alexa
ngopi

Aktivis: Waspadai Banjir Samarinda Sepekan ke Depan

Samarinda, nomorsatukaltim.com – Aktivis lingkungan mengeluarkan pernyataan waspada banjir Samarinda dalam sepekan ke depan. Pemerhati lingkungan Krisdayanto mewanti-wanti kemungkinan adanya banjir di Samarinda dalam 5-7 hari ke depan. Atau paling tidak, ada potensi kenaikan permukaan air Sungai Mahakam. Beserta anak-anak sungai itu di Samarinda. Dan itu bisa menggenangi permukiman di bantarannya.

Pesan peringatan dini banjir Samarinda itu, dimuat Kris, sapaannya, di akun media sosialnya. “Melak (wilayah di Kutai Barat) mulai naik, biasanya selisih ke Samarinda sekitar 5-7 hari, proses trasfernya,” cuit Kris di akun facebook.

“Siklon tropis masih menghantui wilayah Kaltim. Puncak purnama di tanggal 28 Mei. Yang rumahnya tergenang pada DAS Mahakam dan anak-anaknya, untuk tetap waspada,” tambah pegiat Gerakan Memungut Sampah Sungai Karang Mumus, itu.

Dalam wawancara dengannya, Selasa (18/5/2021) malam, beberapa jam setelah postingan itu, Disway Kaltim memeroleh penjelasan begini; ukuran 5-7 hari itu adalah metode lama. Jika di bagian hulu Sungai Mahakam, yakni Kutai Barat, Kutai Timur dan Kutai Kartanegara banjir, maka biasanya permukaan Sungai Mahakam di Samarinda akan ikut naik, meninggi pada lima hari setelahnya. “Hari ke 5-an ke atas,” kata dia melalui pesan singkat.

Urutan aliran Sungai Mahakam dalam perhitungan Kris, yaitu melalui Kubar, Kutim, Kukar dan terakhir Samarinda. Sementara, karena elevasi Sungai Mahakam landai. Maka, proses transfer air luapan atau tingginya debit air tersebut, butuh waktu yang lumayan lama. Hal ini berbeda dengan sungai-sungai yang ada di Pulau Jawa.

Baca Juga:  Soal Banjir, Pokja 30 Kritik DPRD Samarinda

“Indikatornya, kalau di hulu sudah mulai banjir. Berarti kita bisa mulai menghitung itu sampai ke hilir,” jelasnya.

Di samping itu, dalam membuat prediksi, Kris juga memperhatikan tabel pasang surut air laut. Di tambah prakiraan cuaca atau curah hujan selama beberapa hari. Terutama di daerah-daerah yang dilintasi Sungai Mahakam dan anak-anak sungainya.

Untuk diketahui, sejumlah wilayah di Kutai Barat dan Kutai Timur bagian tengah yang berada di pesisir Sungai Mahakam mulai terendam banjir, sejak Selasa (18/5/2021). Informasi tersebut juga disampaikan Kris dalam cuitannya.

Kondisi itu memang tak lepas dari tingginya curah hujan dalam sepekan terakhir. Yang sebelumnya telah diprakirakan BMKG dan BNPB. Sementara otoritas Pemda Kutai Barat, pada Senin (17/5/2021) telah mengeluarkan edaran. Mengimbau warga untuk mengantisipasi kemungkinan dampak tingginya curah hujan. Yakni banjir di sepanjang wilayah yang dilalui Sungai Mahakam.

Sementara berdasarkan perhitungan, pasang air laut akan terus meninggi seiring bulan dalam proses menuju purnama. Kenaikan permukaan air laut mulai menjak drastis pada 24 Mei 2021, yaitu berada di kisaran 1,6 meter. Pada 20 Mei 2021 posisi pasang air laut berada di kisaran 2 meter. Sementara saat bulan penuh 26 Mei 2021, kenaikan air laut di atas 2 meter. Dan puncaknya terjadi pada 28 Mei, kenaikan hampir 2,4 meter.

Baca Juga:  Segiri Mulai Dibongkar, Akankah Samarinda Tidak Banjir Lagi?

Air pasang yang masuk ke Sungai Mahakam lalu bertemu debit air yang tinggi dari hulu berpotensi besar menyebabkan luapan sungai. Sebab titik temu antara air laut yang masuk dan aliran dari hulu ada di sekitar Samarinda dan Kukar.

Kris, masih akan terus mengamati dan menganisilis perkembangan situasi ini. Ia memang gemar melakukan itu. Memperhatikan kecenderungan penyebab siklus banjir tahunan. Mulai dari aliran sungai, cuaca, sampai pasang surut air laut yang mengintrusi aliran Sungai Mahakam.

Dia bilang, dalam tiga hari ke depan, bisa dilihat. Apakah permukaan air Sungai Mahakam di Tenggarong, Kukar naik. Atau justru tidak. Itu adalah poin perhitungan kritis. Sebab jarak kedua daerah sudah sangat dekat. Jika terjadi kenaikan, maka potensi banjir Samarinda semakin nyata.

Aliran Sungai Mahakam sebelum sampai ke Tenggarong, terlebih dahulu melimpas ke Danau Semayang, di bagian hulu daerah tersebut, berbatasan dengan Kubar dan Kutim. Jika debit air masih cukup tinggi, besar kemungkinan merembes turun ke daerah hilirnya; Samarinda.

Baca Juga:  Normalisasi SKM Terkendala Lambatnya Proses Relokasi Warga

Terakhir dia menjelaskan, ada beberapa kombinasi parameter penyebab banjir di Kota Tepian. Yakni meningkatnya permukaan aliran Sungai Mahakam dari hulu. Kemudian pasang air laut yang mengintrusi sungai. Lalu tingginya curah hujan pada Daerah Aliran Sungai (DAS) Karang Mumus dan Karang Asam (anak Sungai Mahakam) di ibu kota provinsi Kaltim itu. (das)

Simak video terbaru dari Nomor Satu Kaltim:

Leave A Reply