alexa
disway ntt malang

Perjalanan Kubar-Mahulu melalui Jalur Darat (1): Kemunculan PU Swasta hingga Wacana Tol Kubar-IKN

Oleh: Devi Alamsyah

Bicara infrastruktur yang pertama harus diperhatikan adalah akses. Jalan. Ketika jalannya baik, maka perkembangan ekonomi masyarakat akan tumbuh dengan sendirinya. Dan yang terpenting ini; memberikan kemudahan bagi warga.

nomorsatukaltim.com – PADA 4 April 2021, Harian Disway Kaltim dan nomorsatukaltim.com melakukan perjalanan ke Kutai Barat (Kubar) dan Mahakam Ulu (Mahulu).  Melalui program Goodtime Jalan-Jalan—sebuah program yang dibuat media ini untuk mengeksplor sebuah wilayah atau kawasan tertentu secara visual, dan mengangkat apa yang layak untuk diperbincangkan.

Seperti diketahui, dua kabupaten tersebut termasuk yang tidak terlalu banyak tersentuh. Ya, pembangunan mercusuar di Provinsi Kalimantan Timur akhir-akhir ini lebih banyak dilakukan di sepanjang pesisir dan selatan Kaltim; Balikpapan, Samarinda, Bontang hingga Kutai Timur.

Sebut saja jalan tol Balikpapan-Samarinda (Balsam). Bahkan, sudah direncanakan pula akan dilanjut lagi tol Samarinda-Bontang. Yang nantinya akan terkoneksi dengan tol Balsam dan terhubung ke wilayah Penajam Paser Utara (PPU)—yang sudah dicanangkan sebagai lokasi ibu kota negara (IKN).

Bagaimana dengan Kubar dan Mahulu?

Seperti dimuat media ini, akhir pekan lalu, Bupati Kubar FX Yapan mengeluhkan banyaknya titik jalan rusak dari Kutai Kartanegara menuju Kubar. Antara lain lantaran banyaknya truk-truk perusahaan sawit yang melintasi jalanan umum. Setiap hari. Pemkab Kubar, kata Yapan, tidak bisa berbuat banyak. Itu karena jalan tersebut menjadi kewenangan Pemerintah Provinsi Kaltim.

“Saya minta agar perusahaan sawit membangun jalan sendiri untuk angkutan mereka. Karena membahayakan jika jalanan umum digunakan untuk angkutan perusahaan,” ujar Yapan- dilansir nomorsatukaltim.com, 21 Maret 2021.

Itulah yang melandasi media ini melakukan observasi jalan menuju Kubar dan Mahulu. Melihat sejauh mana tingkat kerusakan dan kemudahan akses menuju dua kabupaten tersebut.

Minggu pagi itu, tim Goodtime Jalan-Jalan start dari Samarinda. Sekitar pukul 09.30 Wita. Kemudian mampir di Tenggarong untuk cek kendaraan. Pada pukul 11.00 Wita, tim mulai bertolak ke Kubar dari Kota Raja itu. Jarak antara pusat kota dua kabupaten tersebut lumayan jauh. Berkisar 7 hingga 8 jam perjalanan. Tim pun sampai di Sendawar pukul 20.00 Wita. Jika dihitung jarak dari Samarinda, waktu tempuhnya bisa 9 jam.

Sendawar itu bukan kecamatan. Pun bukan kabupaten. Karena kabupatennya, Kutai Barat. Itu hanya sebutan warga sekitar merujuk pada wilayah Kerajaan Sendawar. Ada yang menyebutnya Sentawar—pakai “T” di tengah. Kerajaan purba Dayak sebelum era Kerajaan Kutai. Yang disebut Sendawar saat ini, meliputi tiga kecamatan. Yakni Barong Tongkok, Melak, dan Sekolaq Darat.

Ceritanya begini; dulu ketika Kutai Barat dimekarkan dari Kutai Kartanegara (Kukar) pada tahun 1999, tiga kecamatan tersebut menginginkan untuk menjadi ibu kota kabupaten. Karena tidak ada yang mau mengalah, maka akhirnya dibuat jalan tengah. Maka digunakan nama Sendawar yang mengakomodasi tiga kecamatan itu.

