alexa
disway ntt malang

Masjid Al Wahab Bontang: 232 Tahun Berdiri, Arsitektur Padukan Beragam Etnik

Menyusuri Masjid dan Sejarah Penyebaran Islam di Tanah Kaltim (1)

Bontang, nomorsatukaltim.com  Р232 tahun berdiri, Masjid Al Wahab jadi saksi bisu sejarah perkembangan  Islam di Bontang.

IKHWAL SETIAWAN

Azan sudah berkumandang. Suraunya membangunkan langkah-langkah kaki berayun menghampiri tempat peribadatan itu. Laut ternyata ikut berkonspirasi. Puluhan kapal tertambat perlahan di tepi Sungai Api-Api. Rapi, di bawah terik. Siang itu, jamaah Masjid Al Wahab bersiap melaksanakan salat jumat.

Muhamad Aras, menghampiri tim Disway usai menunaikan kewajibannya sebagai lelaki muslim. Aras keturunan ketiga yang menjadi saksi bangunan Masjid Al Wahab. Aras kecil tinggal di Kelurahan Bontang Kuala.

Di kampung itu semua jamaah beribadah di masjid ini. Namun tak lama. Seiring waktu masjid mulai ditinggalkan jamaah karena kondisinya mulai keropos dan nyaris runtuh.

“Sekitar tahun 1956 sudah jarang orang mau salat di situ, berpindah ke Masjid Istiqomah,” ujar Aras yang juga petugas takmir Masjid Al Wahab.

Sejarah berdirinya Masjid Al Wahab ini dibangun sekitar tahun 1789. Guratan pahat di tiang masjid membenarkan eksistensi bangunan tua ini. Pendirinya merupakan warga setempat. Dulu, kata Aras, di sekitar masjid merupakan permukiman warga. Sebagian besar mereka bercocok tanam di sekeliling masjid.

Hamparan lahan berkontur datar di sisi sungai ini membuat tanaman warga tumbuh subur. Anugerah Sang Khalik ini membuat mereka mendirikan permukiman di sana.

Walhasil, berdirilah kampung Api-Api dan rumah ibadahnya Masjid Api-Api yang kini dikenal sebagai Masjid Al Wahab. Al Wahab disebut sebagai ulama mahsyur kala itu. Ia adalah perintis pembangunan bangunan bersejarah ini. Namanya dinisbahkan untuk mengenang jasanya.

Arsitektur masjid dibangun dengan ragam bercorak perpaduan kultur di Demak, Bugis dan Kutai dan Jawa. Terlihat dari kubahnya mirip seperti kubah di Masjid Demak. Kultur Hindu sama kuatnya. Sedangkan mimbarnya erat dengan ukiran Jepara.

Di awal bangunan ini didirikan seluas 11 x 11 meter per segi. Lantainya disusun dari papan kayu ulin. Begitupun dengan 10 tiang yang menyangga atap masjid.

Tetap saat ini hanya tersisa 4 tiang saja yang dibiarkan seperti semula. Selebihnya harus dirombak akibat kondisinya tak lagi bagus.

“Ya ini 4 tiangnya kita tutupi supaya enggak dimakan rayap,” ungkapnya.

Kala itu, Masjid Al Wahab menjadi satu-satunya rumah ibadah di Bontang. Warga dari pesisir Guntung pun rela menyeberang melalui laut untuk beribadah di sini. Dahulu sungai masih alami. Airnya jernih.  Warga pesisir selalu membawa air tawar ini untuk keperluan konsumsi.

“Dulu wudu nya langsung dari air sungai ini,” kata Aras menunjuk sungai yang kini bewarna kecoklatan itu.

Masjid mulai ditinggalkan sejak tahun 60an. Kondisinya tak terurus. Bahkan nyaris ambruk. Barulah di awal milenial lalu warga dan pemerintah merehab kembali bangunan ini. Butuh waktu dua tahun hingga akhirnya bangunan berdiri. Bentuknya masih dipertahankan seperti kondisi sebelumnya. Tak ada yang berubah.

Pengelola masjid menambah kapasistas jamaah di teras. Bangunan inti dibiarkan berdiri kokoh. “Ya kami prihatin dengan kondisi masjid bersejarah ini, makanya warga dan tetua saat itu berembuk dan pemerintah bersedia,” katanya.

Saat ini daya tampung masjid berkali lipat dari kondisi sebelumnya. Guratan pahat di tiang masjid tetap asri. Sejarah mengungkap islam di Bontang dibangun dengan toleransi etnis yang begitu kuat. (*/boy)

Simak video terbaru dari Nomor Satu Kaltim:

Leave A Reply