alexa
disway ntt malang

Masjid Jami’ Adji Amir Hasanoeddin di Kukar, Kokoh, Tak Lekang oleh Zaman

Menyusuri Masjid dan Sejarah Penyebaran Islam di Tanah Kaltim (2)

Kukar, nomorsatukaltim.com – Usianya sudah menginjak 147 tahun dan masih berdiri kokoh. Arsitekturnya tetap sama. Meski sempat dipugar dan ada beberapa penambahan sana sini. Masjid Jami’ Adji Amir Hasanoeddin di Tenggarong, Kukar jadi saksi sejarah perkembangan Islam di tanah Kutai.

M RAFI’I

Bangunannya berbahan dasar kayu ulin. Dibangun sejak 1874, Masjid Jami’ Adji Amir Hasanoeddin menjadi yang tertua di Kukar. Menurut literatur, masjid ini dibangun pada masa pemerintahan Sultan ke-17 Kesultanan Kukar Ing Martadipura. Yakni Sultan Aji Muhammad Sulaiman (1850-1899).

Letaknya tepat berdampingan dengan Museum Mulawarman di Jalan Monumen Timur, Tenggarong. Atau pusat pemerintahan Sultan Kutai pada masa itu. Sehingga, keberadannya tidak lepas dari perkembangan agama Islam di Kukar. Bahkan termasuk simbol kebesaran Islam pada masa kesultanan.

Kalau menurut cerita Sekretaris Umum Masjid Adji Amir Hasanoeddin, Edi Sopiansyah, dulunya tempat ibadah ini dibangun secara gotong royong oleh rakyat. 16 tiang didirikan dari bahan kayu ulin.

Komposisinya 4 tiang sebagai pilar utama, dikelilingi 12 tiang sebagai pilar pendukungnya. Kayu-kayu itu, semuanya berasal dari daerah hulu Mahakam. Maka jadilah masjid di atas tanah seluas 50X50 meter persegi ini.

Tidak banyak perubahan. Terutama bagian arsitekturnya. Masih asli. Baik tiang, pintu, dinding hingga atap dan kubahnya. Sama persis 147 tahun lalu.

Hanya saja ada perbaikan sedikit pada bagian yang mulai rusak. Seperti atap yang bocor, melapisi dinding dengan cat yang baru. Juga perbaikan pada lantai.

“Yang dulunya bukan dari keramik yang ada seperti sekarang ini (keramik),” sebut Edi Sopiansyah.

Masjid yang didominasi hijau dan krem ini mampu menampung hingga seribu jamaah. Sejak pengurus masjid melakukan berbagai penambahan fasilitas ruang ibadah. Seperti kanopi dan lantai keramik. Di sisi kanan dan belakang.

Ya, sudah bisa diduga. Saat bulan Ramadan, jamaah membludak hingga ke pelataran. Dibarengi dengan perbaikan fasilitas lainnya. Seperti peningkatan bangunan tempat wudu dan WC untuk para jamaah.

Ada cerita lain dibalik pemberian nama Masjid Jami’ Adji Amir Hasanoeddin itu. Ternyata diambil dari nama dua tokoh berpengaruh. Mereka adalah Haji Aji Amir Hasanoeddin (Gelar Pangeran Sosronegoro) dan Tuan Guru Sayid Saggaf Baraqbah (Gelar Aji Raden Sokmo).

Jasa beliau, Haji Aji Amir Hasanoeddin,dalam memperjuangkan syiar Islam ini dijadikan pertimbangan utama. Berdasarkan keputusan seminar Sejarah Islam 26-28 November 1981 silam.

Jamaah tidak pernah sepi beribadah di sini. Meski diserang pandemi. Buka bersama bahkan masih ada. Walau terbatas untuk musafir.  Azan ashar menutup cerita Edi Sopiansyah.

Satu per satu jamaah mulai mengambil barisan di belakang imam. Tegak lurus menghadap kiblat dan merendahkan hati. Khusyu di hadapan ilahi. Hingga saat matahari beringsut menuju barat, beberapa jamaah masih ada yang duduk. Ada yang berzikir. Ada juga yang membaca alquran. (*/boy)

 

Simak video terbaru dari Nomor Satu Kaltim:

Leave A Reply