Bicara soal jarak antar ibu kota kabupaten, sebetulnya ada yang lebih jauh lagi. Yakni dari Sangatta, Kabupaten Kutai Timur, menuju Tanjung Redeb, Kabupaten Berau. Tapi itu nanti. Lupakan dulu soal Kutim menuju Berau ini. Untuk next trip.

Bisa saja perjalanan ditempuh lebih cepat dari itu. Karena tim Goodtime Jalan-Jalan hanya mengandalkan “driver musiman” dan belum mengenal medan, maka perjalanan ditempuh dengan sangat hati-hati. Menghindari lubang demi lubang. Terutama setelah masuk ke Kabupaten Kubar.

Kenapa disebut “lumayan jauh”? Ini kalau di bandingkan antar kabupaten/kota di Jawa, paling-paling jaraknya berkisar antara dua hingga tiga jam. Selain memang wilayah Kalimantan ini lebih luas, juga kondisi jalan di Jawa sudah relatif lebih baik. Apalagi saat ini sudah terbentang tol di sepanjang pantai utara Jawa.

Sepanjang perjalanan tim Goodtime Jalan-Jalan banyak bercerita. Antara lain soal jebakan jalanan berlubang itu. Munculah ungkapan ini di sela-sela obrolan; Mungkinkah dibangun jalan tol dari Kubar menuju Samarinda atau Kutai Kartanegara?.

Jawabannya ya pasti “mungkin”. Tapi pertanyaan berikutnya adalah kapan dan dari mana ke mana? Bayu Surya, kepala Biro Harian Disway Kukar, yang ikut perjalanan berpendapat begini: justru lebih baik jalan tol itu dari Kubar ke PPU. Karena di sana dicanangkan sebagai lokasi ibu kota negara (IKN). Jadi, nanti terkoneksi antara Kubar ke IKN dan tol Balikpapan-Samarinda (Balsam).

“Melintasi Desa Jonggon. Daerah itu terbawa maju juga,” katanya.

Kondisi jalan memang tampak ada perbaikan. Beberapa titik yang tahun lalu masih berlubang dan berdebu, sebagian sudah mulai dicor. Hanya saja memang masih sepotong-sepotong. Kita berharap tahun ini bisa tersambung menutupi potongan-potongan jalan yang belum baik itu. Secara objektif, kondisinya masih bisa dilalui kendaraan umum.

Kerusakan jalan juga dimanfaatkan sebagian warga untuk mengais rezeki. Di beberapa titik jalan yang rusak itu, banyak para pengatur jalan. Selain mengatur lalu lintas, mereka juga tampak sibuk menutupi lubang-lubang itu. Atau memberikan tanda. Sambil menyodorkan kardus kosong atau topi ke arah pengendara.

Mungkin membantu. Tapi kok yang diperbaiki tak kunjung selesai.

“Kalau cepat diperbaiki, hilang dong mata pencahariannya,” seloroh Bayu.

Bayu juga yang punya istilah baru soal pengatur jalan rusak itu. Ia menyebutnya PU Swasta. Hmmm…

Selain banyak terlihat bangunan sarang burung walet, sepanjang jalan disuguhi panorama perkebunan kelapa sawit. Terutama setelah masuk perbatasan wilayah Kubar. Mungkin ini yang disebut Bupati FX Yapan berkontribusi terhadap rusaknya jalan. Truk-truk kelapa sawit milik perusahaan dengan bebasnya hilir mudik melintasi jalur umum tersebut. Terutama di waktu malam.

*****

IMG 1946

Kabag Humas dan Protokol Pemkab Kutai Barat (Kubar) Hendrita Teofila (tengah), menerima kunjungan Harian Disway Kaltim sebelum meneruskan perjalanan ke Mahakam Ulu via darat. (Ari Pangalis/Nomor Satu Kaltim)

Esok harinya, kami melakukan tes swab Polymerase Chain Reaction (PCR) di Klinik Permata Husada, Melak. Untuk masuk ke Kabupaten Mahakam Ulu cukup ketat. Pendatang disyaratkan melakukan tes PCR atau Antigen. Bagi yang sudah vaksin COVID-19, sebetulnya cukup dengan tes Antigen saja. Namun, bagi yang belum harus PCR.

