alexa
  • disway
  • pemkab ppu
  • dprd ppu
  • pemprov
  • ngopi

Tsunami COVID-19 di India Belum Berakhir

Seiring rumah sakit di banyak kota di India kehabisan tempat tidur, orang terpaksa mencari cara untuk mendapatkan perawatan bagi pasien yang sakit di rumah. Banyak yang beralih ke pasar gelap. Obat-obatan esensial, tabung oksigen, dan konsentrator melonjak, dan obat-obatan yang meragukan kini berkembang biak.

PADA Senin (26/4), India mencatat angka tertinggi global baru untuk kasus virus corona harian di hari kelima berturut-turut sebanyak 352.991 kasus.

Anshu Priya tidak bisa mendapatkan tempat tidur rumah sakit di Delhi atau pinggiran Noida untuk ayah mertuanya, dan seiring kondisinya terus memburuk. Dia menghabiskan sebagian besar hari Minggu mencari tabung oksigen. Tetapi pencariannya sia-sia.

Jadi, dia akhirnya beralih ke pasar gelap. Dia membayar jumlah yang lumayan besar: 50 ribu rupee (sekitar Rp 9,6 juta) untuk membeli tabung yang biasanya berharga 6.000 rupee (sekitar Rp 1,1 juta). Dengan ibu mertuanya juga berjuang untuk bernapas, Anshu tahu dia mungkin tidak dapat menemukan atau membeli tabung lain di pasar gelap.

Ini adalah kisah yang tidak asing. Tak hanya di Delhi. Tetapi juga di Noida, Lucknow, Allahabad, Indore, dan banyak kota lain. Keluarga pasien dengan putus asa menyusun ‘rumah sakit darurat’ di rumah.

Tetapi sebagian besar penduduk India tidak mampu melakukan ini. Sudah ada beberapa laporan tentang orang yang meninggal di depan pintu rumah sakit. Karena mereka tidak mampu membeli obat esensial dan oksigen di pasar gelap.

disway

BBC menghubungi beberapa pemasok tabung oksigen, dan kebanyakan dari mereka meminta setidaknya 10 kali lebih banyak dari harga normal.

Situasinya sangat mengerikan di Delhi. Tidak ada tempat tidur ICU yang tersisa. Keluarga dari mereka yang mampu menyewa perawat dan berkonsultasi dengan dokter dari jarak jauh. Agar orang yang mereka cintai tetap bernapas.

Tapi perjuangannya sangat besar. Mulai dari melakukan tes darah hingga mendapatkan CT scan atau x-ray.

Lab dibanjiri dan butuh waktu hingga tiga hari untuk mengembalikan hasil tes. Hal ini mempersulit perawatan dokter untuk menilai perkembangan penyakit. CT scan juga digunakan oleh dokter untuk menilai kondisi pasien. Tetapi butuh waktu berhari-hari untuk membuat janji.

Dokter mengatakan, penundaan ini membahayakan banyak pasien. Tes PCR juga memakan waktu berhari-hari. Ada beberapa pasien sakit yang menemukan tempat tidur. Tetapi tidak dapat dirawat karena mereka tidak memiliki laporan COVID-19 yang positif.

Anuj Tiwari menyewa seorang perawat untuk membantu perawatan saudara laki-lakinya di rumah. Setelah dia ditolak masuk ke banyak rumah sakit.

Beberapa orang mengatakan, mereka tidak memiliki tempat tidur kosong dan yang lain mengaku mereka tidak menerima pasien baru karena ketidakpastian yang terus berlanjut mengenai pasokan oksigen.

Sejumlah pasien meninggal di Delhi karena kekurangan pasokan oksigen. Rumah sakit kota putus asa dan beberapa telah mengeluarkan peringatan setiap hari. Mereka mengatakan, hanya tinggal punya beberapa jam oksigen. Kemudian pemerintah mulai bertindak dan kapal tanker dikirim. Yang sering kali cukup untuk menjalankan rumah sakit selama sehari.

Seorang dokter di Delhi mengatakan, begitulah cara rumah sakit bekerja, dan “ada ketakutan nyata sekarang bahwa tragedi besar mungkin terjadi”, dikutip BBC.

Mengingat skenario di rumah sakit, Tiwari membayar sejumlah besar uang untuk mendapatkan konsentrator—yang dapat mengekstraksi oksigen dari udara—untuk menjaga agar saudaranya tetap bernapas.

Dokter juga memintanya untuk mengatur obat anti-virus remdesivir, yang telah diberikan persetujuan penggunaan darurat di India dan diresepkan secara luas oleh dokter. Manfaat obat tersebut—yang pada awalnya dikembangkan untuk mengobati Ebola—masih diperdebatkan di seluruh dunia.

Tiwari tidak dapat menemukan obat itu di toko obat mana pun. Akhirnya ia beralih ke pasar gelap. Kondisi saudara laki-lakinya terus kritis, dan dokter yang merawat mengatakan dia mungkin segera membutuhkan rumah sakit di mana remdesvir dapat diberikan.

“Tidak ada tempat tidur. Apa yang akan saya lakukan? Saya bahkan tidak bisa membawanya ke tempat lain karena saya sudah menghabiskan begitu banyak uang dan tidak banyak yang tersisa,” ucapnya kepada BBC.

