alexa
disway ntt malang

Harus Cerdik “Manfaatkan” Larangan Mudik, Hotel-Hotel Mulai Bersiap

Balikpapan, nomorsatukaltim.com – Tok! Pemerintah resmi melarang masyarakat untuk mudik Lebaran 2021. Larangan itu berlaku pada 6-17 Mei 2021. Sesuai dengan Surat Edaran Kepala Satgas Penanganan Covid-19 Nomor 13 Tahun 2021.

Keputusan itu berkaca dari pengalaman libur panjang tahun lalu. Setelah adanya beberapa kali libur panjang, kasus COVID-19 dan kematian mengalami peningkatan. Secercah harapan pun muncul dengan adanya pelarangan mudik ini.

Dengan adanya pelarangan mudik diharapkan dapat memberikan dampak positif bagi okupansi hotel. Tradisi mudik masyarakat yang biasanya membelanjakan uangnya di kampung halaman, maka akan digunakan untuk staycation atau liburan di tempat di mana dia bekerja atau tinggal.

Sekretaris PHRI Kaltim Muhammad Zulkifli mengatakan, efek kebijakan tersebut masih belum bisa diukur.

Untuk saat ini, katanya, peningkatan belum signifikan terjadi. Lantaran kebijakan pemerintah yang memang belum sepenuhnya diterapkan.

Permintaan reservasi hotel pun belum terjadi. Tingkat hunian hotel saat ini diketahui hanya mencapai 50 persen.

Jika kebijakan itu dijalankan, Zulkifli memprediksi daerah yang akan mengalami peningkatan okupansi ialah Balikpapan.

“Tapi sebenarnya dominasi yang memberikan kontribusi (bagi bisnis perhotelan) itu government. Dengan angka, mencapai 30 sampai 35 persen,” tegasnya.

Tetapi karena pandemi, kontribusi itu sulit terealisasi. Ditambah suasana Ramadan. Yang menyebabkan beberapa kegiatan pemerintahan harus diundur. “Penundaannya enggak jauh-jauh, biasa setelah Lebaran baru dilakukan,” sambatnya.

Soal menyambut peluang staycation karena adanya larangan mudik, hotel-hotel sudah sangat siap. Mulai dari pelayanan. Hingga jaminan kenyamanan dan keamanan bagi pengunjung.

Menurut Ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Kota Balikpapan Sahmal Ruhip, perputaran ekonomi tersebut bisa saja terjadi. Namun, hal itu tergantung dengan objek wisata yang ada, apakah dibuka atau ditutup.

“Kalau pantai ditutup, orang Samarinda enggak mau datang ke Balikpapan. Kalau semua dibebaskan (objek wisata dibuka) nanti, paling tidak untuk okupansi ada meningkatlah sedikit. Tapi untuk antarkota dan kabupaten dalam provinsi saja,” jelasnya saat dihubungi, kemarin (20/4).

Dikatakannya, seharusnya Lebaran adalah momen di mana uang akan beredar dari kota ke desa. Lebaran adalah momen untuk memulihkan okupansi yang menurun selama puasa. “Puasa ini turunnya drastis sekali. Ekonomi kita sudah terpuruk, jadi terpuruk lagi dengan kebijakan ini,” keluhnya. (put/nad/eny)

Sudah Terisi 50 Persen

Golden Tulip Balikpapan Hotel and Suites 

Renny Margaretha

Public Relations Manager and Executive Secretary Golden Tulip Balikpapan Hotel and Suites, Renny Margaretha.

Sementara itu, Public Relations Manager and Executive Secretary Golden Tulip Balikpapan Hotel and Suites, Renny Margaretha mengatakan, Ramadan kali ini berbeda dengan Ramadan tahun lalu. Pemerintah memberikan lampu hijau untuk restoran dan rumah makan menggelar acara buka bersama.

“Kalau tahun lalu enggak ada buka puasa bersama, sekarang di Golden Tulip bikin promo buka bersama dari pukul 18.00 Wita hingga 21.00 Wita,” katanya kemarin.