Jauh-jauh hari, kami sudah diminta melampirkan nama-nama oleh Satgas COVID-19 Mahulu. Termasuk melampirkan hasil tes swab PCR itu. Nanti dokumen tersebut akan diperiksa pertugas pos jaga sebagai tiket masuk kabupaten termuda di Kalimantan Timur tersebut.

Harga tes swab PCR di Kubar Rp 900 ribu per orang. Lama hasilnya keluar tergantung jumlah spesimen lendir atau dahak pasien yang mendaftar. Klinik Permata Husada punya kebijakan, setiap 16 spesimen pasien yang melakukan tes swab, baru akan diproses. Jika yang mendaftar kurang dari itu maka prosesnya menunggu sampai jumlahnya memenuhi target. Tapi petugas medis yang ditemui menggaransi paling lama dua hari hasilnya sudah keluar.

Kami beruntung. Hasil tes swab sudah bisa keluar keesokan paginya. Jadi tidak perlu menunggu sampai dua hari. Tapi, kami sudah menjadwalkan keberangkatan ke Mahulu besoknya. Yakni Rabu 7 April. Karena khawatir jika tes swabnya molor. Sementara rencana keberangkatan lewat jalan darat harus disesuaikan dengan order charter kendaraan khusus.

Menuju Mahulu bisa ditempuh lewat jalur air. Menyusuri Sungai Mahakam menuju hulu. Ini yang umum digunakan warga. Atau transportasi utama menuju Mahulu. Jarak tempuhnya berkisar 4 jam perjalanan. Sementara lewat darat, jarak tempuhnya bisa lebih lama lagi. Karena kondisi jalan yang rusak. Apalagi ketika hujan.

Tapi kami memilih lewat darat. Sambil melihat sejauh mana kerusakan jalan yang dikatakan banyak orang tersebut. Untuk itu, kita perlu kendaraan yang tepat. Double cabin. Yang bisa di segala medan. Tak hanya itu, kita juga perlu driver andal. Yang biasa melintasi jalur off road.

Ketemu. Namanya Hanyeq Gat. Tinggal di Kutai Barat. Usianya berkisar 50-an. Ia bersedia mengantarkan kami ke Mahulu lewat darat. Biaya charter kendaraan sekaligus sopirnya itu Rp 3 juta.

Sebelum melanjutkan perjalanan ke Mahulu, kami pun menyempatkan silaturahmi dengan Pemkab Kubar. Ditemui Kabag Humas Kutai Barat Hendrita Teofilia. Biasa dipanggil Ibu Teo. Kami memperkenalkan Harian Disway Kaltim dan Nomorsatukaltim.com yang kini mulai masuk Kutai Barat. Kami sudah punya perwakilan di Kubar dan Harian Disway pun sudah siap dipasarkan di kabupaten itu.

Di sela perbincangan itu, juga membahas kondisi infrastruktur jalan Samarinda-Kubar. Ia pun mengakui beberapa titik ruas jalan rusak yang mengganggu. Kendati memang secara bertahap sudah ada perbaikan yang dilakukan pemerintah provinsi Kaltim dan anggaran dari APBN.

Teo pun menyambut baik wacana soal Jalan Tol Samarinda -Kubar. Apalagi secara geografis Kubar juga berdekatan dengan Provinsi Kalimantan Tengah. Jika jalan poros dan jalan trans Kalimantan diperbaiki, akan mempermudah interkoneksi antar provinsi. Apalagi jika ada jalan tol. Dari Kalteng tidak harus melalui Kalsel kemudian masuk Kabupaten Paser (Kaltim). Alternatifnya bisa melalui Kubar dan masuk tol yang terkoneksi ke kawasan ibu kota negara (IKN) dan Balikpapan-Samarinda.  (*/jurnalis Harian Disway Kaltim/bersambung 2)

Simak video terbaru dari Nomor Satu Kaltim:

Leave A Reply