alexa

Dzeko; Bintang Sisa Perang Balkan

Oleh: Ahmad Agus Arifin

Samarinda, nomorsatukaltim.com – Bohong jika penggemar olahraga sepak bola tak kenal Edin Dzeko. Ia bisa dikenali sebagai permatanya Bosnia, penyerang tangguh di awal era emas Manchester City, atau bahkan penyerang hebat ‘tim penggembira Serie A’ AS Roma. Terserah saja. Yang jelas, Dzeko adalah bintang besar. Tapi tahukah, ia bisa saja tak berakhir seperti ini jika tak bersembunyi di ruang bawah tanah ketika perang di negaranya pecah. Dzeko adalah serpihan perang Balkan. Prosesnya menjadi pesepakbola handal dicatat sejarah sebagai ‘mahakarya’, mengapa?

Di era ketika produsen ponsel pintar sudah menjual charger secara terpisah. Perang masih saja diciptakan dengan berbagai alasan. Baik untuk menciptakan kedaulatan. Atau sekadar membuat penjualan pabrik senjata tak kendur.

Sebut saja dalam sedekade teranyar, puluhan ribu nyawa tak tahu apa-apa jadi korban perang. Mereka meregang nyawa terhunus peluru dan lemparan bom.

Itu artinya, ada banyak calon bintang besar yang tak berkesempatan mencapai titiknya. Dari yang terbunuh itu, bisa saja ada si jenius penemu sepeda motor yang bisa terbang. Penemu obat biduran sekali oles sembuh. Calon presiden. Atau mungkin calon bintang sepak bola yang akan menjadi the next Messi dan Ronaldo di masa mendatang. Bisa saja.

Apa yang dialami oleh Edin Dzeko adalah representasi dari kemungkinan itu. Bintang AS Roma itu menjalani hari-hari sulit saat usianya masih 6 tahun hingga 4 tahun setelahnya.

Dzeko memang sudah keranjingan sepak bola sejak bocah. Ayahnya senang saja melihat itu. Karena sang ayah, Midhat Dzeko adalah pemain sepak bola amatir. Dan instingnya bahwa anak lelakinya akan jadi pemain besar, ia pupuk.

Sejak belia, Midhat tak pernah absen mengantar Edin berlatih sepak bola di stadion kecil di Sarajevo, Yugoslavia. Walau itu artinya, ia harus rela tak istirahat sepulang kerja demi mengantar Edin menempuh perjalanan satu jam via bus dan kereta.

Tahun 1992, segalanya jadi berbeda. Bosnia & Herzegovina ingin merdeka dari Yugoslavia. Perang pun jadi jalur tempuhnya. Perang yang berakhir pada 1995 itu menjadi hari-hari buruk bagi Edin Dzeko.

Ia harus mengungsi ke rumah kakeknya. Bukan di rumah pada umumnya. Namun di ruang bawah tanah. Di sela waktu, Edin bermain sepak bola bersama rekan bocahnya di pinggir-pinggir jalan. Orang tuanya membiarkan saja.

Tapi ketika sirene kota berbunyi, salah satu dari ayah atau ibunya akan menghambur keluar rumah. Mencari Edin, dan cepat menariknya ke ruang bawah tanah. Selalu seperti itu.

Baca Juga:  Milan Menang, Lazio Kehabisan Bensin

Suatu ketika, ketika perang baru awal terjadi. Midhat akan mengantar Edin ke stadion. Tapi Belma Dzeko, sang ibu, punya firasat buruk. Dia melarang dua lelakinya itu pergi. Baru pada esoknya, ketika keduanya ke stadion. Didapati tempat latihan sederhana di kota tersebut telah remuk redam. Bom telah menghancurkannya. Andai firasat Belma diabaikan, kita akan tahu apa yang terjadi setelahnya.

“Selama terjadi perang, saya mengalami masa ketika harus berhenti main bola di jalanan ketika sirene berbunyi.”

“Saat berusia 6 tahun, saya memang cukup tahu atas apa yang terjadi. Namun, tak berpikir terlalu jauh juga.”

