alexa
  • disway
  • pemkab ppu
  • dprd ppu
  • pemprov
  • ngopi

Konflik Hadiah Kejuaraan e-Sport; Jangan Cederai Player yang Tertatih

Menelisik Sengkarut Turnamen e-Sport (Bagian 2-3)

Berangkat dari unggahan nomorsatuesport perihal ‘jangan lambat membayar 4 kewajiban’ di dunia e-Sport. Serta respons besar dari pemain dan tim yang mengaku kerap melihat kasus turnamen lambat membayar hadiah. Nomorsatukaltim.com berupaya mengulik lebih jauh sengkarut ini. Di seri pertama, kemarin, salah satu tim asal Samarinda mengakui telah menjuarai sebuah turnamen PUBG Mobile. Namun hingga 3 bulan, hadiah yang mereka tunggu belum juga hadir.

SEKALI lagi, keberadaan turnamen sangatlah penting. Bagi perkembangan olahraga e-Sport ataupun dari sisi bisnis. Keduanya bisa berjalan beriringan. Mendapat keuntungan bersama darinya. Makanya, jalannya harus dipastikan benar. Karena dari sesuatu yang saling menguntungkan, bisa pula menjadi sesuatu yang saling membunuh perkembangan.

Untuk gamer asal Samarinda, Muhammad Sultan Fajar. Keberadaan turnamen sangatlah diperlukan buat pemain gim. Dari kejuaraan kecil-kecilan itu. Mereka bisa mengukur sejauh mana kemampuan bermain gimnya. Untuk selanjutnya menjajalnya di turnamen yang lebih besar.

Dari kejuaraan di kafe pinggir Kota Samarinda. Bisa saja seorang pemain gim bermuara di Asian Games ataupun Olimpiade. Siapa yang tahu, kan?

Karier seorang player e-Sport kerap dimulai dari kejuaraan-kejuaraan kecil. Maka semakin banyak dan sering turnamen digelar. Semakin banyak pula panggung mereka untuk menjajal diri. Jika juara, hadiah yang dijanjikan penyelenggara adalah bonusnya.

Maka tak heran, banyak pemain yang mati-matian untuk mengikuti satu kejuaraan ke kejuaraan lain. Memaksa mereka bekerja lebih keras untuk memiliki amunisi untuk mendaftarkan diri di sebuah kejuaraan. Bahkan bagi mereka yang masih sekolah atau yang pekerjaannya belum bagus. Mereka sampai harus berhemat. Demi bisa bayar pendaftaran turnamen. Mereka ini tak jarang tertatih demi sebuah kejuaraan.

disway

“Teman-teman gamers ini kalau sudah main luar biasa antusiasnya, Mas. Saat kami masih eksis kemarin, sambil bermain itu kami juga latihan. Agar mendapat juara kan. Lumayan gede hadiahnya,” kata Fajar, 15 April lalu.

Gamers seperti saya ini apa sih tujuannya? Berharap juara dan dapat Hadiah. Kan lumayan gede juga tuh hadiahnya. Maka harus diperjuangkan,” tambahnya.

Disinggung soal keterlambatan pembayaran hadiah. Sejauh ini, Fajar belum pernah mengalaminya. Pun dengar isunya juga hanya samar-samar saja. Tapi ia tak bisa berbohong. Jika benar terjadi, atau bahkan terjadi padanya. Tentu ia akan uring-uringan juga.

Karena hadiah sebuah turnamen, besar kecilnya, tetaplah vital bagi seorang gamer. Terlebih bagi mereka yang tujuan ikut kejuaraan demi memburu hadiah. Dengan kata lain, hadiah itu, ibarat bensinnya. Jika tak ada, tak jalanlah mesinnya. Jadi ogah-ogahan lagi latihannya.

Fajar pun menggambarkan polemik ini dengan; hal itu bisa sangat melukai e-Sport yang masih bau kencur ini.

“Wah … ini. Misal itu terjadi ya, lomba e-Sport ini kan resmi. Berarti sudah barang tentu ada RAB-nya. Karena dalam satu event seperti itu pertama kali yang harus diamankan adalah uang hadiah. Supaya tidak terjadi keterlambatan.”

“Jangan sampai terjadi lah, itu fatal sekali, itu mencederai gamers yang kadang sudah cedera duluan, Mas. Ada loh yang sampai menggadaikan ponsel kecilnya untuk daftar main. Itu ada,” tambahnya.

Mengakhiri perbincangan dengan nomorsatukaltim.com. Fajar berharap EO yang ingin menggarap kejuaraan e-Sport. Untuk memperhitungkan dengan sangat matang dulu sebelum memulainya. Bahkan jika memang terjadi keterlambatan pembayaran pendaftaran atau sponsor. Mereka bisa berterus terang lalu menunda kejuaraan sampai segala sesuatunya beres. Jujur di depan tentulah lebih terhormat ketimbang main kucing-kucingan di akhir. Bukan begitu?

Jangan Dilepas Begitu Saja

e-sport
Dandri Dauri (kiri) saat berbincang dengan nomorsatukaltim.com di sebuah program siaran digital, tahun lalu.

PERKEMBANGAN pesat dan sengkarut yang mulai terjadi dinilai wajar oleh pengamat olahraga Samarinda, Dandri Dauri. Karena hampir semua cabor tentu punya masalahnya sendiri di awal-awal berkembang. Yang lebih penting dari itu adalah, bagaimana masalah demi masalah bisa direduksi. Dicarikan solusinya. Dan tidak terulang lagi.

Dandri percaya, antusiasme terhadap e-Sport tak akan bisa surut. Kecepatan inovasi teknologi, serta kemudahan yang diberikan pengembang gim. Membuat penggila permainan elektronik akan terus tumbuh setiap tahunnya.

