alexa
disway ntt malang

Perempuan, Pendidikan dan Masa Depan

OLEH: IDA FITRIYAH*

Banyak yang beranggapan bahwa perempuan tidak perlu diberikan pendidikan. Realitanya, memang perempuan terkadang dipandang sebelah mata. Masih umum kita temukan anggapan sebagian orang yang menilai perempuan sebagai “orang kedua” yang tak perlu mendapatkan pendidikan yang layak sehingga mereka hanya bertugas mengurus rumah, mendampingi suami, dan mengurus anak-anak mereka.

Lambat laun perempuan menempatkan dirinya sebagai pribadi yang hanya perlu memahami kehidupan rumah tangga tanpa perlu meningkatkan keterampilan mereka untuk memberikan kontribusi terhadap kemajuan lingkungan sekitar, daerah, dan bangsa.

Hal ini semakin diperkuat dengan keadaan ekonomi dalam lingkungan keluarga mereka yang tidak mendukung perempuan meraih pendidikan untuk mencerdaskan dirinya. Akumulasi dari problem ini kemudian menjadi alasan bagi para orang tua menempatkan perempuan sebagai “pelayan” bagi kehidupan rumah tangganya setelah mereka beranjak dewasa.

Di Indonesia, fenomena seperti ini bukanlah hal tabu. Kita tentu masih ingat berita yang baru-baru ini viral di media sosial. Orang tua mempromosikan anak-anak perempuan mereka untuk segera dinikahkan dengan laki-laki yang dianggap memiliki kemampuan untuk menjaga mereka dalam lingkungan rumah tangga. Padahal, anak-anak itu masih tergolong belia. Mereka sejatinya harus mendapatkan pendidikan untuk bekal hidupnya di masa depan.

Karena itu, terdapat beberapa faktor yang menjadi penyebab munculnya pemikiran yang mengganggap perempuan tak perlu mendapatkan pendidikan yang layak. Salah satunya rendahnya tingkat kepercayaan diri perempuan. Perempuan sering kali merasa tidak percaya diri. Mereka merasa dirinya tidak cukup memiliki kemampuan yang baik. Hal ini semakin diperkuat pola pikir masyarakat bahwa kesuksesan sering berkorelasi negatif dengan perempuan dan berkorelasi positif terhadap laki-laki. Padahal anggapan tersebut muncul karena perempuan tidak percaya diri dan tak memahami pentingnya pendidikan.

Pada dasarnya perempuan dan pendidikan adalah suatu elemen yang berbeda namun tak dapat dipisahkan. Sukarno pernah mengatakan, “Perempuan merupakan salah satu tiang negara yang dapat membuat bangsa ini berdiri tegak”.

Pendidikan bukan hanya milik perempuan yang memiliki akses ekonomi atau strata sosial menengah ke atas. Pendidikan juga dapat dinikmati oleh semua perempuan secara merata serta tak memandang harta dan takhta. Pendidikan merupakan sarana yang penting untuk mencapai kesetaraan dan kemajuan. Pendidikan juga merupakan kunci untuk meningkatkan status perempuan.

Pendidikan tak hanya berkaitan dengan upaya mengasah akal dan tingkat intelektual semata. Namun juga mendorong pembentukan kepribadian. Kartini mengatakan, pendidikan tidak hanya mempertajam akal. Budi pekerti juga harus dipertinggi.

Intinya, dalam menjalankan pendidikan, tidak hanya mengutamakan tingkat kecerdasan semata, namun juga menanamkan budi pekerti. Jika hanya mengunggulkan sisi kecerdasan intelektual tanpa memperhatikan aspek emosional, maka yang terjadi ialah rasa superioritas dan rendahnya kepekaan terhadap nilai-nilai kemanusiaan.

Perempuan akan menjadi sekolah pertama bagi anak-anaknya. Setinggi apa pun pendidikan mereka, perempuan memiliki kodrat untuk menjadi seorang ibu. Seorang perempuan akan menikah, mengandung dan melahirkan anak. Lalu siapa yang akan melindungi dan mengajarinya? Tentulah tangan pertama yang dengan ikhlas melindungi dan mengajari anak adalah ibu.

Sebuah pepatah mengatakan, “Jika perempuan cerdas, maka ia akan melahirkan anak-anak yang cerdas pula”. Hal ini dapat dimaknai bahwa pendidikan akan berpengaruh terhadap pola pikir dalam berkeluarga, khususnya bagaimana mereka mendidik anak-anaknya supaya ke depan mereka dapat berkontribusi positif bagi lingkungannya.

Di era ini, sudah muncul beberapa figur perempuan yang dapat menjadi motivator kemajuan partisipasi dan eksistensi perempuan dalam berbagai bidang. Salah satunya Megawati Soekarnoputri yang pernah menjabat sebagai presiden ke-5 RI. Hal ini sebagai bukti bahwa perempuan bisa menjadi pemimpin negara.

Lalu, Ibu Nicke Widyawati, Ibu Susi Pudjiastuti, Najwa Shihab dan beberapa perempuan lainnya yang menjadi tokoh-tokoh inspiratif dan berprestasi di bidangnya masing-masing seperti pengusaha, pejabat dan lainnya. Tak heran, tokoh-tokoh perempuan inspiratif itu disebut-sebut sebagai Kartini masa kini yang menjadi teladan tentang kecerdasan, profesionalisme, hingga kemandirian.

Kesimpulannya, mari bersama-sama membangkitkan semangat kita sesama perempuan, serta membangun kesadaran bahwa pendidikan sangat penting untuk perempuan. Yakinlah perempuan akan memegang hak asasinya dengan tegas serta meyakinkan banyak orang bahwa perempuan tidak selemah yang mereka pikirkan. (*Staff Finance Billing Collection PTC)

Simak video terbaru dari Nomor Satu Kaltim:

Leave A Reply