alexa
disway ntt malang

Bikin Turnamen e-Sport; ESI dan IESPA Tekankan Kolaborasi

Menelisik Sengkarut Turnamen e-Sport (Bagian 3-Selesai)

Perkara pembayaran hadiah turnamen dan gaji klub e-Sport di Kaltim belakangan ini. Bisa menjadi batu loncatan bagi cabor ini. Untuk melangkah lebih jauh ke depan. Kaltim sangat bisa memiliki deretan player top di jalur prestasi ataupun profesional. Namun tergantung bagaimana memanajemennya. SDM di level penyelenggara dan regulator harus siap beriringan dengan pertumbuhan gamer, tentunya.

PADA bagian pertama dan kedua tulisan ini. Telah diulas bagaimana keterlambatan pembayaran hadiah turnamen bisa terjadi. Lewat pengakuan player yang bersangkutan. Serta sumbang saran dari pengamat olahraga, agar ke depan, organisasi e-Sport harus rajin mendampingi mereka yang berada di akar rumput. Kali ini, ESI Kaltim, ESI Balikpapan, dan IESPA Balikpapan akan berbicara soal bagaimana seharusnya kejuaraan digelar. Dan seperti apa pengelolaan klub profesional itu.

Dari 3 organisasi e-Sport yang diakui di Indonesia. ESport Indonesia (ESI) dan Indonesia ESport Association (IESPA) memiliki eksistensinya di Benua Etam. Kedua organisasi ini cukup aktif menjalankan perannya masing-masing.

Seperti diketahui, ESI yang berada di bawah naungan KONI bertugas melakukan pembinaan atlet untuk jenjang prestasi. Maksudnya, via multi ajang sedari Porprov, PON, kejurnas di bawah kendali PB ESI, hingga Olimpiade. Sementara IESPA lebih ke arah pembinaan atlet profesional.

Punya dua organisasi besar yang eksis. Mestinya menjadi keuntungan tersendiri bagi player e-Sport serta penyelenggara kejuaraan. Karena ada badan regulator yang bisa digandeng sewaktu-waktu.

Dan sebaliknya, akan menjadi kekacauan jika penyelenggara memilih jalannya sendiri. Alias tidak melibatkan satu dari dua organisasi tersebut. Yang ujung-ujungnya, potensi keterlambatan pembayaran hadiah bisa terus terjadi. Bahkan pemain tidak memiliki landasan hukum saat ingin memperjuangkan haknya.

Persoalan pembayaran hadiah itu, sejatinya sudah sampai di telinga pengurus ESI Kaltim. Hanya memang mereka belum bisa berbuat banyak karena sejak awal tidak dilibatkan oleh penyelenggara.

Di ranah e-Sport jalur prestasi. Dikatakan Ketua Umum ESI Kaltim Brigjend TNI Moch. Amin melalui Sekum ESI Kaltim Hasbi Muhammad. Setiap kegiatan kejuaraan e-Sport itu bisa terlaksana bila dapat rekomendasi dari ESI selaku induk olahraga.

“Nanti pihak kepolisian boleh memberikan izin asal penyelenggara dapat rekomendasi dari ESI.  Jadi untuk menghindari kegiatan yang berimbas atletnya tidak tersampaikan hadiahnya dan lain-lain termasuk prestasinya tidak tercatat,” ujar Hasbi.

Jadi regulasinya jelas seperti itu. Tidak ada kejuaraan di jalur prestasi yang tidak melibatkan ESI. Kalau nekat, kerugian paling minimal adalah, atlet tidak terdata capaian prestasinya. Pun tidak masuk radar pembibitan atlet oleh ESI.

Sementara soal klub-klub e-Sport yang mulai menjamur. Serta kewajiban mereka membayar gaji pemainnya. Hal itu tidak lagi menjadi kewenangan ESI.

“Itu kemandirian klub, bagaimana mereka mau menggaji atau kerja sama dengan pihak sponsor. Itu urusan klub. Kita hanya mengurusi atletnya saja yang memang mau jalur prestasi,” tegasnya.

Beralih ke ESI Balikpapan, yang ketuanya cantik itu. Fathi Rezqi Utami. Dia menegaskan bahwa semua kejuaraan yang diselenggarakan ESI atau rekanannya. Tidak bakal dikenakan biaya pendaftaran. Sementara hadiahnya, telah ada yang menjamin.

Sehingga tidak ada cerita lambat membayar hadiah karena keterlambatan pembayaran biaya pendaftaran atau lainnya. Lagian menurut Tami, ESI bukanlah organisasi profit. Murni sebagai wadah bagi e-Sport, dalam hal ini player asal Balikpapan. Untuk menjadi pemain hebat di jalur prestasi.

