alexa
  • disway
  • pemkab ppu
  • dprd ppu
  • pemprov
  • ngopi

Asa Bangkit Pengusaha Batik di Tengah Dampak Pandemi

Balikpapan, nomorsatukaltim.com – Pandemi COVID-19 telah menghantam hampir seluruh sektor yang ada. Tidak terkecuali bagi sektor usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) batik. Dampak keberadaan virus yang kali pertama muncul di China ini sangat dirasakan para pelaku usaha.

Salah satunya adalah Batik Shaho. Usaha yang didirikan sejak tahun 1996 ini mengalami penurunan omzet cukup signifikan. Untuk diketahui, Batik Shaho tidak hanya memproduksi batik. Produsen batik yang beralamat di Jalan LKMD, Batu Ampar, Balikpapan Utara, ini juga membuka tempat untuk belajar membatik.

Dikatakan Oki Hendro Julianto, tahun lalu terjadi penurunan pendapatan hingga 90 persen. Utamanya untuk pemberian kursus batik bagi pelajar, mulai dari SD hingga SMA.

“Karena enggak boleh mengumpulkan massa di awal pandemi dulu, tutup semua,” ungkap putra ketiga dari Supratono, pemilik Batik Shaho, Senin (19/4/2021).

Sementara untuk awal 2021 ini, dikatakannya, ada secercah harapan. Kursus kini beralih via daring. Hal ini cukup mendongkrak pendapatan, yakni sekira 25 persen. “Alhamdulillah, lebih baik sih (dibandingkan tahun lalu). Sekarang sudah mulai, hanya saja via zoom. Namun ini memengaruhi dari sisi pendapatan, karena enggak semua sekolahan mau zoom,” ungkap Oki.

Padahal, jika¬† kursus dilakukan secara offline, maka akan berdampak pada omzet penjualan. Kursus yang diikuti pelajar, utamanya murid, akan mengikutsertakan orang tua mereka. “Kalau SD ‘kan orang tuanya otomatis ikut. Di antara orang tua itu ada yang beli produk,” ujarnya.

disway

Sementara terkait penjualan batik, tahun ini terjadi peningkatan omzet dibandingkan tahun lalu. Peningkatannya pun cukup besar, mencapai 50 persen. Penjualan batik terbanyak adalah seragam sekolah.

“Pesanan paling banyak dari sekolah, SD, batik pemkot. Kami mendapat pesanan sekitar 1.200 seragam. Setiap awal tahun segitu. Sebenarnya bisa lebih dari itu, karena kapasitas produksi kami ‘kan 3.000-5.000 potong per bulan. Tapi, disyukuri saja,” ungkapnya.

Selain seragam sekolah, pihaknya juga mendapat pesanan batik dari DPRD Kota Balikpapan, Kanwil Direktorat Jenderal Kekayaan Negara (DJKN) Kaltimtara. Pihaknya juga menerima pesanan dari luar daerah seperti Penajam, Long Ikis, Samarinda, hingga Sangatta.

“Kalau sangatta dan Penajam ini biasanya bahan baku batik tulis, seperti lilin. Kami ‘kan juga jual bahan baku. Untuk penjualan retail itu juga menurun hingga 75 persen. Kalau langganan tidak ada penurunan, karena mereka ‘kan butuh batik untuk seragam,” urainya.

Oleh karenanya, tahun ini pihaknya optimis penjualan batik akan kembali normal. Segala upaya telah dilakukan untuk meningkatkan omzet. Seperti menjalankan usaha via daring. Baik itu marketplace maupun media sosial.

“Kalau untuk orderan batik printing, utamanya sekolah-sekolah itu, alhamdulillah, masih order. Cuma pembayarannya masih terganggu istilahnya, masih 50 persen. Meski demikian kami sih berharap bisa kembali normal,” tandasnya.

Hal senada diungkapkan pemilik usaha DNL Dewi Batik, Dewi K Priani. Pengusaha batik tulis ini berharap tahun ini perekonomian kembali normal. Pameran-pameran semakin banyak digelar, karena ini merupakan salah satu upaya efektif dalam memasarkan produknya.

“Kalau pameran (sebelum pandemi), omzet bisa mencapai Rp 20 juta hingga 30 juta dalam seminggu. Kalau ini masih sepi. Adanya hanya pesanan pribadi, itu pun hanya satu atau dua,” kata perempuan yang telah mendaftarkan hak cipta kelima batik tulisnya ini.

Saat awal pandemi, dia melanjutkan, produksinya berhenti total. Dirinya hanya menjual stok yang ada. Hal ini lantaran masyarakat yang lebih terfokus pada pemenuhan kebutuhan, utamanya kebutuhan pangan.

“Saya baru ini ikut pameran ini selama pandemi. Awalnya juga masih ragu, apakah daya beli masyarakat sudah kembali atau belum. Ternyata masih sepi. Selama lima hari pameran ini baru dapat berapa juta, jauh dibandingkan sebelum pandemi,” ungkapnya saat ditemui di stan pamerannya di Balikpapan Plaza, kemarin.

Selama pandemi, pesanan paling banyak didapat pada akhir tahun lalu. Dirinya mendapat pesanan 400 pakaian jadi dari batik hand print.

Untuk diketahui, pangsa pasar DNL Dewi Batik adalah kalangan menengah ke atas. Batik tulis buatannya dibanderol dengan harga mulai dari Rp 500 ribu. “Semoga saja setelah ini ada pameran-pameran dan kembali ramai,” pungkas Dewi. (put/eny)

Simak video terbaru dari Nomor Satu Kaltim:

Leave A Reply