Menanti Gebrakan Rahmad Mas’ud Memimpin Balikpapan

Rahmad Mas’ud dilantik sebagai Wali Kota Balikpapan ke-10, Senin (31/5) kemarin. Transisi kepemimpinan kota ini menarik dikuliti, lantaran punya pengaruh besar terhadap perkembangan Indonesia, pasca pemindahan ibu kota negara di Kalimantan Timur. 

Samarinda, nomorsatukaltim.com – Analis politik dari Universitas Mulawarman, Luthfi Wahyudi menilai butuh kepiawaian khusus memimpin kota pesisir ini. Kehadiran Rahmad Mas’ud dengan latar belakang yang cenderung berbeda dari pemimpin sebelumnya, merupakan tantangan sekaligus ajang pembuktian.

Luthfi Wahyudi, memerhatikan kepemimpinan di Balikpapan dalam landscape 30 tahun belakangan cukup dinamis. Menurutnya, sejak tiga dekade itu, Balikpapan memang telah dipimpin orang yang kaya pengalaman manajemen bersifat public sector.

Ia mengamati mulai dari era kepemimpinan Tjutjup Suparna pada periode 1991-2001. Kemudian dilanjutkan oleh kepemimpinan Imdaad Hamid pada periode 2001 sampai 2011. Hingga yang terakhir, tongkat estafet kepemimpinan dipikul Rizal Effendi, yang menjabat sejak 2011 sampai dengan 2021 ini.

Luthfi menilai, tiga wali kota yang sama-sama menjabat selama dua periode (10 tahun) itu, semuanya matang dan memiliki pengalaman mengelola organisasi publik. Mereka sudah menetapkan standar baru dalam membawa Balikpapan lebih baik dari masa ke masa.

Sosok Tjutjup Suparna yang berasal dari militer, disebut memiliki kedisiplinan yang tinggi. Kemudian dilanjutkan Imdaad Hamid yang seorang birokrat murni. Sehingga hasil dan kontribusi kedua pemimpin itu masih membekas di Balikpapan hingga hari ini.

Dalam proses kepemimpinannya, Tjutjup Suparna yang berlatar militer, membawa karakter disiplinnya ke arena birokrasi. Sehingga pada zamannya, pemerintahan di Balikpapan identik dengan tata aturan yang ketat. Tidak berbeda jauh dengan pewaris setelahnya; Imdaad Hamid, yang dikenal tegas tapi santun, dalam memimpin.

Lalu kemudian, Rizal Effendi yang kemarin telah resmi purna tugas, dinilai mampu mempertahankan nilai-nilai yang telah dibangun oleh para pendahulunya itu. Rizal Effendi, mulai mengenal birokrasi sejak menjadi wakil Imdaad Hamid dalam periode 2006-2011.

Ia sebelumnya berlatar belakang jurnalis, pekerja media. Dari baground profesi itulah, kata Luthfi, Rizal sudah terlebih dahulu mengumpulkan pengalaman mengelola organisasi yang sifatnya nyaris sama.

“Sehingga tiga pimpinan ini punya kemiripan dalam hal pengalaman mengelola sektor publik. Sekalipun agak berbeda gaya kepemimpinannya, tetapi ada benang merah yang bisa dihubungkan dari tiga pepemimpin Balikpapan dari 30 tahun terakhir itu,” ujar Luthfi bercerita kepada Disway Kaltim, Minggu (30/5).

Dalam hal pembangunan, Rizal Effendi disebut sudah mendapatkan warisan yang bagus dari dua pimpinan sebelumnya. Dan di mata Luthfi, bekas wartawan itu berhasil memertahankan prestasi pembangunan itu hingga menyelesaikan periode keduanya.

Meskipun, kata dia, di periode keduanya tantangan semakin besar. Terutama perubahan politik yang semakin dinamis, kemudian ada rencana pemindahan ibu kota negara (IKN). Lalu pandemi COVID-19 yang melanda di akhir periode terakhir ini.

