alexa
disway ntt malang

Kebakaran Kilang Pertamina, Ini 11 Kecelakaan Mematikan di Industri Migas

Jakarta, nomorsatukaltim.com – Kebakaran tangki di kilang Pertamina Refinery Unit (RU) VI Balongan, Indramayu, Senin (29/3) dini hari lalu menyisakan keprihatinan bagi industri migas nasional. Apalagi posisi Kilang Balongan cukup vital bagi distribusi Bahan Bakar Minyak (BBM) bagi PT Pertamina (Persero). Khususnya di Jawa.

Manajemen Pertamina memastikan stok BBM nasional tetap aman. Meskipun ada kebakaran tangki di Kilang Pertamina Balongan. Dalam konferensi pers Senin pagi, Direktur Utama Pertamina Nicke Widyawati menegaskan, yang terbakar pada dini hari lalu bukanlah kilang. Melainkan salah satu tempat penyimpanan atau tangki di area kilang tersebut.

Untuk fasilitas produksi dan jetty, dia menegaskan, dalam kondisi yang aman dan tidak terdampak api. Untuk tempat penyimpanan, selain yang terbakar, masih ada ada tangki lain dengan kapasitas yang sama.

Peristiwa ini mengingatkan pada kejadian-kejadian nahas yang menimpa sektor migas. Tak hanya Indonesia. Tapi global. Bukan hanya di darat (onshore). Tapi juga lepas pantai (offshore).

Bahkan bekerja di rig pengeboran minyak lepas pantai juga menjadi satu pekerjaan paling berbahaya di dunia. Hal ini diungkapkan hasil studi AdvisorSmith yang menggunakan data dari Badan Statistik Tenaga Kerja Amerika Serikat (AS).

Dalam studi ini disebutkan, salah satu dari 10 pekerjaan paling berbahaya di dunia adalah mereka yang bekerja di industri migas sebagai operator rig pengeboran. Dengan tingkat kematian sebanyak 41 orang untuk setiap 100.000 pekerja.

Pekerja bekerja dalam shift yang panjang setiap hari. Kadang bisa lebih dari 12 jam. Di tengah lautan, jauh dari peradaban manusia, pekerja tersebut terpenjara berminggu-minggu. Bahkan sampai berbulan-bulan. Sebelum bisa kembali menghirup udara kota.

Berikut adalah 11 kecelakaan terbesar yang memakan banyak korban jiwa. Sebagian besar terjadi di anjungan lepas pantai, sebagaimana dilansir dari CNN Indonesia.

Pertama, Piper Alpha. Piper Alpha adalah anjungan yang terletak di North Sea, 190 km dari timur laut Skotlandia. Ditemukan pada 1973 dan mulai memproduksi minyak pada 1976. Anjungan ini adalah satu-satunya yang paling besar di Inggris dengan produksi lebih dari 300 ribu barel per hari. Piper Alpha mulai memproduksi gas pada 1980.

Pada 6 Juli 1988 terjadi kecelakaan akibat kebocoran gas pada salah satu pipa kondensat. Kecelakaan tersebut menghancurkan keseluruhan fasilitas anjungan dengan estimasi kerugian mencapai USD 1,4 miliar. Dari 226 pekerja, hanya 21 yang berhasil selamat. Sebanyak 167 lainnya menjadi korban jiwa dalam ledakan tersebut.

Kedua, Alexander L Kielland. Alexander L Kielland juga terletak di North Sea. Tetapi anjungan yang dinamai dari penulis Nowegia ini dioperasikan oleh perusahaan asal Norwegia. Anjungan ini adalah tipe semi-submersible, yang memiliki gaya apung yang cukup untuk membuatnya terapung dan berat yang cukup untuk membuat strukturnya tegak dan kuat.

Pada Maret 1980, anjungan tersebut terbalik dan memakan 123 korban jiwa. Kemudian 89 kru lainnya berhasil selamat. Kebanyakan dari korban tersebut tewas akibat tenggelam ketika anjungan terbalik ke laut dalam.

Kecelakaan terjadi akibat kegagalan salah satu penyangga struktur anjungan. Karena angin kencang yang menghasilkan gelombang sekitar 12 meter. Awalnya anjungan hanya miring 30°. Tidak lama setelah itu semua penyaangga putus dan anjungan terbalik

Ketiga, Seacrest Drillship. Kecelakaan ini terjadi di perairan utara Natuna—430 km dari selatan Kota Bangkok. Peristiwa tersebut terjadi pada 3 November 1989. Memakan 91 korban jiwa. Kapal pengebor (drillship) adalah kapal motor yang telah dilengkapi dengan peralatan untuk aktivitas pengeboran minyak atau gas alam.

Pada 4 November 1989, kapal tersebut dilaporkan hilang. Kemudian ditemukan terbalik dalam pencarian menggunkan helikopter sehari setelahnya. Kecelakaan itu terjadi akibat topan kencang. Kapal dipercaya terbalik dengan cepat. sehingga anggota kru tidak sempat berbuat apa-apa. Hanya 6 pekerja yang berhasil diselamatkan oleh perahu nelayan dan angkatan laut Thailand.

Keempat, Ocean Ranger. Kecelakaan ini terjadi di lepas pantai Kanada pada 1982. Anjungan tipe semi-submersible ini terbalik dan tenggelam. Menewaskan 84 orang. Kecelakaan terjadi akibat badai besar dengan angin berkecepatan 190 km/jam. Akibatnya, terbentuk gelombang setinggi 20 meter.

