alexa

Sujiati: Suka yang Tegak dan Berakar

PPU, nomorsatukaltim.com – Beban pekerjaan seringkali menimbulkan kejenuhan. Jika tidak dikelola dengan baik, ujung-ujungnya bisa timbul stres. Akibatnya, produktivitas jadi menurun. Tiap orang punya cara sendiri mengatasi stres. Mulai dengan berolah raga, traveling, atau menekuni hobi. Seperti Sujiati.

Kesibukan Sujiati sebagai wakil rakyat, meningkat akhir-akhir ini. Semenjak Kabupaten Penajam Paser Utara dipilih sebagai lokasi ibu kota negara baru, berbagai kegiatan memenuhi kalendernya.

Selain harus memahami berbagai kebijakan terbaru berkaitan dengan pemindahan ibu kota negara, sebagai anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) yang dipilih warga, menyelesaikan aspirasi konstituen tetap harus dilakukan.

Kegiatan itu tentu saja membutuhkan energi ekstra. Karena itu, di sela kesibukan, anggoat dewan perempuan satu-satunya itu memilih menekuni hobi. “Sebisa mungkin memanfaatkan waktu mengurus bonsai. Supaya pikiran fresh, dan tubuh tetap bugar,” kata politisi Gerindra itu, baru-baru ini.

Ya, seni tanaman mungil ini menjadi hobinya sejak lama. Dihitung-hitung, sudah lebih 20 tahun Wakil Ketua Komisi II DPRD PPU itu menggemari hobi tanaman hias dalam pot jenis ini. Untungnya, hobi ini masih bersinggungan dengan bidang tugasnya. Komisi II membawahi pertanian, perkebunan, kehutanan, pengadaan pangan, dan sebagainya.

“Kalau pulang kerja, tidak ada kegiatan lain, ya yang dipegang-pegang bonsai ini,” ucap dia sembari menunjuk beberapa koleksinya.

Baca Juga:  Wujudkan PPU Sentra Bawang Merah, Sujiati Rutin Kunjungi Para Petani

Bonsai atau tanaman yang dikerdilkan dalam pot dangkal dikenal pertama kali di Jepang. Bonsai dibuat dengan tujuan membuat miniatur dari bentuk asli pohon besar yang sudah tua di alam bebas. Penanaman dilakukan di pot dangkal yang disebut bon.

Jejeran bonsai terpampang di depan kediaman Sujiati di Gunung Makmur, Kecamatan Babulu, PPU. Jumlahnya puluhan. Berbagai jenis. Ada bonsai serut, bonsai kemuning bonsai beringin, bonsai asem, bonsai pinus, bonsai delima mini, bonsai bougenville sampai bonsai kelapa dan berbagai lainnya.

Meski tak bersedia menyebut mau harga koleksinya, bonsai dihargai cukup mahal. Mulai ratusan ribu hingga jutaan rupiah. Bahkan, situs Bonsai Tonight, merilis harga bonsai termahal di dunia, bonsai pinus dijual mulai dari USD 50 hingga USD 1,3 juta atau sekitar Rp 700 ribu hingga Rp 18,2 miliar.

Berbeda dengan jenis bonsai lainnya, bonsai pinus adalah salah satu jenis bonsai yang tidak cocok untuk pemula. Sebab, bonsai satu ini paling sulit dipahami, ditata, dan dipangkas karena faktor-faktor seperti iklim yang sangat memengaruhi kesuburan pohon.

Bagi politisi Gerindra ini, bonsai bisa dikatakan pelarian dari kepenatan kerjanya. Yang paling dia suka dari keseluruhan menghobi ini ialah saat membentuk tanaman. Pun hingga tanaman itu bisa dikatakan sudah menjadi bonsai.

Baca Juga:  Bantu Paramedis Puskesmas di PPU, Wakil Rakyat Iuran Beli APD

“Bonsai ini perlu dibentuk. Dan itu tidak dalam waktu singkat. Ada tekniknya untuk membuat gaya bonsai. Dan semua itu perlu dirawat pelan-pelan hingga tanaman itu bisa dikatakan bonsai. Di situ yang membuat saya tertarik,” urai perempuan kelahiran 7 Juli 1973 itu.

Sujiati menjelaskan ada berbagai gaya bonsai. Mulai sapu tegak, tegak lurus, tegak berkelok, miring, sapu angin, menggantung, sastrawan dan banyak lagi. “Yang tegak, dengan akar terlihat, itu favorit saya,” sebut anggota dewan PPU satu-satunya ini.

Dalam hobinya ini, dia tak sendiri. Dia bergabung dalam komunitas Solidaritas Bonsai Paser-PPU. Bersama sekira 60 anggota lainnya. Tak jarang, mereka membuat kegiatan bersama. Menggelar kontes, pameran, lomba dan berbagainya.

“Berbagai momen itu kami manfaatkan untuk sekedar sharing, belajar jika ada penghobi yang sedang punya masalah dengan bonsainya,” kata perempuan 48 tahun ini.

Tak berhenti di situ. Wakil Ketua Komisi II ini juga berkeinginan memperbesar perkumpulan. Tak menutup kemungkinan menjadi sebuah organisasi masyarakat. Agar dapat memiliki peran lebih besar di masyarakat.

Baca Juga:  DPRD PPU Minta Pemkab Perhatikan Kesejahteraan Guru PAUD

Menilik potensi pembonsai yang ada di Benuo Taka. Solidaritas ini dianggap menjadi embrio. “Karena yang suka bonsai di PPU dan Paser ini tidak sedikit. Banyak sekali. Saya mau menggalang mereka menjadi satu wadah,” tutur dia.

Sejatinya para pembonsai ini sudah mandiri. Tren pasar segmentasi bonsai cenderung meningkat semakin hari. Cocok saja. Karena bahan alam yang tersedia cukup banyak untuk dijadikan bonsai. “Apa lagi dengan adanya rencana pemindahan ibu kota negara (IKN) ke Kaltim. Tentu ini bisa menjadi potensi yang perlu dikembangkan dari dari daerah kita,” ujar dia.

Pada masa pandemi ini, tanaman bonsai kembali digemari. Akibatnya, harga tanaman ini sempat melangit, membuat pebisnis bonsai menangguk untung. (rsy/yos)

Simak video terbaru dari Nomor Satu Kaltim:

Leave A Reply