alexa
disway ntt malang

Premier League Adalah ‘ESL’ di Masa Lampau

UEFA Vs Liga Super Eropa (Bagian 4-Selesai)

Orisinalitas adalah ilusi. Tak ada yang asli. Konsep intertekstual serupa, ternyata relevan pada kasus wacana Liga Super yang dicetuskan Florentino Perez dan kolega. ESL disebut sebagai gebrakan besar dalam hal komersialisasi sepak bola. Tapi dua dekade lalu, konsep ini telah digagas. Bahkan berhasil diaplikasikan pada sebuah liga, yang memang jadi Liga Super. Bernama … Premier League.

Oleh: Ahmad Agus Arifin

TAHU kenapa di era 90-an Serie A begitu terkenal? Bahkan gemanya sangat luar biasa di Tanah Air. Apa itu Manchester United, Liverpool, Arsenal? Pecinta bola di era itu lebih kenal Lazio, Parma, dan Sampdoria.

Sebabnya adalah karena Liga Inggris yang kala itu bertajuk First Division sangat minim gebrakan. Jangankan bicara kemasifan siaran sepak bola di negeri penemunya itu. Tim-tim Liga Inggris cenderung sibuk dalam kerumitan diri sendiri.

Setelah mengenyam sukses besar di era 1970-1980. Liga Inggris malah jatuh di titik terendahnya. Minimnya pendapatan klub, penonton sepi, fasilitas stadion yang tak terawat, bahkan kondisi lapangan yang tidak memadai, hingga kerusuhan suporter yang kerap terjadi. Sepak bola Inggris kala itu, bukan olahraga yang ramah buat anak-anak, remaja, dan wanita.

Bahkan pemain-pemain top Inggris macam Ian Rush, Graeme Souness, Ray Wilkins, Trevor Francis, Des Walker, dan David Platt. Memilih karier di luar negeri.

Puncaknya adalah pada tragedi Heysel (1985). Yang membuat UEFA melarang klub Inggris bertanding di kompetisi Eropa. Makin hancur klub-klub Inggris saat itu.

Lalu di tengah segala kerumitan itu. Ide-ide revolusional muncul. Dan layaknya dalam penjajahan suatu bangsa. Kaum ningrat yang berpunya dan berpendidikan bakal mengisiasi gerakan perubahan. Dalam kasus The Football League First Division –Divisi Pertama. Pemberontakan itu dipimpin oleh tim-tim besar.

Yang pertama kali memicu amarah tim-tim besar adalah; ya apalagi kalau bukan uang. Pada perjanjian dengan televisi di tahun 1986, The Football League (operator liga) mendapat 6,3 juta paun. Tahun segitu, duit sebesar itu nilainya besar sekali, hanya mengingatkan.

Perjanjian yang kadaluarsa dalam 2 tahun itu, kemudian meningkat pada 1988. Total yang didapat The Football League adalah 44 juta paun. Tapi yang terjadi adalah, pembagian hak siar pada klub teramat kecil. Dan cenderung tidak adil. Hanya menguntungkan operator liga dan federasi saja.

Sampai akhirnya, di tahun itu. 10 klub besar sampai di titik muak yang teramat. Dan menginisiasi pembuatan Liga Super. Mereka ingin memisahkan diri dari Divisi Pertama. Mereka adalah Liverpool, Everton, Manchester United, Tottenham Hotspur, Arsenal, West Ham United, Nottingham Forest, Aston Villa, Sheffield Wednesday, dan Newcastle United. Berbekal kesepakatan senilai 32 juta paun dengan ITV.

Jika Anda membaca serial tulisan ini di bagian ketiga. Soal bagaimana UEFA membajak 6 klub Inggris untuk keluar dari ESL. Karena mereka adalah kunci dari penjualan ESL. Yang juga kunci dari komersialisasi sepak bola di bawah kendali UEFA.

Hal sama dilakukan The Football League dan FA kala itu. Mereka membujuk kesepuluh klub tersebut. Agar bertahan di Divisi Pertama. Kehilangan 10 klub itu tentu adalah kerugian bagi Divisi Pertama.

Situasinya saat itu, FA dan The Football League sedang sangat mesra. Sangat kompak. Termasuk kompak dalam menguntit uang hak siar klub. Ditambah, upaya pembujukan oleh kesepuluh klub tersebut pada klub Divisi Pertama lainnya mandek. Karena tim-tim kecil The Football League masih begitu percaya pada operator liga dan federasi. Situasi yang tentu sangat wajar.

Wacana Liga Super kala itu, sama halnya dengan Liga Super belakangan ini. Gagal total. Mereka tak mendapat dukungan dari mayoritas klub dan pemain. Dan terpaksa kembali ke pangkuan The Football League dan FA.

Kesepuluh tim itu kalah, walau sebenarnya hanya mengalah. Diam-diam, 5 klub di antaranya; Manchester United, Liverpool, Tottenham, Everton, dan Arsenal. Tetap menyimpan ambisi memisahkan diri.

Konsep Liga Super terus didiskusikan dan disempurnakan. Agar kejadian ketika tim lain diajak dan menolak, tak terulang lagi. Sembari itu, mereka menunggu waktu yang tepat.

Dan momen itu tiba di tahun 1990. FA dan The Football League lagi sering-seringnya berseteru. Kalau di Indonesia, bisa digambarkan dengan; PSSI dan PT LIB lagi berantem terus.