“Untuk ESI Balikpapan, setiap turnamen yang diadakan tidak meminta uang pendaftaran. Karena ESI bukan lembaga profit, sama seperti cabor lainnya. Setiap ada event kejurkot, tidak memungut biaya pendaftaran,” tegasnya.

Seperti kejuaraan PUBG Mobile yang baru saja kelar. Sebagai penyelenggara, ESI Balikpapan tidak memungut biaya pendaftaran dari peserta. Terlebih pada turnamen tersebut juga merupakan pencarian atlet yang dipersiapkan untuk Pra Porprov. Bahkan hadiahnya pun langsung diberikan secara tunai.

Menutup perbincangan dengan nomorsatukaltim.com. Tami menegaskan pentingnya kolaborasi dengan organisasi e-Sport. Sesuai jalur masing-masing. Agar kerikil-kerikil seperti yang sempat terjadi belakangan, bisa dicegah sejak awal. Toh, akan lebih banyak keuntungan secara keolahragaan atau mungkin secara materil jika ada kerja sama antara penyelenggara dan regulator.

“Kami mempersilakan kepada siapapun untuk membuat event. Karena organisasi e-Sport di Indonesia ini bukan hanya ESI. Tapi kalau jatuhnya e-Sport sebagai olahraga prestasi ya harus menjadi tanggung jawab ESI. Karena hanya ESI satu-satunya organisasi esport yang diakui KONI,” tutup Tami.

Senada dengan dua pentolan ESI di atas, Ketua IESPA Balikpapan Yudistiro Mangkubuono sepakat. Bahwa kolaborasi adalah kunci. Untuk mengembangkan e-Sport di Bumi Etam.

ESI dan IESPA sudah mulai bersinergi. Untuk memainkan peran masing-masing. Sehingga dipastikan tak ada lagi perebutan kewenangan ataupun saling klaim prestasi atlet ataupun klub e-Sport.

Sekarang, kekompakan yang dibangun di jajaran organisasi itu. Harus pula diaplikasikan di level bawah. Yakni klub e-Sport. Pertama, mereka harus memilih mau berkarier di jalur mana. Ini adalah hal mendasar.

“Kita sama ESI akan bersinergi. Karena memang sudah arahan dari pusat. Jadi klub silakan menentukan pilihan. Kita selalu mendukung. Karena sayang kalau tidak diakomodir, apalagi secara prestasi banyak player di Balikpapan yang lumayan,” jelas Yudis.

Jika sudah memilih, jalur prestasi atau profesional. Barulah dilanjutkan dengan penjajakan selanjutnya. Yakni bersinergi dengan organisasi e-Sport yang sesuai dengan visi misi klub.

Bicara soal kejuaraan, berbeda dengan ESI yang menggratiskan pendaftaran karena sudah memiliki sumber dana tetap. IESPA, seperti kewenangan mereka. Setiap menggelar turnamen, selalu bersifat profesional.

Anggaran dari sponsor, termasuk juga uang pendaftaran dari peserta. Besar kecilnya hadiah, dikatakan Yudis. Tergantung pemasukan penyelenggara.

‚ÄúPrioritas utama (dalam turnamen) tentu hadiah. Kalau hadiah maunya bisa lebih besar, ada tambahan registrasi. Toh nanti kembali ke komunitas juga. Kalau pendaftaran free. Kita selalu cash and carry kalau berikan hadiah,” kata Yudis.

Disinggung soal imbauan jangan terlambat membayar gaji pemain. Yudis menegaskan bahwa itu tidak sepenuhnya terjadi. Karena dari data IESPA, di Balikpapan sendiri, belum ada klub profesional yang benar-benar pro. Namun ia sepakat jika imbauan itu adalah alarm positif bagi mereka yang berniat membentuk tim. Agar tidak asal-asalan.

“Selama ini belum ada kita klub yang sudah pro. Mereka pemberian gaji player juga belum ada yang berani. Karena mengelola klub e-Sport kan mesti butuh sponsor sebagai sumber dana,” lanjutnya.

Hanya saja, benih-benih klub e-Sport profesional di Balikpapan sudah mulai tumbuh.  Seperti Dewa United dan Bigetrons. Kedua klub tersebut dipercaya akan merangsang tim-tim lain untuk lebih serius membangun klub profesional. Yang kebanyakan saat ini masih berstatus komunitas atau klub non profesional.

Yudis tentu mendukung penuh jika di masa mendatang, klub profesional bakal banyak di Balikpapan ataupun Kaltim. Itu adalah sesuatu yang positif. Menandakan bahwa e-Sport sudah bisa menarik minat dunia industri. Namun pesannya, para pemilik klub harus paham cara mengelola klub profesional. Itu saja. (frd/fdl/ava)

Simak video terbaru dari Nomor Satu Kaltim:

Leave A Reply