Kelima, Glomar Java Sea Drillship. Kecelakaan ini terjadi di laut Natuna Utara pada 25 Oktober 1983. Kapal pengebor tersebut terbaik. Kemudian tenggelam hingga kedalaman 96 meter—148 km lepas pantai Vietnam.

Kapal tersebut dirakit di Texas dan dikontrakkan kepada ARCO China. Sebelum berakhir nahas di bawah laut, kapal itu pernah mengebor minyak di teluk Meksiko dan beroperasi di sepanjang garis pantai California. Pada saat kecelakan, kapal tersebut menghadapi angin kencang dengan kecepatan 138 km/jam.

Jumlah korban jiwa mencapai 81 orang. Setelah pencarian panjang yang dilakukan, kapal ditemukan dengan posisi terbalik. Hanya 36 jasad yang berhasil diangkat dan 45 lainnya diasumsikan meninggal.

Keenam, Bohai 2. Kecelakaan ini terjadi di lepas pantai China pada November 1979, dengan 72 orang dari total 76 kru meninggal dunia. Kecelakaan terjadi karena badai yang terjadi saat kapal sedang ditarik. Angin kencang menghancurkan pompa ventilator dan terjadi kebocoran di geladak. Hal ini mengakibatkan banjir besar.

Ketujuh, Enchova Central. Kecelakaan ini terjadi di cekungan Campos dekat Rio de Janeiro, Brasil. Pada saat evakuasi dilaksanakan, 42 orang tidak berhasil diselamatkan. Kecelakaan yang terjadi pada 1984 diakibatkan oleh blowout. yang menyebabkan kebakaran dan ledakan di ladang minyak yang dioperasikan oleh Petrobras.

Kedelapan, Mumbai High North. Kecelakaan ini terjadi di laut Arab dekat samudera Hindia. Atau 160 km lepas pantai sebelah barat Kota Mumbai. Anjungan tersebut dioperasikan oleh BUMN India: Oil and Natural Gas Corporation (ONGC). Insiden tersebut terjadi akibat tabrakan dengan kapal kargo yang menyebabkan kebakaran dan memakan 22 korban jiwa. Kecelakaan itu juga menyebabkan tumpahan minyak yang cukup signifikan.

Kesembilan, Usumacinta Jack-up. Kecelakaan terjadi pada 23 Oktober 2007 di teluk Meksiko. Jack-up seperti namanya adalah tipe anjungan yang bisa ditinggikan dan direndahkan seperti mekanisme dongkrak (jack).

Usumacinta yang posisnya berada di sebelah anjungan Kab-101 bertabrakan ketika sedang menyelesaikan pengeboran sumur Kab-103. Tabrakan tersebut terjadi akibat badai dengan kecepatan angin mencapai 130 km/jam. Hal ini menciptakan gelombang setinggi 8 meter dan menyebabkan pergerakan osilasi pada Usumacinta. Kecelakaan itu memakan 22 korban jiwa.

Kesepuluh, C.P. Baker Drilling Barge. Tongkang pengeboran minyak (drilling barge) adalah struktur terapung yang ditarik oleh kapal tunda dari satu lokasi ke lokasi lain. Biasanya beroperasi pada perairan dangkal dekap pantai.

Insiden ini terjadi akibat blowout pada 30 Juni 1964. Beberapa menit setelah terjadi kebakaran, kapal pun meledak. Sebanyak 22 orang berhasil selamat. Kebanyakan dari mereka melompat ke parairan untuk menyelamatkan diri. Kapal ditemukan tenggelam dengan posisi terbalik, 21 orang dinyatakan meninggal dunia, yang mana 13 jasad tidak pernah ditemukan.

Kesebelas, Deepwater Horizon. Dari 11 kecelakaan paling mematikan, ini merupakan yang paling baru. Insiden ini terjadi pada 20 April 2010 di teluk Meksiko. Yang juga merupakah insiden tumpahan minyak terbesar di AS. Menewaskan 11 pekerja rig. Dari 126 pekerja. Dan memuntahkan 4 juta barel minyak ke teluk Meksiko.

Deepwater Horizon dibangun oleh Hyundai di Korea dan menghabiskan total dana U$ 350 juta. Rig ini pernah mmelakukan pengeboran pada sumur terdalam sepanjang sejarah. Dengan kedalaman vertikal lebih dari 10 km.

Pada 2010 terjadi blowout yang menghasilkan ledakan besar. Rig pengeboran akhirnya terbalik dan tenggelam pada 22 April. Hal ini menyebabkan tumpahan minyak yang berlangsung hingga 87 hari.

BP menghabiskan USD 14 miliar untuk kegiatan pembersihan tumpahan minyak selama 2010-2015. BP juga membayar USD 6,67 miliar melalui Gulf Coast Claims Facility (GCCF)—trust fund yang disediakan oleh BP untuk menyelesaikan klaim yang timbul dari tumpahan minyak Deepwater Horizon.

Selain itu, Pengadilan Distrik AS untuk Distrik Timur Louisiana menyelesaikan Keputusan Persetujuan antara BP; Pemerintah Federal AS; dan lima negara bagian Pantai Teluk AS, termasuk Alabama, Florida, Louisiana, Mississippi, dan Texas; menangani serangkaian kasus hukum, untuk dana ganti rugi sebesar $ 18,7 miliar pada April 2016.

Total biaya yang ditanggung oleh BP untuk bencana Deepwater ini diperkirakan lebih dari USD 65 miliar atau setara Rp 910 triliun. (cnbc/qn)

Sumber: Nahas! Ini 11 Kecelakaan Paling Mematikan di Industri Migas

Simak video terbaru dari Nomor Satu Kaltim:

Leave A Reply