“Untungnya Pak Rizal punya background cukup bagus tadi. Sehingga tata kelola Balikpapan, sekalipun itu terpengaruh cukup besar efek berbagai tantangan diakhir periode tadi. Tetapi Pak Rizal tetap punya kemampuan membawa roda pemerintahan di Balikpapan on the track,” lanjut Luthfi berbicara. Kendati ia tak menampik tetap ada kekurangan dalam 10 tahun masa kepemimpinannya.

balikpapan

Luthfi Wahyudi

Beradaptasi dengan IKN

Luthfi mengatakan, kemampuan memimpin daerah yang walaupun sudah diwarisi dengan tata kelola yang baik juga butuh kepiawaian. Sebab menurutnya, jika tidak bisa mempertahankan kondisi itu, justru akan menjadi semakin runyam.

“Nanti akan mencolok, ketika kepemimpinan sebelumnya bagus, kemudian periode berikutnya enggak bagus akan terlihat sangat kontras. Akan terasa, walau sedikit saja mengalami penurunan,” ungkapnya.

Dalam hal ini, akademisi Unmul itu mengapresiasi keteguhan wali kota Balikpapan purna tugas, dalam mempertahankan tata ruang wilayah kota yang dianggap sudah bagus. Rizal Effendi dalam 10 tahun telah membuktikan, bahwa ia menjaga komitmen Balikpapan bebas aktifitas tambang batu bara.

Menurut Luthfi, itu sebuah prestasi yang patut dibanggakan. Melihat hampir semua kabupaten-kota di Kalimantan Timur tergoda cuan besar dari jual beli emas hitam itu.

“Tidak mudah mempertahankan tata kelola wilayah seperti Balikpapan. Karena hampir semua daerah mengandalkan tambang batu bara sebagai sumber ekonomi utama. Tapi Balikpapan bisa melewati ujian itu. Mungkin terengah-engah dari sisi pendanaan, tetapi masih bisa bertahan,” tuturnya.

Di samping itu, Balikpapan dibawah kepemimpinan Rizal, dinilai sebagai daerah paling siap dalam beradaptasi dengan rencana pemindahan IKN, di antara daerah calon penyangga lain.

Beban Saudagar

Rahmad Mas’ud, yang dilantik sebagai Wali Kota Balikpapan kemarin, berangkat dari latar belakang berbeda dari para pendahulunya. Tetapi, ia sudah menghabiskan lima tahun belajar ketika mendampingi Rizal Effendi dalam periode 2016-2021. Paling tidak ia seharusnya sudah beradaptasi dengan cara kerja birokrasi.

“Tetapi sekali lagi, disadari atau tidak, diakui atau tidak, background itu, akan menjadi style ketika seseorang menjadi pemimpin,” ucap Luthfi Wahyudi, pengajar di Fisipol Unmul.

RM, sapaan Rahmad Mas’ud, berasal dari latar belakang pengusaha. Dia menjadi politisi dengan cara yang terbilang instan. Dalam arti tidak melalui jalur yang gradual. Ia terjun ke politik langsung memimpin partai di daerah.

“Dan itu bisa memengaruhi bagaimana ia nanti akan memimpin. Artinya orang yang meniti karier dari bawah dengan jalur yang langsung, punya style yang berbeda. Walaupun tentu tidak seluruhnya,” ulas Luthfi.

Ia mengatakan, RM ketika terpilih sebagai Ketua DPD Partai Golkar Balikpapan, terlebih dahulu mendapat diskresi di pimpinan pusat partai tersebut. Sehingga ia tak perlu harus berkeringat melalui proses kaderisasi partai politik secara alami. Itu hal yang sangat bisa memengaruhi, gaya dan kematangan dalam memimpin, sebutnya.

Yang kedua, lanjut Luthfi, dengan latar belakang pengusaha, kalau tidak didampingi dengan wakil yang mampu menyelami irama dan ritme kerja birokrasi, maka, tidak menutup kemungkinan RM akan mengalami kesulitan dalam memimpin roda pemerintahan. Bahkan untuk sekadar tetap mempertahankan keunggulan Kota Beriman seperti saat ini. “Itu tentu menjadi beban,” imbuhnya.

Beban kedua, yakni warisan kinerja mentereng dari tiga pemimpin sebelumnya. Hal itu menurut dia, juga perlu kemampuan yang mumpuni untuk meningkatkan. Bahkan untuk sekadar mempertahankan dari kondisi 30 tahun terkahir.

“Barangkali itu tantangan pertama yang harus dijawab oleh pak RM.” “Karena menurun sedikit saja, itu pasti dapat dirasakan oleh masyarakat Balikpapan. Dan bisa dinilai oleh penduduk sekitar Balikpapan.” tambahnya.

