Infrastruktur Gas Butuh Investasi Jumbo

Jakarta, nomorsatukaltim.com – Indonesia memiliki pasokan gas melimpah dan juga pangsa pasar yang besar. Namun sayangnya, keterbatasan infrastruktur, terutama pipa untuk menyerap gas tersebut membuat pasokan yang melimpah ini tidak bisa dimanfaatkan secara optimal oleh rakyat Indonesia.

Ironisnya lagi, Indonesia malah memilih impor energi lainnya yakni Liquefied Petroleum Gas (LPG) dan Bahan Bakar Minyak (BBM). Pada 2020, impor elpiji bahkan mencapai 6,4 juta metrik ton (mt) dan impor BBM sebesar 111,8 juta barel.

Padahal, gas bisa dimanfaatan untuk segala kepentingan. Skala rumah tangga seperti melalui jaringan gas kota, industri, bahkan untuk sektor transportasi menggantikan BBM.

Lantas, apa penyebab utama Indonesia masih minim infrastruktur gas? Direktur Utama PT Perusahaan Gas Negara Tbk (PGAS), Suko Hartono membeberkan sejumlah kendala pembangunan infrastruktur gas. Terutama pipa gas di Tanah Air.

Dia mengakui, di Indonesia suplai gas lebih banyak dibandingkan suplai minyak dan permintaannya pun cukup besar. Namun, Indonesia memiliki keunikan. Yaitu posisi suplai gas berada jauh dari lokasi penyerap gas. Oleh karena itu, dibutuhkan infrastruktur untuk menghubungkan suplai dan permintaan gas tersebut.

Mengingat Indonesia ini negara kepulauan, maka infrastruktur yang harus dibangun pun beragam. Tidak cukup hanya melalui pipa. Dia menyebut, setidaknya ada tiga jenis infrastruktur yang perlu dibangun: pengangkutan gas melalui jalur darat menggunakan pipa, lalu melalui kapal LNG untuk mengangkut gas yang dicairkan, dan juga pengangkut Compressed Natural Gas (CNG).

“Agar suplai gas seperti LNG atau CNG ini bisa sampai ke demand, perlu dibawa oleh kapal. Namun itu saja enggak cukup. Ada lagi storage (penyimpanan) yang perlu dibangun. Lalu unit regasifikasi kalau LNG. Jadi, infrastruktur gas memang mahal,” tuturnya di Jakarta, Senin (19/4).

Dia mengungkapkan, PGN pun memperkirakan kebutuhan investasi untuk membangun infrastruktur gas di Tanah Air sampai 2026 mencapai USD 4-5 miliar atau sekitar Rp 58 triliun-Rp 72,5 triliun (asumsi kurs Rp 14.500 per USD).

Mengingat besarnya dana yang diperlukan tersebut, maka perusahaan akan menggandeng mitra. Sehingga investasi bisa ditanggung bersama.

Dana tersebut akan digunakan untuk membangun setidaknya sembilan jaringan pipa gas. Terutama pipa transmisi dan 13 proyek pengangkutan non-pipa seperti kapal LNG dan fasilitas regasifikasi.

Proyek tersebut tercantum dalam Proyek Master Plan Infrastruktur Gas yang dibuat perusahaan. “Master Plan ini akan kami lakukan sampai 2026,” ujarnya.

Bila proyek infrastruktur gas ini sudah terbangun dan tersambung, maka gas bisa dimanfaatkan untuk kepentingan masyarakat. Bahkan sampai ke level rumah tangga. Karena perusahaan juga akan membangun jaringan pipa gas distribusi dan jaringan gas kota (jargas).

“Sekarang kita bangun jargas. Harga gas bisa lebih murah (dibandingkan elpiji). Dulu elpiji karena memang paling mudah untuk bisa segera menggantikan minyak tanah,” ujarnya. (cnbc/qn)

Sumber: Bos PGN Buka-bukaan Soal Mahalnya Bangun Pipa Gas di RI

Leave A Reply