alexa
disway ntt malang

Masa Depan ANTM setelah Pembentukan IBC

Jakarta, nomorsatukaltim.com – Saham emiten pertambangan pelat merah nasional PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) melesat 11,47 persen di posisi Rp 2.430 per saham pada perdagangan akhir pekan lalu. Bahkan nilai transaksi sahamnya tertinggi melampaui saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA). Yakni mencapai Rp 1,5 triliun dalam sehari.

Sentimen positif untuk saham ANTM datang dari peresmian pembentukan holding perusahaan baterai BUMN: PT Indonesia Battery Corporation (IBC). Oleh Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN), Erick Thohir.

Pendirian perusahaan patungan antara empat BUMN ini bakal menelan biaya investasi hingga Rp 238 triliun atau USD 17 miliar. Masing-masing perusahaan BUMN yang terlibat yaitu PT Indonesia Asahan Alumunium (Persero)/Inalum alias MIND ID, anak usahanya ANTM, Pertamina dan PLN akan menguasai 25 persen saham IBC.

Rencananya IBC ingin memiliki kapasitas mencapai 140 Giga Watt Hour (GWh) dan 50 GWh di antaranya akan bisa diekspor. Lalu sisanya digunakan untuk produksi Electric Vehicle (EV) di Indonesia.

Erick menyebutkan, IBC akan bekerja sama dengan dua produsen baterai dari luar negeri: China’s Contemporary Amperexc Technology (CATL) dan LG Chem Ltd.

Menurut dia, tidak kalah penting untuk mengharapkan adanya alih teknologi dalam kerja sama ini. Ia menuturkan, dalam perjanjian terdapat mengenai stabilitas pasokan baterai listrik di dunia untuk kebutuhan energi terbarukan dan power listrik di rumah.

Terbentuknya IBC, menurut Erick, adalah transformasi kemajuan Indonesia di masa depan. COVID-19 juga dinilai mempercepat proses transformasi untuk industri baterai listrik.

Sebagai salah satu perusahaan tambang nasional, ANTM memiliki lini bisnis di bidang feronikel dan bijih nikel. Pada paruh pertama tahun lalu, pendapatan ANTM dari segmen ini mencapai Rp 2,11 triliun atau sekitar 23 persen dari seluruh pendapatan emiten.

Di sektor hulu, ANTM memiliki tiga tambang yang berlokasi di tambang Pomala, tambang Buli, dan tambang pulau Gag. ANTM memiliki pabrik pengolahan nikel di Pomalaa dan produk hilirnya adalah shot feronikel.

Saat ini ANTM memiliki dua proyek utama dalam pengembangan. Pertama, pabrik feronikel di Halmahera yang ditargetkan memiliki kapasitas 27.000 TNi per tahun. Pembangunan pabrik ini diestimasikan bakal menelan biaya Rp 3,5 triliun—di luar power plant.

Kedua, Smelter Grade Alumina Refinery (SGAR) Mempawah. SGA yang ditargetkan untuk diproduksi mencapai 1 juta ton dan menelan dana investasi mencapai USD 850 juta.

ANTM juga secara konsisten terus berupaya melakukan kegiatan eksplorasi untuk mempertahankan sumber daya dan cadangan mineral bauksit.

Berdasarkan laporan eksplorasi perusahaan per 17 Maret 2021, ANTM melakukan eksplorasi di tiga lokasi. Dua lokasi berada di Sulawesi Selatan: Tapunopaka dan Pomalaa. Satunya lagi di Indonesia Timur: Buli di Halmahera Timur.

Tahun lalu kinerja keuangan ANTM mengalami perbaikan. Meskipun pendapatan usaha mengalami penurunan 16 persen menjadi Rp 27,37 triliun. Tahun sebelumnya pendapatan ANTM mencapai Rp 32,72 triliun. Hampir seluruh produk ANTM mengalami penurunan penjualan di sepanjang tahun lalu. Mulai dari emas, feronikel, bijih bauksit, batu bara hingga perak.

Di saat penjualan turun 16 persen (yoy) harga pokok penjualan pun mengalami penurunan dengan laju yang sama. Penurunan biaya produksi dipicu oleh penurunan pembelian logam mulia serta pemakaian bahan bakar.

