Banjir dan Longsor di Timor Leste Telan Puluhan Korban

Dili, nomorsatukaltim.com – Banjir Timor Leste telah membuat Markus dos Santos kehilangan hampir segalanya. Istri dan ketiga anaknya terkubur oleh longsoran lumpur dan air bah yang menghantam rumah mereka.

Markus masih ingat bagaimana ia mati-matian mengaduk-aduk reruntuhan. Mencoba menarik kedua putrinya yang masih kecil ke tempat yang aman. Seiring mereka mencari bantuan.

“Saya ingat putri sulung saya, saya berhasil naik ke tempat ia berada,” ujarnya tidak jauh dari reruntuhan rumahnya di pinggiran ibu kota Timor Leste, Dili.

“Kemudian saya mendengar suara putri kedua saya. Dia terkubur. Saya hanya bisa melihat kepalanya dan mendengar suaranya.”

Lumpur dan puing-puing terus berjatuhan. Tapi Markus cukup kuat untuk menarik kedua gadis itu ke tempat yang aman. Namun istrinya, Maria, tewas dalam banjir itu. Tetangga menemukan tubuhnya dan menyampaikan kabar tersebut kepada Markus keesokan harinya.

Kuil sederhana sekarang telah didirikan untuk mengenangnya, dengan dua lilin dan gambar salib kecil.

Markus juga kehilangan putranya yang berusia dua tahun, Zebrito. Mayat balita itu masih belum ditemukan. Kemungkinan besar terkubur di bawah reruntuhan.

“Saat fajar, saya dipanggil oleh satu orang. Dia mengatakan mereka menemukan (tubuh) istri saya tetapi belum menemukan anak saya. Saya tidak bisa berkata-kata,” ungkap Markus. “Saya tidak tahu harus berkata apa. Saya tidak tahu harus berbuat apa lagi.”

*

Timor Leste masih belum pulih dari bencana banjir yang melanda pada Minggu (4/4) lalu setelah hujan lebat. Korban tewas kini telah bertambah menjadi sedikitnya 42 orang, dengan banyak korban yang masih hilang.

Sementara itu, jumlah pengungsi yang berlindung di pusat-pusat evakuasi juga terus membengkak. Pejabat pemerintah daerah memperkirakan, lebih dari 14 ribu orang sekarang tinggal di pusat evakuasi, dan mereka semakin khawatir tentang penyebaran penyakit, serta kekurangan makanan.

Madalena Hanjan Da Costa Soares, Presiden Palang Merah Timor Leste, mengatakan, organisasinya harus menyediakan tempat penampungan sementara bagi para ibu dengan anak yang sangat kecil yang membutuhkan perawatan khusus.

“Kami menyediakan markas kami untuk menampung beberapa orang yang paling rentan. Ibu hamil dan bayi mereka di bawah dua tahun,” ucapnya. “Ada bayi yang berusia satu minggu, dua minggu (yang) kami akomodasi.”

Banjir mengganggu lockdown COVID-19 di seluruh kota di ibu kota Dili, dan para ahli memperingatkan pandemi dapat menghantam bagian kota tersebut setelah bencana itu.

Da Costa Soares mengatakan, organisasinya berusaha menjaga jarak sosial di tempat penampungan. Tetapi jumlah pengungsi yang berkembang membuat itu semakin sulit.

“Kami berusaha menyebar. Tapi sulit karena masih banyak korban yang datang ke posko pengungsian,” ujarnya.

*

Negara ini sekarang melanjutkan tugas yang panjang dan berat untuk pemulihan. Di mana penduduk setempat menghabiskan waktu berjam-jam untuk membersihkan lumpur tebal dari rumah mereka.

Warga Dili, Charles Muekel menuturkan, dia telah pindah dengan anggota keluarga lainnya setelah air banjir membuat rumahnya berantakan.

“Kami tidak bisa tidur di sini karena lumpur,” ujarnya. Muekel mengatakan, banjir pada Minggu (4/4) sangat mengerikan.

“Biasanya banjir tidak sebesar ini. Di halaman belakang kami ada pagar besar. Tapi pagar itu roboh dan airnya masuk. Cepat sekali. Kami pakai tali untuk (mengarungi) air,” ujarnya. “Tentu saja (ini menakutkan) karena kami memiliki banyak anak kecil.”

