alexa
disway ntt malang

Maksimalkan Pengelolaan HLSL

Kampung Lesan Dayak Minta Aspal 10 Km

TANJUNG REDEB, DISWAY – Kampung Lesan Dayak, Kecamatan Kelay, dianugerahi surga wisata dan budaya. Namun, potensi itu belum sepenuhnya didukung infrastruktur memadai. Terutama akses jalan utama perkampungan yang menjadi lokasi Hutan Lindung Sungai Lesan (HLSL).

Kepala Kampung Lesan Dayak, Yusrianto mengatakan, peningkatan atau pengaspalan akses jalan kampung bukan usulan baru yang disampaikan melalui Musyawarah Rencana Pembangunan (Musrenbang). Sejak dilayangkan tahun 2018, baru 800 meter yang direalisasikan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Berau.

Akibat tidak diakomodir lagi, dirinya “mempertaruhkan” sisa jabatan tiga tahun dengan meminta satu usulan prioritas untuk direalisasikan kepada Bupati Berau Sri Juniarsih. Yakni, pengaspalan jalan kampung sekira 10 kilometer (Km).

“Jika diminta memilih satu dari sekian banyak usulan prioritas yang ingin direalisasikan, saya minta satu usulan saja yakni pengaspalan jalan. Tapi harus tuntas 10 Km,” ujarnya kepada Disway Berau, Senin (5/4).

Usulan itu, bukan tanpa dasar diajukannya. Kata Yusrianto, memuluskan jalan menuju Kampung Lesan Dayak karena beberapa program kampung sejalan dengan impian bupati dan wakil bupati. Salah satunya, peningkatan perekonomian masyarakat dengan mengelola Sumber Daya Alam (SDA).

“Jadi semua sudah kami lakukan, tinggal dukungan infrastruktur saja dipermantap. Apalagi, Kampung Lesan Dayak cukup terkenal dengan wisata HLSL nya,” terangnya.

Keseriusan memajukan pariwisata HLSL, dengan menjalin kerja sama dengan 14 negara yang akan mengirim pelajar-pelajarnya untuk mengenal hutan Kalimantan di Kampung Lesan dayak dan meneliti orangutan, tumbuhan dan binatang langka lainnya. Program itu, dibantu Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) di wilayahnya.

“Setiap tahun akan ada pelajar dari 14 negara ke Berau. Makanya kami sangat berharap infrastruktur bisa teratasi. Bagaimana kami bisa meningkatkan perekonomian kalau infrastruktur saja belum optimal,” tegasnya.

Kendati demikian, Yusrianto memahami kondisi keuangan daerah yang seret imbas pandemik COVID-19. Jika terkendala anggaran, minimal ada usulan yang diakomodit.

“Jika usulan pengaspalan disetujui, pembangunan kampung tetap berjalan dengan menggunakan dana kampung. Seperti perbaikan jembatan maupun pengadaan rumah singgah untuk wisatawan,” pungkasnya. */ZUH/JUN

Simak video terbaru dari Nomor Satu Kaltim:

Leave A Reply