Di tengah situasi tak nyaman itu. Kelima klub ini maju lagi. Mengampanyekan konsep Liga Super mereka pada seluruh klub Inggris. Kali ini ceritanya berbeda. Karena klub-klub papan tengah dan bawah itu sedang tidak punya sandaran. Sedang galau. Lantaran perseteruan tak berujung PSSI dan PT LIB-nya Inggris itu.

Didapatlah 22 klub yang setuju. Tapi, nah, tapi ini yang membedakan Liga Super versi Inggris dengan Liga Super versi Perez dkk. Jika Perez tak mempedulikan nasib liganya jika nantinya keluar dari keanggotaan federasi resmi. Liga Super versi Inggris ini memikirkannya.

Ketika semua sudah mantap, dan tinggal selangkah maju lagi untuk membentuk liga baru. Mereka berada di persimpangan. Karena liga baru tanpa dukungan federasi akan berakhir kacau. Pemain akan jadi korban karena tidak bisa lagi membela timnas negara masing-masing. Dalam hal ini, akan ada dua kemungkinan. Pemain top bermain di Liga Super dan rela tidak bermain untuk timnas.

Atau, mereka akan memilih supremasi sepak bola dengan bertahan di kompetisi besutan The Football League. Yang jika ini terjadi, Liga Super tak akan punya taring. Potensi tidak laku di pasaran. Padahal niat mereka untuk membentuk liga baru ya, karena uang itu.

Strategi baru dibuat. Langkah mendapat restu FA dijalankan. Operasi penculikan dilakukan. Yang ingin diculik ya, FA tadi. Kebetulan, momennya sedang bagus. FA sedang tak akur dengan The Football League. Ini adalah peluang besar bagi para pemberontak itu. Toh mereka tahu, orang-orang di FA juga mata duitan seperti mereka. Iming-iming uang dan ketenaran sepak bola Inggris pasti akan menyilaukan mata petinggi FA.

Tak sampai setahun, operasi penculikan itu selesai. Tapi titik di mana terjadi kesepakatan adalah. Inisiator Liga Super, atau yang kala itu disebut The Founder Members Agreement. Tidak membunuh The Football League.

Secara sederhana, Liga Super gagasan mereka akan dijadikan sebagai kompetisi kasta teratasnya. Di kelola oleh perusahaan terbatas bernama FA Premier League. Kemudian, kasta kedua dan seterusnya (ke bawah) akan tetap dikelola oleh The Football League.

Jadi ada kesinambungan. Tim buangan, alias tim yang terdegradasi dari Liga Super akan bermain di kompetisi garapan The Football League. Sementara tim teratas The Football League dari divisi teratasnya (sekarang disebut The Football League Championship – kasta kedua) akan promosi ke Liga Super.

Iming-iming uang membuat semuanya sepakat. Liga Super jadi berjalan. Liga ini saat ini benar menjadi liga paling laris di dunia. Yang kita kenal sebagai Premier League!

Momen bersejarahnya tercatat pada tanggal 27 Mei 1992. The Founder Members Agreement sepakat memisahkan diri dari The Football League untuk bergabung ke Premier League. Di tahun yang sama, Premier League menjalani sepak mula. Dan terus meraih kesuksesan hingga saat ini.

Modernisasi berhasil dijalankan. Hak siar melesat tinggi. Kekayaan klub-klub Inggris melonjak drastis hingga menggoda banyak pemain bintang untuk merapat ke negeri asal sepak bola itu. Ekspansi mereka ke Asia, selain konsep pembagian hak siar. Belakangan diketahui sebagai kunci popularitas mereka. Sampai di tahap, Premier League jadi begitu terkenal di luar Eropa. Mengalahkan silau Serie A dan LaLiga.

Tidak percaya? Silakan tanya pada anak remaja Anda. Apakah mereka tahu siapa pemain Lazio, Parma, dan Sampdoria. Coba saja dulu.

*

Relevansi Premier League dan Europan Super League alias ESL begitu besar. Sama-sama diinisiasi tim besar. Sama-sama mencanangkan liga yang menarik banyak uang. Sama-sama ingin menggagas liga terbaik di dunia. Sama-sama ingin kaya dari sepak bola. Sama-sama mencuri sepak bola dari tubuhnya.

Namun yang membedakan adalah, saat itu klub menderita karena sistem buruk dan federasi yang korup. Saat ini, federasinya masih korup, tapi menderitanya karena klub-klub besar itu sendiri. Yang menaikkan harga pemain sesuka hati. Rela berutang demi koleksi pemain kelas 1. Berlomba-lomba memberi gaji tak masuk akal pada pemainnya. Yang bahkan, gaji seorang bintang Manchester United misalnya, itu lebih besar dari seluruh operasional tim kasta ketiga Liga Inggris.

Bedanya lagi, Premier League adalah ‘pencurian’ yang elegan. ESL lebih ke … arogansi dan ketamakan yang teramat besar.

Sebagaimana ESL yang sudah di jurang pembatalan. Maka selesai pula serial tulisan bertajuk UEFA Vs Liga Super Eropa ini. Sebagai penutup, kita semua sepakat bahwa UEFA, FIFA, adalah federasi yang dipenuhi orang-orang korup. Tapi memberontak ke dalam, lebih masuk akal ketimbang memisahkan diri.

Tim-tim besar harus mulai sadar diri atas kesalahan mereka sendiri. Dan mulai merevolusi UEFA dan FIFA. Bukan malah meninggalkannya. Bukan begitu? (ava)

Simak video terbaru dari Nomor Satu Kaltim:

Leave A Reply