Dia menambahkan, “Perjuangan putus asa untuk menyelamatkan pasien COVID-19 telah bergeser dari rumah sakit ke rumah”. Bahkan itu terbukti menjadi tugas yang menakutkan karena ia tidak memiliki akses yang mudah untuk mendapatkan oksigen.

Remdesivir sangat terbatas. Sehingga keluarga pasien yang dirawat di rumah bergegas untuk mendapatkannya. Mereka ingin memiliki obat itu jika pasien harus dilarikan ke rumah sakit dan mungkin membutuhkan obat tersebut.

BBC berbicara dengan beberapa dealer di pasar gelap yang mengatakan pasokan terbatas, dan itulah mengapa mereka mengenakan harga tinggi. Pemerintah telah mengizinkan tujuh perusahaan untuk memproduksi remdesvir di India, dan mereka telah diberi tahu untuk meningkatkan produksi.

Namun beberapa janji pasokan yang memadai dari pemerintah gagal membuahkan hasil di lapangan. Ahli epidemiologi Lalit Kant mengatakan, keputusan untuk meningkatkan produksi sudah terlambat, dan pemerintah seharusnya bersiap untuk gelombang kedua.

“Tapi entah kenapa obat itu tersedia di pasar gelap? Jadi, ada beberapa kebocoran di sistem suplai yang belum bisa disambungkan oleh regulator,” ujarnya. “Kami tidak belajar apa-apa dari gelombang pertama.”

Obat lain yang sangat diminati adalah tocilizumab. Ini biasanya digunakan untuk mengobati radang sendi. Tetapi penelitian telah menunjukkan bahwa obat itu dapat mengurangi kemungkinan pasien yang sangat sakit perlu menggunakan ventilator.

Dokter meresepkan obat tersebut kebanyakan untuk pasien yang sakit parah. Tapi obat itu sudah menghilang dari pasaran. Cipla, perusahaan India yang mengimpor dan menjual obat tersebut, telah berjuang untuk memenuhi permintaan yang meningkat.

Biasanya harganya sekitar 32.480 rupee (sekitar Rp 6,2 juta) untuk botol 400 mg. Tetapi Kamal Kumar membayar 250 ribu rupee (sekitar Rp 48 juta) untuk membeli satu dosis untuk ayahnya. Dia mengatakan, harganya “sangat mengejutkan”. Tetapi dia tidak punya pilihan lain selain membayar.

Pakar kesehatan masyarakat Anant Bhan mengatakan, pemerintah seharusnya membeli obat dalam jumlah besar karena tidak banyak yang mampu membelinya di pasar gelap.

“Ini menunjukkan tidak ada perencanaan. Pemerintah gagal mengantisipasi gelombang dan merencanakannya,” ujar dia. “Orang-orang dibiarkan pada nasib mereka sendiri.”

OBAT PALSU

Remdesivir palsu juga muncul di pasar gelap. Ketika BBC menanyai seorang pengedar bahwa obat yang ditawarkannya tampak palsu karena perusahaan yang memproduksinya tidak ada dalam daftar perusahaan yang memiliki izin untuk memproduksinya di India. Dia menjawab bahwa itu “100 persen asli”.

Kemasannya juga penuh dengan kesalahan ejaan. Tapi dia mengangkat bahu dan meminta BBC untuk memeriksanya di laboratorium mana pun. Perusahaannya juga tidak ada di internet.

Begitu besar rasa putus asa. Sehingga orang mau membeli bahkan obat-obatan yang meragukan. Beberapa telah ditipu juga. Orang-orang terus-menerus membagikan nomor telepon pemasok yang dapat memberikan apa saja. Mulai dari oksigen hingga obat-obatan. Tetapi tidak semua nomor ini diverifikasi.

Seorang pekerja IT, yang tidak mau disebutkan namanya, mengatakan bahwa dia sangat perlu membeli tabung oksigen dan remdesivir, dan dia mendapat petunjuk dari Twitter. Ketika dia menghubungi orang tersebut, ia diberi tahu untuk menyetor 10 ribu rupee (sekitar Rp 1,9 juta) sebagai pembayaran di muka. “Saat saya mengirim uang, orang tersebut memblokir nomor saya,” ucapnya kepada BBC.

Keputusasaan mendorong orang untuk mempercayai apa pun pada saat dibutuhkan, dan itu tampaknya memicu pasar gelap. Beberapa pemerintah negara bagian telah berjanji untuk menindak pemasaran gelap remdesivir, dan beberapa penangkapan juga telah dilakukan. Tapi pasar gelap tampaknya tidak terpengaruh.

Tiwari mengatakan, orang-orang seperti dia tidak punya pilihan selain membayar lebih. “Sepertinya Anda tidak bisa dirawat di rumah sakit, dan sekarang Anda tidak bisa menyelamatkan orang yang Anda cintai bahkan di rumah,” katanya. (mmt/qn)

Sumber: Kacaunya COVID-19 India: Rumah Sakit Angkat Tangan, Obat Palsu Menjamur

Simak video terbaru dari Nomor Satu Kaltim:

Leave A Reply