ngopi

Impor Migas Naik 74,74 Persen, Pertamina: Bukan karena Kebakaran Kilang Balongan

Jakarta, nomorsatukaltim.com – PT Pertamina (Persero) membantah jika kebakaran tangki di Kilang Balongan, Indramayu, Jawa Barat, pada 29 Maret 2021 lalu menjadi penyebab dari melonjaknya impor minyak dan gas bumi (migas) pada Maret 2021.

Hal tersebut disampaikan oleh SVP Corporate Communication and Investor Relations Pertamina, Agus Suprijanto. “Akibat insiden kebakaran tangki di area Kilang Balongan tidak menimbulkan tambahan impor BBM,” ungkapnya, Kamis (15/4).

Menurutnya, impor BBM tidak melonjak karena pasokan BBM bisa dialihkan ke Kilang Cilacap yang kapasitasnya sudah ditingkatkan. Dia menyampaikan, kondisi Kilang Balongan secara bertahap sudah mulai operasi.

Sebagaimana disampaikan Badan Pusat Statistik (BPS) dalam rilis data ekspor impor untuk Maret 2021, impor migas Maret 2021 melonjak 74,74 persen (month to month) menjadi USD 2,28 miliar dari USD 1,30 miliar pada Februari 2021.

Bila dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu (year on year/yoy), impor migas pada Maret 2021 ini naik 41,87 persen dari USD 1,61 miliar pada Maret 2020.

“Impor RI naik positif sejak Februari dan sekarang kenaikannya jauh lebih tinggi,” tutur Kepala BPS, Suhariyanto.

Peningkatan nilai impor migas ini disebabkan oleh bertambahnya nilai impor minyak mentah sebesar 239,9 persen atau sebesar USD 532,8 juta dan hasil minyak naik 58,61 persen atau USD 448,7 juta.

Secara rinci, impor migas pada Maret 2021 ini terbesar berasal dari impor hasil minyak. Yakni naik 58,61 persen menjadi USD 1,21 miliar dari USD 765,6 juta pada Februari 2021.

Selain itu, kenaikan terbesar juga dari impor minyak mentah. Yakni naik 239,9 persen menjadi USD 754,9 juta dari USD 222,1 juta pada Februari 2021. Sementara impor gas turun 2,11 persen menjadi USD 309,9 juta. Dari USD 316,6 juta pada Februari 2021.

Lonjakan impor terbesar ada pada produk High Speed Diesel (HSD). Di mana impor pada Maret 2021 melonjak 98,53 persen menjadi USD 151,73 juta dari USD 76,43 juta pada Februari 2021. Lalu, kenaikan impor bensin Pertamax sebesar 74,53 persen menjadi USD 420,55 juta. Dari USD 240,96 juta pada Februari 2021.

Sementara impor bensin Premium naik 67,58 persen menjadi USD 374,59 juta dari USD 223,53 juta pada Februari 2021. Adapun lonjakan impor hasil minyak ini juga terlihat karena adanya peningkatan dari sisi volume impor ketiga jenis Bahan Bakar Minyak (BBM) tersebut.

Dari sisi volume, lonjakan impor terbesar terjadi pada diesel, tepatnya jenis HSD. Yakni meningkat 83,82 persen menjadi 283,59 ribu ton pada Maret 2021. Dibandingkan Februari 2021 yang sebesar 154,28 ribu ton.

Sementara impor Pertamax atau bensin dengan nilai oktan (Research Octane Number/RON) di atas 90-97 pada Maret 2021 mengalami peningkatan 54,87 persen menjadi 700,84 ribu ton dari 452,53 ribu ton pada Februari 2021.

Sedangkan impor bensin dengan RON 88 atau Premium naik 50,98 persen menjadi 622,12 ribu ton dari 412,05 ribu ton pada Februari 2021.

Dilihat dari sisi harga minyak, berdasarkan data Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), rata-rata harga minyak mentah Indonesia (Indonesian Crude Price/ICP) pada Maret 2021 rata-rata naik 5,2 persen menjadi USD 63,50 per barel dari USD 60,36 per barel pada Februari 2021.

Pada 29 Maret 2021 lalu, tepatnya Senin dini hari pukul 00.45 WIB telah terjadi kebakaran di Kilang Balongan. Kilang BBM ini dioperasikan PT Pertamina (Persero). Adapun yang terbakar yaitu empat tangki penyimpanan BBM di lokasi kilang.

Karena kebakaran ini, operasi kilang yang mengolah minyak mentah berkapasitas 125 ribu barel per hari itu dihentikan. Adapun kilang kembali beroperasi normal pada 7 April 2021 lalu. (cnbc/qn)

Sumber: Pertamina Bantah Lonjakan Impor Migas Imbas Kebakaran Kilang

Simak video terbaru dari Nomor Satu Kaltim:

Leave A Reply