*

Walau banyak penduduk Dili menghadapi ketidakpastian dan tekanan ekonomi yang besar, penduduk setempat juga bersatu untuk membantu mereka yang mengungsi.

Cesar Gaio tadinya akan membuka restoran barunya “Dilicious Timor” pada awal Maret, sebelum rencananya diganggu pertama oleh lonjakan tajam kasus COVID-19 dan banjir.

Minggu ini, dia mengubah restorannya menjadi dapur umum yang menyajikan ribuan makanan untuk penduduk setempat yang kehilangan rumah dalam bencana tersebut.

“Kemarin kami antarkan 3.800 makanan. Kami antarkan untuk yang membutuhkan,” ujarnya.

Awalnya, Gaio membayar makanan dari kantongnya sendiri. Namun dia mengatakan, sumbangan sekarang mulai mengalir baik dari penduduk setempat maupun dari luar negeri, memungkinkan dia mengirim uang ke restoran lain yang memberikan bantuan serupa.

“Banyak orang mulai bertanya, ‘Hei, apa yang bisa kami bantu?’ Seorang teman saya di Australia menghubungi saya dan berkata, ‘Hei, bisakah kita melakukan penggalangan dana?’” katanya.

“Orang-orang senang bisa diberi makan selama sehari,” ujarnya. “(Namun) orang-orang masih putus asa. Ada lebih banyak permintaan untuk makanan.”

Pada Kamis (8/4) malam, pemerintah Timor Leste bertemu dan memberi Menteri Luar Negeri lampu hijau untuk “mencari dan menggalang bantuan internasional” setelah banjir.

“Kami terbuka untuk semua jenis bantuan,” ujar Menteri Pemerintah Timor Leste Fidelis Magalhaes.

Dia juga memberi tanda, Timor Leste akan segera secara resmi meminta bantuan dari pemerintah Australia.

“Sekarang menteri luar negeri secara resmi akan memberi tahu pihak Australia dengan spesifikasinya,” jelas dia.

Magalhaes mengatakan, pemerintah ingin membangun kembali infrastruktur yang rusak, seperti jalan dan jembatan, secepat mungkin. Tetapi masih menghadapi tantangan yang berat.

“Walau bencana mereda, sekarang kami berjuang dengan dampak topan,” tukasnya. “Kami takut penyakit seperti kolera, disentri, tifus, dan kemungkinan wabah COVID-19 yang berbahaya.”

Beberapa politisi senior juga mengkritik tanggapan pemerintah. Menuduhnya bergerak terlalu lambat. Pada Kamis, pemimpin partai Fretilin, mantan Perdana Menteri Mari Alkatiri mengatakan, para menteri senior Timor Leste “seharusnya sudah meresmikan permintaan bantuan sekarang.”

Beberapa badan Perserikatan Bangsa-Bangsa telah membantu mengoordinasikan upaya bantuan kemanusiaan langsung di lapangan. Sementara Kedutaan Australia telah memberikan bantuan di lapangan. Namun, Alkatiri mengatakan, banyak daerah terpencil di Timor Leste masih berjuang keras.

“Kami membutuhkan setidaknya satu helikopter pengangkut kargo besar (untuk membantu). Karena ada daerah terpencil di beberapa bagian negara itu dengan jalan yang terputus dan yang tidak bisa mendapatkan pasokan,” katanya.

Bahkan di Dili, banyak penyintas menghadapi masa depan yang menakutkan dan tidak pasti. Markus dos Santos mengaku membutuhkan bantuan. Kedua putrinya saat ini dirawat oleh organisasi gereja. Tetapi keluarganya menghadapi masa depan yang suram dan sulit.

“Saya tidak tahu apa yang harus saya lakukan dengan hidup saya mulai saat ini. Saya mempercayakan semua ini kepada pihak berwenang sekarang. Saya hanya menunggu untuk melihat bantuan seperti apa yang akan mereka berikan,” katanya. (mmt/qn)

Sumber: Kisah Pilu Korban Timor Leste: Keluarga Tewas, Kurang Makan, Masa Depan Suram

Simak video terbaru dari Nomor Satu Kaltim:

Leave A Reply