Bahkan dengan dibayang-bayangi polemik di kejuaraan lokal. Di mana masih ada saja EO yang terlambat membayar hadiah untuk pemenang. Hal itu tak akan membuat gamers jera. Namun begitu, bukan berarti masalah seperti ini harus dibiarkan terjadi terus.

Walau bagi Dandri sendiri, e-Sport adalah hal baru. Karena hampir sebagian besar karier manajerial olahraganya banyak dihabiskan di sepak bola. Namun bukan berarti ia tak paham runutan kerja di cabor lain. Karena terakhir, Dandri menjabat sebagai salah satu wakil ketua KONI Samarinda.

Nah, soal turnamen e-Sport yang menyisakan masalah ini. Dandri punya gagasan. Lantaran e-Sport dinaungi oleh 3 organisasi resmi. Yakni Indonesia ESport Association (IESPA), Asosiasi Olahraga Video Game Indonesia (AVGI), dan ESport Indonesia (ESI). Organisasi terakhir adalah yang memiliki jenjang karier di multi ajang karena bernaung di bawah KONI.

Dengan begitu, untuk mencegah hal-hal yang tidak baik ke depannya. Antara pemain, penyelenggara kejuaraan, hingga organasi keolahragaan harus duduk bersama. Harus berjalan selaras. Saling memudahkan dan mendukung.

Menurut Dandri, andai pemangku organisasi e-Sport mau lebih sering ‘nongkrong’ bareng tim-tim lokal. Masalah seperti itu tidak akan terjadi. Iya, organisasi e-Sport harus hadir. Baik dalam masa pembinaan, ataupun saat kejuaraan berlangsung.

“E-Sport ini setelah menjadi cabang olahraga resmi, harus menjadi satu alat kerja yang mampu menarik minat milenial tentunya. Maksudnya teman-teman pengurus perlu mendampingi dan mengawasi sebuah event yang banyak diselenggarakan oleh event organizer sebagai penyelenggara pertandingan,” katanya, Jumat 16 April 2021 lalu.

“Jangan sampai kemudian penyelenggaraan event itu justru mematahkan semangat milenial untuk bertanding. Terlepas soal isu keterlambatan pembayaran hadiah dan sebagainya. Dan di sinilah saya berharap perlunya campur tangan pengcab atau pengkot e-Sport,” tambahnya.

Pendampingan itu dirasa perlu agar pengurus organisasi e-Sport paham apa yang terjadi di lapangan. Soal berapa besar minat anak muda terhadap olahraga ini. Soal apa saja yang jadi kendala. Soal progres player lokal yang potensial, harus melanjutkan karier ke mana. Dan soal-soal yang lain.

Begitu juga dengan para pemain. Mereka juga seyogyanya punya keterkaitan dengan organisasi e-Sport. Apalagi kalau sudah sampai membuat kejuaraan.

“Jadi apapun jenisnya olahraga yang bersifat permainan perlu diketahui oleh pengkot atau pengcabnya, sehingga ada monitor langsung yang diberikan. Hal ini juga supaya tidak terjadi masalah di kemudian hari. Karena teman-teman e-Sport ini memang sudah mewabah sangat hebat ya.”

“Karena memang kemudahan olahraga ini sangat terjangkau, tidak seperti sepak bola misalnya yang mebutuhkan lapangan dan biaya yang besar. Bermodal gadget dan pulsa sudah bisa ikut tanding kan.”

“Nah, tinggal cara kita mengapresiasi teman-teman milenial ini ya caranya dengan mendampingi langsung khusunya setiap ada kejuaraan yang diselenggarakan.”

Di luar dari polemik di kejuaraan lokal. Dandri berharap betul e-Sport bisa menjadi tulang punggung Kaltim, terutama Samarinda di multi ajang ke depan. Bisa jadi cabor andalan layaknya cabor beladiri.

Walau memang, untuk menuju ke sana butuh keseriusan. Karena yang dewasa ini terjadi, talenta-talenta emas Kaltim lebih memilih jalur solo. Sampai terkadang harus membela tim asal daerah non Kaltim. Karena merasa di daerahnya sendiri tidak terakomodir bakat mereka itu.

“Kita juga sangat berharap, agar ke depan e-Sport bisa menjadi salah satu penyumbang medali baik di level nasional bahkan internasional. Yang akan membawa nama baik Samarinda di dunia olahraga e-Sport ini,” harap Dandri.

“Beberapa waktu lalu saya baru saja ketemu sama anak-anak e-Sport Samarinda yang baru pulang dari Balikpapan. Mengikuti sebuah kejuaraan e-Sport dan mereka jadi pemenang.”

“Artinya, ini bagus sekali dan perlu dikembangkan lagi agar benar-benar menjadi lumbung emas bagi Samarinda juga Kaltim. Itu harapan saya,” pungkas Dandri.

Seperti diketahui, e-Sport sebenarnya memiliki kemiripan dengan sepak bola. Dalam hal jenjang karier pemainnya. ESI misalnya, adalah organisasi untuk mereka yang akan berkarier di multi ajang. Dari lokal hingga internasional (Olimpiade). Sementara IESPA lebih mengarah ke kejuaraan profesional. Yang jenjangnya juga hingga kejuaraan internasional.

Nah, selain bermain untuk nama sendiri. Para player juga diharuskan memiliki tim. Lalu, seperti apa sih perkembangan tim e-Sport di Kaltim? Apakah sudah ada atau bahkan banyak tim profesional. Besok, kita akan lanjutkan artikel ini dengan ESI dan IESPA sebagai narasumbernya. (frd/fdl/ava)

Simak video terbaru dari Nomor Satu Kaltim:

Leave A Reply