alexa
disway ntt malang

Truk Logistik 24 Jam Antre Biosolar, Distribusi Bahan Pokok Terancam Terhambat

BALIKPAPAN, nomorsatukaltim.com – Puluhan truk logistik mengular di sejumlah Staisun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU). Semuanya mengeluh soal lambannya pasokan BBM jenis biosolar bersubsidi.

Seperti di SPBU Baru Ilir, persis di samping Lapangan Poni, Balikpapan Barat. Puluhan truk itu parkir di tepi jalan sepanjang sekitar 200 meter sampai 300 meter. Bahkan truk terakhir dalam antrean itu sampai berada di samping Rumah Sakit Bersalin Sayang Ibu.

“Mau bagaimana lagi. Kita juga masih menunggu. Saya mulai malam tadi sudah antre,” ujar Bedu, salah satu sopir truk yang mengaku berasal dari Sulawesi, saat ditemui, Selasa (4/5/2021).

Bedu tidak sendiri, banyak sopir lain yang mengeluhkan hal serupa. Rata-rata mereka sudah menunggu antrean pengisina BBM selama satu harian. Padahal beberapa dari mereka sedang mengangkut bahan pokok.

Ketua Asosiasi Pengusaha Truk Indonesia (Aptrindo) Balikpapan Risman Sirait menyebut kondisi seperti itu bukan baru terjadi. Namun sudah berjalan sekitar dua bulan belakangan. Semua sopir truk itu bisa antre di SPBU sampai 24 jam. Bahkan ada yang dua hari dua malam.

“Sangat merugikan ini. Supir-supir kita sudah teriak-teriak,” ujarnya, saat dihubungi.

Kondisi ini tentu merugikan, katanya, lantaran rantai distribusi barang macet. Menurutnya proses distribusi itu dimulai dari pemasok, kemudian dibawa oleh para sopir truk logistik, diteruskan kepada distributor, sebelum akhirnya sampai di pasar atau di tangan masyarakat.

“Suplai arus barang pasti terhambat. Akhirnya nanti bisa menimbulkan inflasi di Balikpapan,” katanya.

Seharusnya, kata dia, semua stakeholder terkait memberikan atensi terhadap masalah distribusi solar bersubsidi dan memastikan bahwa BBM sampai tepat sasaran. Ia khawatir permasalahan ini berlarut-larut. Sebab sudah selama dua bulan ini para supir truk merasakan dampaknya.

Ia menyebut adapun dampak yang dirasakan sopir truk pengangkut logistik adalah konsekuensi penalti di pelabuhan. Jadi, setiap kontainer yang berada di pelabuhan peti kemas memiliki masa waktu tertentu atau istilahnya free time.

Jika melebihi waktu yang ditentukan maka akan dikenai penalti atau sanksi. Bisa jadi berupa denda. Jadi kalau truk terlalu lama antre BBM, maka proses bongkar muat juga terhambat.

“Tolong jangan dianggap remeh. Ini musim pandemi, sebentar lagi Lebaran. Jadi tolong pemerintah dan para stakeholder sama-sama saling bahu membahu, jangan sampai seperti ini,” imbuhnya.

Manager Communications, Relations and CSR Pertamina MOR VI Kalimantan, Susanto August Satria merespons keluhan para sopir dan Aptrindo Balikpapan. Menurutnya Balikpapan tidak kekurangan kuota BBM dan tidak ada kelangkaan biosolar. Hanya saja hingga saat ini terjadi pengalihan kuota biosolar dari SPBU di Kilometer 9 ke SPBU Kilometer 14, Karang Joang.

“Saat ini ada pengalihan kuota Biosolar. Sehingga tampak antrean truk di KM 14. Kita masih melakukan evaluasi untuk di SPBU Kilometer 9,” ungkapnya.

Menurutnya, kondisi pengalihan kuota biosolar tersebut sudah dilakukan sejak Oktober 2020 lalu. Kini pihaknya berencana bertemu dengan pihak Aptrindo Balikpapan, untuk mencari solusinya agar proses distribusi BBM bisa lancar dan tidak terjadi penumpukan antrean.

“Kita akan mendiskusikan terkait hal ini dengan ketua Aptrindo,” imbuhnya. (ryn/eny)

Simak video terbaru dari Nomor Satu Kaltim:

Leave A Reply