Masyarakat Balikpapan dalam lima tahun ke depan akan diuji, ibarat manusia yang terbiasa hidup mapan. Jika kemudian terjadi sedikit saja goncangan, itu pasti akan dapat dirasakan. Di sisi lain, Luthfi melihat, RM dari rekam jejaknya selama ini, belum ada yang menunjukkan bahwa ia teruji memimpin organisasi yang murni publik.

Ia mengatakan, bisa jadi selama menjadi wakil wali kota membuatnya belum mampu terlihat menonjol. Dan tertutupi dengan kinerja wali kotanya. Maka, pembuktian besarnya adalah setelah ia menjabat sebagai wali kota definitif.

“Tetapi secara teoritik, bahwa ada tantangan-tantangan tertentu yang sampai saat ini, secara track record belum dibuktikan oleh Pak RM. Jadi tantangannya membuktikan dirinya mampu mempertahankan warisan yang bagus itu,” ulas pengamat politik di Kaltim itu.

Tantangan lainnya, bagi Rahmad Mas’ud ialah kenyataan bahwa Rizal Effendi adalah pemimpin yang didengar dan disayang oleh masyarakat Balikpapan. Itu adalah bentuk keyakinan masyarakatnya terhadap Rizal Effendi.

Hal itu, tentu akan semakin menjadikan proses pembuktian diri bagi Rahmad Mas’ud nanti.  Tetapi, menurut Luthfi lagi, publik Balikpapan boleh saja berharap-harap cemas melihat situasi yang ada dan kondisi politik yang melingkupi Rahmad Mas’ud.

Sebab, RM adalah politisi dan birokrat yang dibesarkan di sektor privat. Yakni ia matang dalam mengelola bisnis dan usaha keluarga besarnya. Hal itu, tentu memiliki nuansa berbeda dengan mengelola sektor yang lebih luas dan terbuka.

“Jadi, kalau Pak RM tidak belajar cepat dari lima tahun menjadi wakil, ada kemungkinan dia mengalami kegagapan dalam mengelola birokrasi. Biar bagaimanapun birokrasi punya ritme dan irama tersendiri, punya karakteristik sendiri yang amat sangat berbeda dengan tata kelola perusahaan.”

“Tetapi mudah-mudahan tidak terbawa ke gaya memimpinnya. Kita mendorong supaya publik mendapat menu-menu kebijakan yang berpihak,” pungkasnya.

Modal Bisnis

Sementara mantan Wali Kota Balikpapan, Rizal Effendi optimistis penggantinya mampu meningkatkan perekonomian. Pernyataan itu disampaikannya dalam acara pamitan dengan ASN, pekan lalu.

“Pak Rahmad adalah pebisnis, beliau paham ekonomi. Karena itu, saya yakin bisa membangkitkan ekonomi Balikpapan,” katanya. Situasi ekonomi merupakan persoalan utama yang harus dibereskan saat ini sebagai dampak pandemi global.

Pandangan serupa diutarakan Adi Supriadi. Sekretaris Tim Pemenangan RM mengatakan, kapasitas, kompetensi dan pengalaman Rahmad Mas’ud cukup menjadi modal memimpin Balikpapan.

Adi mengatakan latar belakang RM sebagai pengusaha, justru akan menjadi nilai tambah dalam menjalankan roda pemerintahan.  Ia berkata, kelebihan dari latar belakang pengusaha ialah, ia memiliki kecenderungan lebih cepat dan praktis dalam mengambil keputusan.

Sementara dalam tatanan birokrasi di Indonesia selama ini, menurutnya cenderung lebih lambat dalam hal eksekusi kebijakan.

“Dengan background pengusaha, serta karakter dan mindset beliau yang mau bergerak cepat mengeksekusi kebijakan, saya kira itu menjadi nilai lebih bagi pemerintahan kota Balikpapan di bawah pimpinan Pak Rahmad Mas’ud nantinya,” kata Adi. “Makanya, tadi saya katakan, bahwa kapasitas pribadi sebagai pengusaha itu menjadi modal untuk mengakselerasi berbagai program sehingga Balikpapan akan menjadi lebih baik ke depan,” tuntasnya. (*)

 

Pewarta: Darul Asmawan 

Leave A Reply