“Namun, orang tua saya yang selalu khawatir. Tanpa mereka, mungkin saya tak di sini seperti sekarang.”

“Segalanya telah hancur. Tak ada lagi yang tersisa, termasuk untuk lapangan sepak bola.”

“Ketika itu, saya ingat ayah membawa saya ke klub Zeljeznicar untuk berlatih dan perlu gonta-ganti bus dan kereta untuk sampai.”

“Kami berlatih di lapangan sekolah karena stadion kecil klub tersebut telah hancur,” kenang Dzeko dinukil dari laman resmi AS Roma.

Singkat cerita, perang berakhir. Bosnia merdeka. Dzeko selamat dari maut. Hidupnya belanjut. Dan tentu, bermain sepak bolanya pun berlanjut. Midhat masih jadi ayah yang sama. Masih selalu mengantar Dzeko berlatih sepak bola.

Suatu ketika pada tahun 2003, penantian Edin Dzeko sejak bergabung dengan Zeljeznicar junior pada 1996 kesampaian. Ia mendapat ganjaran kontrak profesional pertamanya. Dzeko masuk tim utama. Prosesnya, sungguhlah tak disangka.

“Ketika itu, kami tengah berada di pusat perbelanjaan. Lalu, ada telepon dari pelatih bahwa saya akan bermain untuk tim utama besoknya.”

“Begitu saya memberi tahu kepada ayah, dia langsung terkejut dan menanyakan kapan, di mana, dan lawan siapa,” kenangnya sambil tersenyum haru.

Ia mengingat momen ketika ayahnya menjadi ‘gila’ karena sang anak telah menjadi pemain profesional. Sebagai salah satu kisah terbaik dalam hidupnya. Ia tahu betul kebanggaan sang ayah. Seorang pria yang telah menemaninya di setiap momen sepak bola bahkan kehidupannya itu. Cara Midhat membentuk Dzeko sebagai pesepakbola adalah mahakarya!

“Ayah selalu ada sejak saya melakukan langkah pertama. Setiap latihan usai perang pun, kami ke mana-mana selalu bersama,” ujarnya.

“Masa kanak-kanak saya sudah menjadi masa lalu. Itu sangat sulit, tapi saya bukan satu-satunya yang mengalami hal seperti itu.”

“Di Bosnia, perang itu terjadi ketika saya berusia 6 tahun sampai saya berusia 10 tahun. Sangat sulit untuk keluar rumah, melakukan apapun atau menjalani kehidupan normal. Itu saya masih sangat muda. Sekarang sudah berakhir. Saya tak ingin membicarakannya terlalu banyak,” kata Dzeko dikutip dari panditfootball.

Memulai dari Gelandang Serang

Dzeko
Dzeko, kelima dari kanan barisan atas.

Zeljeznicar adalah awal mula Dzeko memulai karier sepak bolanya. Namun ternyata, bukan tempat terbaik untuk mengantarkannya menjadi seorang bintang lapangan hijau.

Baca Juga:  CATATAN: ATALANTA LUAR BIASA

Sebabnya, di klub Bosnia itu, Dzeko –sejak akademi- tidak dijadikan seorang penyerang. Melainkan sebagai gelandang serang. Padahal posturnya sangat tinggi. Kini ia memiliki tinggi 193 sentimeter. Tinggi menjulang itu sudah terjadi sejak remaja. Ia tampak paling tinggi di antara rekan seusianya.

Namun jika idealnya pemain paling tinggi dijadikan penyerang. Karena ada jaminan bisa menyundul bola dengan mudah. Dzeko malah mendapati hal sebaliknya. Tak sekalipun ia dijadikan penyerang tengah.

“Saya bukan pemain besar yang disuruh untuk menyundul bola. Di awal karier saya, saya bermain di belakang penyerang dan di tengah.”

“Saya bisa bermain di sayap kiri dan kanan, bahkan sedikit lebih ke belakang (wing-back). Semua terserah pelatih. Saya tahu kemampuan saya, dan saya tahu apa yang bisa saya lakukan,” ujar Dzeko seperti yang dikutip Mirror.

