anggota Komisi III DPRD Kaltim itu. “Ibu kota ini nanti jadi tempatnya artis. Kita harus jadi artis lokal yang lebih dulu naik, sehingga setelah jadi (IKN) nanti tidak kaget,” katanya.

Setelan Marthinus memang bak anak band kala ditemui, Rabu (2/6) sore. Celana jeans biru dibalut kemeja kerah hijau tua, membuatnya terlihat lebih fresh. Sambil menenggak segelas jus buah naga di meja bundar di hadapannya, ia kembali berbicara soal musik.

Menurutnya musisi lokal harus bersiap diri. Jangan tunggu IKN jadi dulu baru eksis. Apalagi saat ini semua platform digital sudah tersedia. Tidak seperti dulu yang masih offline. “Kalau dulu masih offline jadi tidak semua (musisi) dikenal,” selorohnya.

Kegemaran dengan dunia musik bukan baru ini saja ia geluti. 2008 lalu, saat AS Roma terakhir menjuarai Piala Coppa Italia, ia menaungi band indie dari Kubar. Personelnya semua perempuan. Marthinus masih PNS di Kubar saat itu. Ia memilih berada di balik layar. Namanya Catur Band. “Sebelum Kotak booming, saya sudah bentuk itu band nya,” katanya bangga.

Bahkan, saat ST12 sedang naik daun dan manggung di Samarinda, Catur Band tampil sebagai band pembuka. Bangga? Sudah tentu. Band besutannya dari Kubar ternyata bisa manggung di ibu kota provinsi.

Sebelas tahun berlalu. Hiruk pikuk wacana IKN menyeruak di semua pemberitaan. Naluri bermusiknya keluar. Saat itulah ia kembali membuat lagu STP. Lalu meng-cover lagu Iksan Skuter berjudul Bingung.

Marthin bernyanyi solo. Dengan modal gitar akustik dan biola. Sempat vakum lagi ciptakan lagu, Martin lebih banyak bermain musik dari kafe-kafe. Bahkan saat reses mendengar aspirasi di dapil, ia juga bermain musik.

Juga saat sosialiasi perda (sosper) sebulan sekali. Sosper sendiri merupakan agenda dewan untuk menyampaikan perda tertentu kepada masyarakat.  Politisi PDIP ini fokus pada perda tentang disabilitas. Usai main musik, ia bagi-bagi kursi roda. Saat reses, ia adakan kuis tebak lagu.

Marthin bernyanyi, konstituen yang menjawab judul lagunya. Yang jawabannya betul dapat hadiah. “Jadi agendanya dikemas menarik dan berbeda,” sebutnya.

Tapi saat bernyanyi keliling kafe, lagunya tentu yang sesuai pasar. Contoh saja Manusia Setengah Dewanya Iwan Fals. Lalu Nyalakan Tanda Bahaya dari Iksan Skuter.  Termasuk lagu Bingung. Tak mau terus-terusan meng-cover, diam-diam Marthin bersiap merilis mini album indie. Genrenya balada akustik. Ada lima judul ia bocorkan. Netizen +62, Baper, Bucin, Daring dan Orang Gila.

Tidak ada judul yang berat. Liriknya juga dibuat ringan dan santuy agar mudah dipahami semua kalangan. Rencananya Agustus mendatang akan dirilis. Sebelum 17 Agustus. Melalui tiga platform music digital. Spotify, Joox juga i-Tunes. “Saya berkolaborasi dengan El Production. Ini juga masih baru,” kata Marthinus sambil kembali menenggak jus buah naga di tangan.

Lantas, apa yang ingin ia sampaikan dari lagu-lagunya. Simpel. Ia cuma ingin menjadi contoh bagi musisi lokal agar jangan malu berkarya. Terutama musisi indie. Tapi itu tidak mudah. Musisi indie punya tantangan minimnya fasilitas untuk berekspresi. Karena tidak semua tersedia.

Ini juga jadi tantangan bagi Marthinus yang juga merupakan wakil rakyat. Bukan itu saja ternyata. “Saya pernah ngobrol sama salah satu penyanyi lokal. Dia perform di salah satu kafe berjam-jam, bawakan sekitar 11 atau 15 lagu, tapi cuma dibayar Rp 150 ribu. Ini kan miris,” ujar Marthinus.

Karena itu perlu ada regulasi khusus yang mengatur. Bahwa penyanyi atau band yang perform di kafe harus mendapat bayaran sesuai. Karena itu semua pihak perlu duduk bersama. Seperti organisasi musisi atau pun asosiasi kafe dan resto atau rumah makan dan pemerintah untuk membicarakan perihal ini.

“Musisi ini harus punya standar untuk manggung di kafe. Mungkin dia pakai badge khusus, berarti kalau dia perform bayarannya ya harus professional, tidak sesuka hati pemilik kafe,” tegas Politisi dapil Kubar ini.

Marthin juga berpesan kepada pemerintah. Agar jangan meminggirkan nasib pekerja seni dan musisi lokal. “Pesan untuk pak wagub, ini harus dikawal. Teman-teman  musisi dan pekerja seni. Musisi Kaltim dan pekeja seni saat IKN akan datang jangan jadi penonton, tapi jadi pemain,” harap Marthinus.

Sembari itu, ia memerlihatkan video perform dari gadget-nya saat lakukan galang dana untuk korban gempa NTT dan Sulsel. Ratusan juta terkumpul dalam semalam. Setidaknya, dari kegemarannya bermusik, Marthinus tetap tidak lupa siapa dirinya. Yaitu sebagai wakil rakyat. Yang memerjuangkan aspirasi dan kebutuhan rakyat.  (*)

Pewarta: Bahrunsyah

Simak video terbaru dari Nomor Satu Kaltim:

Leave A Reply