alexa
disway ntt malang

Konversi BBM ke BBG hanya Omdo

Jakarta,nomorsatukaltim.com – Beberapa tahun lalu pemerintah sempat menggencarkan program konversi Bahan Bakar Minyak (BBM) ke Bahan Bakar Gas (BBG). Tujuannya tak lain untuk mengurangi ketergantungan pada impor BBM. Sementara pasokan gas di dalam negeri melimpah.

Namun sayangnya, fenomena itu hanya sekejap mata. Bus Transjakarta, taksi-taksi, bahkan kendaraan dinas pemerintah yang tadinya didorong menggunakan BBG, malah berkhianat dengan kembali menggunakan BBM. Padahal, beberapa Stasiun Pengisian Bahan Bakar Gas (SPBG) juga sudah dibangun.

Terkait mandeknya program BBG ini, Direktur Utama PT Perusahaan Gas Negara Tbk (PGAS) Suko Hartono pun turut angkat bicara.

Suko mengatakan, ada beberapa tantangan yang dihadapi dalam menjalankan program BBG saat ini. Antara lain belum terintegrasinya peraturan yang ada dengan badan usaha yang menjalankannya, serta ketersediaan dan keterjangkauan harga alat konversi BBM ke BBG.

“Aturan dan badan usahanya harus terintegrasi. Selain peraturan, alat-alat konversi juga perlu jadi perhatian kita semua. Itu kira-kira yang menjadi tantangan,” tuturnya di Jakarta baru-baru ini.

Selain itu, program BBG susah berjalan. Terutama bagi kendaraan dengan rute yang sembarang, acak dan luas. Seperti yang rencananya diterapkan pada taksi. Ini menjadi tidak tepat dan tidak berjalan karena jalurnya tidak pasti. Ditambah dengan keterbatasan SPBG. Hal itu akan menyulitkan pengisian bahan bakar.

“Kalau dulu kan taksi, rasanya tidak mungkin, kurang pas,” ujarnya. Untuk itu, dia menyarankan agar program BBG ini diberlakukan bagi kendaraan yang rutenya sudah jelas dari satu titik ke titik lainnya (point to point) dan dengan lokasi yang lebih kecil.

“Lebih baik public transport yang point to point saja. Misalnya jalurnya sudah pasti dari A ke B,” ujarnya.

Diketahui, program konversi ke BBG ini sudah digaungkan sejak era Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY). Bahkan, pada periode Menteri ESDM dijabat oleh Jero Wacik pada 2013 lalu, ia sempat menuturkan keinginannya membuktikan bahwa program konversi BBM ke BBG ini bukan hanya “omdo” (omong doang) atau sekadar wacana.

“Di Komisi VII kalau kami rapat kerja dulu pada awal-awal saya menjadi Menteri ESDM, selalu dikatakan bahwa pemerintah kita mau menggunakan gas ini omdo. Omong doang. Tidak kerja-kerja. Merah kuping saya waktu baru jadi Menteri ESDM,” ujar Jero Wacik mengawali sambutannya di acara peresmian SPBG perdana milik PT PGN (Persero) di Bekasi, pada 24 Desember 2013.

Ia menambahkan, “Pikiran yang ideal, yang benar, dan cocok pindah ke gas kok omong doang. Jadi saya tidak mau dicap sebagai menteri yang omong doang. Maka mari kita kerjakan itu. Do it. Kita kerjakan konversi dari BBM ke BBG.” (cnbc/qn)

Sumber: Konversi BBG Mati Suri Bertahun-tahun, Masih Sekedar ‘Omdo’

Simak video terbaru dari Nomor Satu Kaltim:

Leave A Reply