alexa
  • disway ntt malang
  • ngopisore

Jelajah Virtual UMKM ; Eksis dengan Inovasi dan Kolaborasi

Balikpapan, nomorsatukaltim.com – Menjelajah pasar online terus dilakukan pelaku UMKM. Pandemi memang menjadi pukulan berat. Tetapi menjadi tantangan untuk tetap berinovasi dan meningkatkan omzet penjualan.

Pemilik UD Aneka Loyang H Nuryaman dan Pemilik Bonles Frozen Food Santi Indriyana berbagi pengalaman dalam menjalankan inovasi di bisnisnya. Berbagi pengalaman tersebut dirangkai dalam Jelajah Virtual UMKM yang digelar Yayasan Dharma Bhakti Astra (YDBA) pada Kamis (8/4/2021).

Keduanya melakukan inovasi dan kolaborasi dalam bisnisnya. Kini bisnis tersebut tetap eksis dan menghasilkan omzet yang meningkat di masa pandemi.

Berawal dari Coba-Coba

Bonles Frozen Food satu diantara binaan YDBA yang tetap eksis sepanjang pandemic. Dengan mengoptimalkan peluang dan berinovasi. Berawal dari seorang karyawan, Santi Indriyana, sang pemilik memutuskan untuk memfokuskan diri menjadi pebisnis kuliner.

Melihat peluang bisnis di sekitarnya, Santi mendirikan usaha Bonles Frozen Food pada 2 Februari 2016. Ia mengatakan, mengawali bisnis dengan menyuplai ikan lele ke pelaku usaha katering setiap 1 hingga 2 minggu sekali. Dengan membuat lele yang dibumbui menjadi frozen food.

“Percobaannya pun membuahkan hasil yang tak disangka. Minat para customer semakin meningkat. Bahkan banyak permintaan untuk produk lainnya,” sebutnya.

Selanjutnya, Santi membuat produk lainnya seperti ikan mas bumbu, ayam ungkep bumbu, ayam rica-rica bumbu dan produk ikan air tawar lainnya yang dikemas dalam frozen food.

Santi mengoptimalkan media digital untuk memasarkan produknya. Mayoritas pelanggannya berasal dari media digital tersebut.

“Ibu-ibu muda modern yang bekerja, menjadi peluang untuk memasarkan produk frozen. Di masa pandemi, banyak ibu-ibu yang memilih membeli kebutuhan dapur termasuk lauk di toko ataupun media online,” tutur Santi.

Peluang itu jugalah yang dimanfaatkan Santi untuk memastikan omzetnya tetap aman di masa pandemi. Tak disangka, omzet Bonles Frozen Food naik 50 sampai 100 persen di awal pandemi. “Nominalnya bisa berkisar sekitar Rp 90 juta,” tandasnya.

Selain online, Santi juga memasarkan produknya secara offline.  Yaitu di beberapa mini market di Kota Bontang. Di antaranya Alfamidi, Eramart, Hendaramart, Pamadriri Mart dan Kokarmart.

Memiliki moto masak praktis, tanpa pengawet, pewarna dan penyedap rasa, membuat para customer percaya terhadap bisnisnya. Kini, Santi tengah memperluas pasar untuk mengoptimalkan reseller atau toko-toko di Kalimantan Timur dalam memasarkan produknya.

Untuk mendukung manajamen bisnis dalam usahanya, pada 2017 Santi bergabung menjadi binaan Lembaga Pengembangan Bisnis (LPB) Pama Besai Berinta.

Tembus Pasar ASEAN

UD Aneka Loyang, eksis dengan inovasi dan kolaborasi memasuki pasar online. Nuryaman adalah generasi pertama yang merintis UD Aneka Loyang pada 1998 silam.

Kompetensinya dalam membuat loyang didapat Maman, sapaan akrabnya, dari pengalamannya bekerja di sebuah industri pembuat loyang.

Melibatkan anak dan menantu di dalam bisnisnya, Maman berharap usaha yang telah dirintisnya dapat terus berkembang dan tidak lagi menjadi usaha yang one man show.

“Bergabung menjadi binaan YDBA pada tahun 2019. Dari situ memberikan awareness kita untuk menerapkan manajemen bisnis yang baik dalam usaha,” katanya melalui virtual.

Melalui pelatihan basic mentality, ia pun mulai membagi tugas dengan timnya. Melalui pembukuan sederhana, mulai membenahi keuangan bisnisnya. Sehingga mengetahui berapa omzet yang didapat.

Melalui YDBA, Maman mengatakan memiliki kesempatan untuk memasarkan produknya di pasar online. Di mana sebelumnya hanya di pasar offline. Yaitu pasar tradisional di daerah Citeureup, Kabupaten Bogor.

“Kesempatan memasarkan produk secara online tersebut didapat saat omzet usaha turun mencapai 50 persen. Tepatnya di awal masa pandemi. Saya diperkenalkan YDBA dengan Toko Pasti Puas, sebuah merchant di berbagai marketplace,” ujarnya.

Selanjutnya, ia mulai memasarkan produk di merchant tersebut. Kemudian omzet perlahan naik hingga 200 persen. Bahkan, produk loyangnya diterima di pasar ASEAN.

Sejak Juli 2020 hingga Maret tahun ini Maman telah menyuplai produknya sebanyak 9.180 pcs. Besarnya permintaan produk loyang, tidak membuatnya nyaman di zona tersebut.

Di tengah order yang meningkat, Maman melakukan inovasi proses dalam pembuatan produk. Awalnya membuat loyang bongkar pasang secara manual, saat ini menggunakan mesin rol.

Dalam Jelajah UMKM, Ketua Pengurus YDBA Sigit P. Kumala mengungkapkan bahwa pengalaman bisnis dari Nuryaman maupun Santi Indiryana mengedepankan inovasi dan kolaborasi dalam usahanya.

“Harapannya dapat menginspirasi pebisnis lain untuk menerapkan hal yang sama,” harapnya.

Sigit juga menambahkan, akan semakin banyak stakeholder lain seperti Toko Pasti Puas yang memberi kesempatan UMKM untuk memasarkan produknya di pasar online.

“Karena inovasi dan kolaborasi menjadi hal penting bagi para pebisnis dalam menjalankan usahanya, terlebih di masa pandemi yang telah berlangsung lebih dari 1 tahun ini,” ujarnya.

Membuat produk sesuai dengan tren atau kebutuhan customer, memasarkan produk di pasar online dan berkolaborasi dengan berbagai stakeholder untuk memasarkan produk.

“Selain itu melakukan perbaikan dan meningkatkan kapasitas produksi adalah beberapa contoh aplikasi UMKM agar usaha yang dijalankan tetap eksis dan berkembang,” tutupnya. (fey/eny)

Simak video terbaru dari Nomor Satu Kaltim:

Leave A Reply