Proyek Dilanjutkan, Jembatan Tering Didesain Ulang

SAMARINDA, nomorsatukaltim.com – Jembatan Tering dan Jembatan Melak Aji Tulur Jejangkat (ATJ) di Kabupaten Kutai Barat (Kubar) akan dilanjutkan setelah tertunda bertahun-tahun akibat ketiadaan biaya. Salah satu jembatan itu menghubungkan Kubar dengan calon ibu kota negara, Kabupaten Penajam Paser Utara.

Anggota Komisi III DPRD Kaltim, Martinus mengatakan pihaknya mencari strategi supaya pembangunan Jembatan Melak ATJ bisa dilanjutkan.

“Kami ada opsi yakni membuat rencana desain ulang jembatan itu. Meski begitu kemungkinan besar struktur yang lama kita pergunakan lagi,” katanya.

Untuk melanjutkan pembangunan, DPRD akan mendorong pemerintah daerah mengajukan pembiayaan melalui APBD kabupaten, APBD provinsi, dan APBN.

Menurut Marthinus, APBN harus dilibatkan di pembangunan ini karena Kubar turut berbatasan dengan PPU yang notabenenya sebagai calon IKN. Bahkan Kubar juga strategis dari sisi adat, sosial, dan wisata. Sedangkan pembangunan Jembatan Tering juga harus segera dilanjutkan. DPRD Kaltim siap untuk meneruskannya ke gubernur.

“Kalau Jembatan ATJ itu jadi, maka akses yang sekarang ini 10 jam, maka bisa ditempuh selama 5 jam saja ke Kukar dan Kota Bangun,” ungkap politisi dari Fraksi PDIP itu.

Komisi III akan mengundang Bappeda Kaltim untuk melakukan kajian, kapan rampungnya kedua jembatan tersebut.

Selain jembatan, persoalan yang mendesak dibahas ialah akses jalan dari Kubar ke Samarinda.

“Perbaikan akses jalan harus segera dianggarkan. Apalagi, Kubar juga dekat dengan calon IKN yakni PPU,” jelas Marthinus.

Wakil Bupati (Wabup) Kubar, Edyanto Arkan mengatakan untuk memuluskan rencana pembangunan kedua jembatan, Pemkab akan mengajak Pemkab Kubar dan Pemprov Kaltim dalam pembiayaan. Sebab, porsi kabupaten sudah cukup besar di dalam pembangunan itu.

“Namun karena keterbatasan kemampuan, jadi kita ini perlu dibantu oleh Pemprov dan APBN. Tampaknya dalam rapat ini disepakati pihak provinsi akan membantu dalam hal mengkoordinasikan dengan APBN dan APBD Kaltim,” ungkap Edyanto.

Pembiayaan untuk membangun 2 jembatan tersebut sudah cukup besar. Seandainya tak dilanjutkan, maka akan menimbulkan kerugian yang besar pula dan tak dapat dirasakan masyarakat.

Pada 2018 silam, Pemkab Kubar masih membutuhkan Rp 243 miliar. Jika anggaran untuk 2 jembatan itu bisa ditanggung bersama-sama, maka memungkinkan pembangunannya bisa terselesaikan.

“Kalau Jembatan Tering itu sudah direncanakan sejak 2002 dan dipancang pada 2005. Sedangkan Jembatan Melak ATJ itu dipancang pada 2012. Seyogyanya selesai pada 2015 tapi ada pengurangan penerimaan daerah pada 2015 secara nasional. Sehingga dana itu tidak dapat kita selesaikan,” lanjut Edyanto.

Diakui Edyanto, pembangunan jembatan bisa dikatakan terlambat secara fisik karena situasi alam. Sehingga, saat ini Pemkab Kubar menilai pembangunan 2 jembatan bisa disikapi secara hukum, teknis, maupun finansial.

“Kami bersyukur DPRD hari ini mengundang. Kita bersyukur. Ada kesepakatan kita bahwa ini harus bekerja sama,” tambah Edyanto.

Kedua jembatan tersebut dinilai sangat krusial dan strategis. Sebab akan menghubungkan kawasan pengembangan wilayah strategis nasional yakni Kubar-Kukar untuk komoditas pertanian.

Termasuk kawasan strategis nasional di perbatasan Mahulu. Jika jembatan direalisasikan, bisa memberikan akses lebih dekat bagi masyarakat dari perbatasan ke provinsi. Bahkan menghubungkan dari Kalteng-Kubar dan menuju Pelabuhan Maloy di Kutim. Namun memang, semuanya perlu waktu.

“Sehingga ini bisa jadi PR bersama. Tak hanya dari Kubar. Sebab bentangnya sangat panjan, lebih dari 100 meter. Wajar kalau ada keikutsertaan dukungan dari pemerintah pusat,” beber Edyanto.

Anggaran yang sudah dikeluarkan untuk Jembatan Melak ATJ sebelumnya sekitar Rp 300 miliar. Sedangkan Jembatan Tering sudah dikeluarkan Rp 55 miliar. Anggaran yang akan datang masih bakal diperhitungkan kembali bersama konsultan. (aaa/yos)

Simak video terbaru dari Nomor Satu Kaltim:

Leave A Reply