ngopi

Pertanyaan “Ayam atau Telur” Dipecahkan di Pojok Inspirasi

Bincang Ekspor dengan Kepala Bea Cukai Balikpapan, Firman Sane Hanafiah 

Semua pembicaraan soal ekspor dibicarakan santai sembari ngopi di Pojok Inspirasi. Sebuah ruangan sekira 3×5 meter di salah satu pojok kantor Bea Cukai Balikpapan. Yang memang dibuat khusus. Lengkap dengan beragam jenis biji kopi Nusantara.

Balikpapan, nomorsatukaltim.com – Ekspor produk perikanan Kaltim akan semakin bergairah. Sebab Balikpapan kini sudah melayani ekspor langsung ke negara tujuan. Melalui Bandara Sultan Aji Muhammad Sulaiman Sepinggan (SAMS) Balikpapan. Bagaimana ke depannya?

Salah satu yang berperan dalam proses ekspor produk di Kaltim adalah Kantor Pengawasan dan Pelayanan Bea dan Cukai (KPPBC) Tipe Madya Pabean Balikpapan.

Yang menjalankan peran jauh dari tugas dan fungsinya. Bukan untuk melangkahi banyak pihak. Tapi semata mendorong agar ekspor bergeliat. Yang pada ujungnya adalah pemasukan untuk daerah. Untuk negara.

“Jadi, kita menjadi katalisator. Merangkul banyak pihak agar ekspor produk Kaltim ini berjalan,” kata Firman Sane Hanafiah, Kantor Pengawasan dan Pelayanan Bea dan Cukai (KPPBC) Tipe Madya Pabean Balikpapan.

Seperti diketahui, 17 Maret lalu ada Launching Perdana Marine Product Kepiting Bakau. Yang digelar di Bandara SAMS Sepinggan. Sebanyak 7 ton kepiting bakau diterbangkan ke China. Dua hari sebelumnya juga mengirim 4 ton.

Layanan baru ini menjadi peluang bagus bagi eksportir perikanan. Karena akan memangkas biaya pengiriman.

Firman bilang, pembicaraan itu dimulai Agustus-September 2020 lalu. Bersama balai karantina perikanan dan pertanian. Membicarakan peluang apa produk yang bisa dikembangkan.

“Karena data dan teknisnya ada di mereka. Sementara tahun ini kami mendorong produk ekspor perikanan. Karena dari sisi pelaku usaha ada, kemudian logistik (layanan pengiriman) juga ada. Tinggal bagaimana keduanya dipertemukan,” terangnya, saat menerima Disway Kaltim bertandang akhir pekan lalu.

Dari itu kemudian diputuskan mengekspor produk perikanan laut. Selain kepiting, ada ikan kerapu dan bawal segar. Malaysia dan Singapura menjadi tujuan lainnya selain China.

Soal ekspor, kata Firman, banyak hal yang harus dipahami. Dari barang atau produk, volume dan waktu pengiriman.

Kaltim, menurut Firman, punya potensi memasarkan produk ke pasar internasional. Hanya saja selama ini belum menemukan komunikasi yang pas. Antara pengusaha dan penyedia jasa logistik.

Ekspor langsung yang sudah dibuka kini pun belum sepenuhnya lancar. Karena dalam alurnya, ada bottleneck yang sedikit menghambat. Memperpanjang proses ekspor. Seperti belum adanya pesawat khusus.

Karena masih menumpang maskapai penumpang. Yang artinya, secara volume pengakutan terbatas. “Kalau barang penumpang juga banyak, yang dikorbankan mau tidak mau adalah volume kargo (produk ekspor) itu. Karena masih menumpang. Bukan yang disewa khusus,” terangnya.

Karena itulah persoalan ekspor selama ini berkutat dalam volume dan layanannya. Pengusaha menunggu adanya layanan. Sementara penyedia jasa menunggu adanya volume produk yang cukup. “Inilah yang dibilang, ayam atau telur yang duluan,” sebutnya.

Meski begitu, Firman mengaku senang. Balikpapan sudah bisa melayani ekspor langsung. Pihak-pihak terkait sangat terbuka. Garuda Indonesia sebagai maskapai yang melayani juga menyambut baik rencana ini.

POJOK INSPIRASI

Semua pembicaraan soal ekspor dibicarakan santai sembari ngopi di Pojok Inspirasi. Sebuah ruangan sekira 3×5 meter di salah satu pojok kantor Bea Cukai Balikpapan. Yang memang dibuat khusus. Lengkap dengan beragam jenis biji kopi Nusantara.

pojok inspirasi

Ia memang punya kebiasaan menyeduh sendiri kopi untuk tamunya yang datang. (Benny Oktariyanto/nomorsatukaltim.com)

Firman yang sebelumnya bertugas di Banjarmasin merupakan sosok santai. Disway Kaltim diterima hangat di ruangan itu. Ia didampingi Kepala Seksi Penyuluhan dan Layanan Informasi, Wijaya Arif. Dua-duanya sama enjoy-nya. Ruangan ini menghilangkan jarak antara atasan dan bawahan. Tamu dan tuan rumah.

“Kadang saya ajak teman-teman ngobrol pekerjaan di sini. Kan kerja tidak harus selalu di ruangan. Supaya rileks,” sebutnya.

Menurutnya, keberadaan pojok inspirasi menjadi multifungsi. Yang melahirkan berbagai ide dan solusi. “Di sini kita bisa bekerja sambil ngopi. Ngopi itu juga memiliki arti, yaitu ngobrol penuh inspirasi,” kata pria kelahiran Bandung tersebut.

Firman memberi contoh soal terwujudnya ekspor produk perikanan langsung dari Bandara SAMS Sepinggan. Yang juga digagas di Pojok Insipirasi.

“Sambil menikmati secangkir kopi dan menyalurkan gagasan-gagasan brilian sehingga dapat meningkatkan ekspor. Hal ini tentu sejalan dengan program pemerintah khususnya pemulihan ekonomi,” ujarnya.

Selain itu, Bea Cukai Balikpapan juga menyediakan layanan Klinik Ekspor. Yang terbuka bagi masyarakat atau pelaku usaha yang ingin mencari informasi ekspor. “Layanan Klinik Ekspor sudah lama ada. Ada pelaku usaha yang tanya di klinik. Ada pula yang ingin informal bisa di Pojok Inspirasi. Terima tamu juga di sini. Saya coba menghidupkan gaya informal. Yang terpenting isinya. Isi dari hal yang diobrolin,” kata pria yang sudah bertugas di banyak daerah, seperti Jakarta, Kendari, Banjarmasin dan Sorong itu.

Bea Cukai Balikpapan bersama berbagai pihak akan terus fokus mengembangkan ekspor. Di mana saat ini memulai dengan memetakan potensi-potensi yang ada. Setelah fokus pada produk hasil perikanan laut, tahun depan sektor pertanian atau perkebunan menjadi target selanjutnya. (fey/eny2)

Simak video terbaru dari Nomor Satu Kaltim:

Leave A Reply