Babak barunya sebagai penyerang handal akhirnya didapati setelah ia merantau ke Ceko. Untuk membela Teplice, pada usia 19 tahun. Di sana, Dzeko mulai ditempatkan sebagai penyerang.

Menjalani peran berbeda namun sesuai passion-nya, Dzeko mengukir 45 penampilan dengan raihan 16 gol dan 3 asis untuk Teplice. Ketajamannya kian menanjak ketika membela Wolfsburg. Dari 142 penampilan di seluruh ajang untuk klub Jerman tersebut. Dzeko mencetak 85 gol dan 35 asis. Wow!

Kemampuannya itu menjadi magnet untuk tim semenjana Inggris, Manchester City yang saat itu baru diambil alih oleh juragan minyak dari Timur Tengah. Di proyek awal City menjadi raksasa Eropa itu, Dzeko masuk dalam skuat pelopornya. Di sana, ia membuat 189 penampilan di semua ajang. Mencetak 72 gol dan 39 asis.

Tapi karienya di Inggris tak berlangsung begitu lama. Moncernya Sergio Aguero memaksanya lebih banyak duduk di bangku cadangan. Dan akhirnya memilih melanjutkan hidupnya yang istimewa itu di AS Roma. Sampai berita ini dibuat, Dzeko telah 259 penampilan di semua ajang. Dan membuat 119 gol dan 54 asis.

Saat ini, Dzeko memang tidak memenangi trofi yang sepadan dengan kemoncerannya. Seiring AS Roma yang terus tampil memble saban tahunnya. Tapi itu tetap tak menghapus catatan bahwa Edin Dzeko adalah seorang bintang besar.

Baca Juga:  Roma Perpanjang Peminjaman Mkhitaryan

Apalagi di negaranya, Dzeko mendapat julukan istimewa, Diamond. Di jalanan, orang-orang Bosnia memanggilnya demikian. Di rumah pun sama. Saking dianggap hebatnya pemain 35 tahun itu di negara kelahirannya.

Julukan itu ia dapatkan setelah membawa harum nama Bosnia dengan menjadi juara Bundesliga bersama Wolfsburg. Juara di berbagai kompetisi bersama Man City. Sampai menjadi kapten Timnas Bosnia di ajang internasional.

Belum lagi ia pernah menjadi top skor Bundesliga, DFB Pokal, Liga Europa, Piala Liga Inggris, hingga terakhir top skor Serie A. Ia juga pernah meraih gelar pemain terbaik Bosnia tiga kali pada 2009, 2010, dan 2012.

Dilaporkan panditfootball, kemampuan Dzeko telah diakui oleh seantero Bosnia, tanah kelahirannya. Meski sempat diolok-olok dengan sebutan “Cloc” yang artinya “Stik Kayu Besar“. Gegara penampilannya di awal karier yang tidak terlalu impresif, kini ia dijuluki dengan “Diamant” yang dalam bahasa Inggris “Diamond” alias berlian dalam Bahasa Indonesia.

“Di rumah saya dipanggil Diamant. Mereka tidak memanggil saya `Edin` atau `Dzeko`. Hanya Diamant dan itu sangat spesial buat saya,” ujar Dzeko.

“Panggilan itu bermula pada 2009 ketika saya mencetak salah satu gol terbaik saya selama membela Bosnia, melawan Belgia.”

“Ketika itu komentator di Bosnia menyebutnya seperti itu. Sekarang ketika orang-orang melihat saya di jalanan mereka memanggil saya dengan sebutan itu. Saya tahu saya sudah melakukan sesuatu untuk negara saya, dan itu membuat saya bangga.”

Dzeko bukan satu-satunya pemain bintang yang berasal dari korban perang. Sangat … sangat banyak pemain bintang dari belahan Eropa dan Afrika yang memulainya dengan cerita hampir serupa.

Harusnya kisah-kisah mereka yang bertebaran di internet itu. Menjadikan para pembuat perang sadar. Dunia tanpa perang akan lebih indah. Itu saja. (ava)

Simak video terbaru dari Nomor Satu Kaltim:

Leave A Reply