Meski demikian, protokol kesehatan tetap dijalankan. Kapasitas pengunjung juga mengikuti aturan, yakni 50 persen dari kapasitas restoran. Ada juga paket menginap yang dinamakan Ramadan Offer yang berlaku sejak tanggal 13 April hingga 12 Mei nanti.

“Kami menawarkan kamar Deluxe-nya sendiri, kamar tipe terendahnya itu di harga Rp 750 ribu. Itu sudah termasuk sahur dan buka puasa untuk dua orang. Untuk saat ini lumayan, sudah pickup untuk paket Ramadan tersebut,” ungkapnya.

Untuk diketahui, tingkat hunian atau okupansi Golden Tulip Balikpapan Hotel and Suites telah mencapai di atas 50 persen. Ketika ditanya persiapan untuk Lebaran, dia mengatakan, belum ada hal khusus yang dipersiapkan.

“Seperti biasanya, tidak ada persiapan yang gimanagimana. Tapi yang pasti meningkatkan prokes-nya, karena akan lebih ramai dari sebelum-sebelumnya,” ujarnya.

Proyeksi itu mengingat, Lebaran kali ini yang berbeda dengan tahun sebelumnya. PPKM yang diberlakukan pada 2020 sangatlah ketat. Sedangkan ketika ditanya promo yang dipersiapkan saat Lebaran nanti, pihaknya masih melihat kondisi ke depan seperti apa.

“Jauh sebelum ada informasi larangan mudik itu, sebenarnya sudah ada booking-an untuk Lebaran. Saat ini baru 50 persen yang terisi. Karena harga Lebaran tentu berbeda dengan Ramadan,” tutupnya. (put/eny)

 

Tergantung Target Pasar

Zoom Hotel Samarinda

zoom hotel samarinda

Suasana rooftop Zoom Hotel Samarinda kala Ramadan. Segmentasi pasar yang dituju tiap hotel kadang berbeda. Seperti hotel Zoom, yang segmennya ialah pebisnis. Bundling pun mereka lakukan, untuk mendapatkan peningkatan. Mengingat, larangan mudik lebaran akan diberlakukan. Masyarakat luar yang ingin melakukan perjalanan bisnis mau tak mau harus dibatasi.

 

General Manager Zoom Hotel Samarinda Verli Herman memberikan komentar. Menurutnya, peluang naiknya okupansi tergantung target pasar yang dituju.

Hotel akan sangat diuntungkan jika pasar yang dituju ialah masyarakat lokal. Yang memang telah biasa dengan pola staycation. Akan berbeda jika pasar yang dituju ialah pelaku bisnis. Yang bergantung pada kemudahan mobilitas.

“Contohnya seperti di Zoom ini. Segmennya masyarakat yang memang pebisnis, yang berasal dari luar. Dan memang mampir ke sini (Samarinda) untuk menyelesaikan bisnis, tugas-tugas,” lugas Verli, Selasa (20/4).

Menyiasati itu, strategi promo diterapkan. Contohnya, bundling kamar dengan akomodasi kebutuhan untuk ke tempat perbelanjaan. Atau, bundling kamar dengan promo berbuka puasa. Dan, bundling kamar ketika Lebaran.

“Hunian bisa di angka 60 persen. Cuma untuk reservasi online, di Zoom sendiri itu jarang terjadi. Bisa sebulan sekali. Atau dua bulan sekali,” lanjutnya.

Peningkatan hunian untuk Lebaran biasanya terjadi sehari sebelum atau dua hari sesudah Lebaran. Kebijakan pemerintah soal larangan mudik tetap didukung mereka para pelaku bisnis perhotelan.

“Kita sebagai manajemen hotel tentunya mendukung. Segmen pasar kita (para pelaku bisnis perhotelan) juga wait and see,” bebernya.

Verli berharap kasus terkonfirmasi COVID-19 segera menurun. Lalu, kebijakan pemerintah diharapkan bisa mendukung pergerakan ekonomi. Mengingat pasar Kota Tepian bukan untuk wisatawan.

Mostly pasarnya untuk bisnis. Tapi apapun itu, kebijakan dibuat untuk kemaslahatan masyarakat. Tentu beriringan dan saling mendukung,” pungkasnya. (nad/eny)

 

Simak video terbaru dari Nomor Satu Kaltim:

Leave A Reply