alexa

Pertentangan Abimana saat Jadi Dono di Warkop DKI Reborn

Samarinda, nomorsatukaltim.com – Warkop DKI Reborn diketahui jadi box office karena laku keras. Abimana Aryasatya cukup sukses memerankan karakter Dono. Namun di balik itu, ada kerja keras dan pertentangan yang dilakukannya. Begini ceritanya.

Satu cerita menarik juga saat Abimana diminta keterlibatannya di film Warkop DKI Reborn. Ketika itu Abimana tengah terikat kontrak eksklusif dengan sebuah rumah produksi. Tiba-tiba si empunya PH bilang mau bikin film Warkop DKI. Abimana antusias, dan yakin kalau film tersebut jaminan box office. Dia mendukung penuh wacana itu, tanpa berpikir bakal diajak bermain.

Waktu berselang, pemilik PH tersebut menelepon Abimana. “Lu kalau misalnya di Warkop (peran) siapa yang lu pilih?”

“Yang menurut lu gak bisa yang mana? Yang gua gak mungkin bisa?” Abimana membalik pertanyaan.

“Dono,” jawab pemilik PH. “Yaudah gue jadi dia,” tuntas Abimana tanpa pikir panjang.

Alasan Abimana adalah ia pengen menantang dirinya. Untuk mendapat peran yang teramat sulit untuk ditaklukkan. Dono adalah karakter yang tentu sangat sulit diperankan. Selain perawakan yang sudah sangat melekat, nama besar sang comedian di benak penggemarnya pasti akan memberi konsekuensi besar pada siapa saja yang akan menjadi bentuk imitasinya di Warkop DKI. Abimana sadar akan hal itu.

Indro Warkop awalnya keberatan. Karena konsep awalnya adalah 3 pemeran karakter Dono, Kasino, Indro di Warkop DKI Reborn bakal di-sett memiliki perawakan yang sama persis seperti film terdahulu. Tentu saja, Abimana tak memiliki syarat yang ideal menjadi Dono.

Baca Juga:  Jalan Panjang Abimana Jadi Aktor Beken, dari Jadi Kru hingga Jual Burger

“Tenang aja, Pakde. Kadang-kadang pendekatan akting itu bukan hanya fisik,” Abimana coba meyakinkan Indro Warkop.

Ketika mengikuti rule awal, Abimana merasa kesulitan akting karena mukanya harus dipermak habis. Agar bisa menyerupai Dono. Abimana lalu protes. Kenapa harus mengikuti luarnya saja, alias secara fisikal. Ia tahu sebenarnya itu cara paling mudah untuk sebuah proyek film remake. Tapi baginya, itu enggak dia banget.

“Kalau gua bilang, pendekatan akting itu harusnya rasa. Dari dalam. Pelan-pelan jadi enggak kerasa antara itu gua atau itu Dono,” jelasnya.

Akhirnya konsep diubah, mengikuti saran dari Abimana. Sudah mendapat apa yang ia inginkan, tak lantas membuatnya tenang. Karena setelah itu, tuntutan besar tentu mengarah padanya. Abimana harus bisa sukses jadi Dono versi Abimana sendiri.

Riset panjang ia lakukan. Sampai akhirnya, Abimana mengambil satu spot yang bisa digali. Yaitu vokal Dono. Setelah menonton semua film Warkop DKI. Abimana merasa beruntung karena ternyata pendekatan vokal Dono yang medok ala Jawa cukup mudah untuk ditiru. Dibanding karakter vokal Kasino yang sangat sulit menurutnya.

Baca Juga:  Jalan Panjang Abimana Jadi Aktor Beken, dari Jadi Kru hingga Jual Burger

Tak puas dari hanya menonton film dan wawancara dengan Indro Warkop, Abimana sampai melakukan riset ke keluarga mendiang Dono. Yang ternyata, ketika di rumah, Dono adalah pribadi yang lain. Bukan sebagai sosok jenaka, malah sebagai ayah dan suami yang sangat serius dan tegas.

Setelah mendapat titik terbaik soal vokal. Abimana kembali mencari apa saja yang menjadi kelebihan Dono. Yang ternyata adalah gigi dan gestur. Itu yang kemudian ia pelajari dengan sungguh-sungguh.

“Gue tanya ke Pakde (Indro). Dia (Dono) kenapa sih suka pegangan tangan (di film). Apa sengaja bentuknya kaya gitu?”

“Kagak. Dia itu punya asam urat. Makanya kalau habis makan dia sakit. Jadinya kaya gitu,” jawab Indro yang ditirukan oleh Abimana.

Hal lain yang jadi keuntungan Abimana adalah ternyata Dono juga gugupan. Sama seperti dirinya. Kerja keras melakukan riset itulah yang kemudian mengantarkannya sukses memerankan Dono. Dono versi Abimana.

Sementara disinggung soal Gundala. Abimana menganggap penggarapan film itu sebagai yang terberat dari yang pernah dia jalani. Karena memang menggunakan banyak sentuhan teknologi. Serta tuntutan agar film super hero ala Indonesia ini tidak memiliki kualitas yang jomplang dengan film super hero Holywood.

Gundala masih banyak yang harus diperbaiki. Kalau gua ya. Gua sama Joko juga sepakat bahwa ini harusnya jadi pembukanya Jagat Bumi Langit. Minimumnya (serial Bumi Langit) itu harus seperti Gundala,” pungkas Abimana.

Baca Juga:  Jalan Panjang Abimana Jadi Aktor Beken, dari Jadi Kru hingga Jual Burger

Sebagai kesimpulan, Abimana, seperti halnya aktor papan atas lainnya. Tidak melalui proses mudah untuk jadi aktor ternama. Yang hanya modal tampang tampan saja. Ia harus bekerja keras belajar dan mendalami karakter apa saja yang akan diperankannya.

Soal pendidikan, di mana Abimana hanya selesai di kelas 4 SD saja. Ia tak mau itu ditiru. Toh, walau tidak sekolah, Abimana tetap belajar dengan sangat serius dari banyak praktisi film Tanah Air.

Tentunya, kesempatan seperti itu tak bisa didapat oleh semua orang. Jadi Abimana tidak ingin menyarankan calon pemain film ataupun seni lainnya untuk mengesampingkan pendidikan formal. (ava)

Simak video terbaru dari Nomor Satu Kaltim:

Leave A Reply