Laba usaha ANTM melonjak signifikan dari Rp 955 miliar pada 2019 menjadi Rp 2,03 triliun. Laba usaha melesat 113 persen (yoy). Kenaikan laba usaha disebabkan oleh penurunan tajam beban penjualan dan pemasaran yang turun 63,1 persen (yoy).

Laba tahun berjalan ANTM juga ikut terkerek signifikan. Dari Rp 193,8 miliar menjadi Rp 1,15 triliun pada 2020. Laba tahun berjalan melompat 5,9 kali hanya dalam satu tahun.

Ke depan tren penggunaan baterai nikel untuk mobil listrik bakal berkembang pesat. Tentu saja ini akan menguntungkan ANTM yang memang salah satu portfolio bisnisnya di sektor tambang nikel.

Kendati keuntungan tak hanya dimonopoli ANTM. Tapi juga emiten nikel lain. Apalagi MIND ID, induk ANTM, juga membawahi PT Timah Tbk (TINS) dan memiliki 20 persen saham PT Vale Indonesia Tbk (INCO). Sejumlah emiten batu bara juga mulai masuk tambang nikel. Termasuk PT Harum Energy Tbk (HRUM).

Berdasarkan pemetaan Badan Geologi pada Juli 2020, Indonesia memiliki sumber daya bijih nikel sebesar 11.887 juta tondan cadangan bijih sebesar 4.346 juta ton. Sedangkan untuk total sumber daya logam mencapai 174 juta ton dan 68 juta ton cadangan logam.

Sampai saat ini, Area Sulawesi Tenggara, Sulawesi Tengah, dan Maluku Utara mempunyai potensi yang terbesar di Indonesia. Negara ini juga menjadi salah satu produsen nikel terbesar di dunia dengan menyumbang 27 persen dari total produksi global.

Analis dan ekonom pun memberikan outlook bullish untuk harga nikel. Akibat tren penjualan mobil listrik yang diramal bakal terus naik karena sentimen commodity supercylce. Salah satu yang memberikan ramalan bullish tersebut adalah Goldman Sachs.

Bank investasi asal Wall Street itu memperkirakan target harga nikel akan menyentuh USD 21 ribu per ton dalam periode 12 bulan ini. Goldman Sachs merevisi naik harga nikel dari sebelumnya USD 16 ribu per ton.

Dalam update terbarunya, Goldman Sachs memandang tren penjualan mobil listrik masih akan terus meningkat. Jika tidak dibarengi dengan upgrade penggunaan baterai dari nikel, maka pasokan nikel diramal bakal defisit mulai dari 2023.

Prospek harga nikel dan mobil listrik yang cerah ini digadang-gadang menjadi katalis positif bagi kinerja keuangan ANTM. Kinerja keuangan ANTM biasanya sering angin-anginan secara kuartalan. Akibat harga komoditas yang tidak stabil. Karena itu, diharapkan akan mampu konsisten menghijau di tahun-tahun mendatang.

Bahkan dengan hadirnya IBC ini produksi nikel yang sebelumnya mesti diekspor kini akan langsung memiliki standby buyer dari dalam negeri. Sehingga produksi bisa digenjot dengan aman.

Apalagi dengan dibentuknya IBC. Hal ini menunjukkan keseriusan pemerintah. Dalam mengembangkan industrik nikel lokal yang potensinya masih sangat besar. Di mana Indonesia memiliki cadangan nikel sebanyak 21 juta mega ton.

Selain itu, Indonesia merupakan produsen nikel terbesar di dunia dengan total produksi mencapai 800 ribu mega ton per tahun, dua kali lipat dibandingkan dengan posisi kedua Filipina yang hanya mampu memproduksi sekitar 400 ribu mega ton nikel per tahun.

Di sisi lain, dari pasar saham, jelang penutupan sesi I, Senin (29/3), saham-saham nikel berguguran. Saham ANTM minus 4,12 persen di Rp 2.320 per saham, INCO turun 1,50 persen di Rp 4.600, HRUM stagnan Rp 5.200, dan TINS (PT Timah) minus 3,43 persen di Rp 1.690 per saham. (cnbc/qn)

Sumber: Erick Resmikan IBC, Sinyal Baik atau Biasa Saja buat ANTM Cs?

Simak video terbaru dari Nomor Satu Kaltim:

Leave A Reply