alexa
  • disway ntt malang
  • ngopisore

Pembukaan Sekolah di Samarinda Segera Bertambah

Dinas Pendidikan Kota Samarinda segera mengizinkan sejumlah sekolah memulai pembelajaran tatap muka (PTM). Selama tiga pekan PTM di empat sekolah, Satgas belum menemukan adanya penularan. Ahli menyebut pemerintah harus berhati-hati.

nomorsatukaltim.com – EMPAT sekolah yang sudah menjalani PTM ialah SD dan SMP Islamic Center, SMP Negeri 42, dan SMP Nabil Husein. Sekolah itu diizinkan belajar mengajar langsung setelah ditetapkan sebagai Sekolah Tangguh oleh Pemerintah Kota Samarinda.

Kepala Sekolah Dasar (SD) Islamic Center, Abdi Rahman mengatakan, sebelum memulai PTM, seluruh guru dan staf telah melakukan vaksinasi. Hal itu, memang menjadi syarat pelaksanaan PTM. Ia juga mengaku bersyukur, sekolah yang ia pimpin dipercaya menjadi salah satu pilot project Sekolah Tangguh COVID-19.

“Sekitar awal Maret, kami menerima kunjungan Wakil Wali Kota Samarinda, Pak Rusmadi. Untuk meninjau persiapan sarana-prasarana protokol kesehatan. Kemudian diinfokan, untuk mulai melaksanakan PTM per 8 Maret,” terang Abdi kepada Reporter Disway Kaltim dan nomorsatukaltim.com, Jumat (26/3/2021).

Sekolah Islam yang telah berdiri sejak 2012 ini sebelumnya menerapkan sistem full day school. Dengan jadwal pembelajaran setiap Senin hingga Jumat. Dimulai pukul 07.15 sampai dengan pukul 16.00.

Kini, menyesuaikan dengan mekanisme PTM. Pembelajaran di sekolah hanya dijadwalkan Senin sampai Kamis. Dengan waktu dan jumlah siswa yang terbatas. Setiap Senin dan Rabu dijadwalkan untuk kelas ganjil. Yakni kelas 1, 3, dan 5. Sementara hari Selasa dan Kamis untuk jadwal pembelajaran kelas genap. Yaitu kelas 2, 4, dan 6. Sehingga, peserta didik, hanya menghadiri PTM dua kali dalam sepekan.

“Per hari ada dua sesi pembelajaran. Sesi pertama dimulai pukul 7.30 sampai 10.30 pagi. Dan sesi kedua, pukul 12 sampai pukul 15 sore,” terang Abdi.

Dalam jeda sesi itu. Pihak sekolah akan menyeterilisasi ruangan dengan disinfektan. Dan memastikan kondisi ruangan dalam keadaan bersih. Setiap anak hanya menghadiri kelas selama 2,5 jam per hari. Tanpa istirahat di luar kelas.

“Jumlah siswa kami ada 454 orang. Dengan kapasitas 25 siswa per kelas. Selama PTM ini, setiap kelas kami bagi jadi dua shift. Jadi setiap kelas hanya di isi antara 12 atau 13 siswa,” tandasnya.

Dalam setiap pertemuan, siswa akan menerima 3 mata pelajaran (mapel). Yakni  mapel tematik meliputi Matematika, Bahasa Indonesia, Pendidikan Jasmani, IPA, IPS, Mulok dan PKn. Kemudian dilanjutkan dengan mapel qiro’ati dan tahfidz. Sementara setiap hari Jumat, PTM dikosongkan. Dan pembelajaran dilakukan secara daring.

“Khusus hari Jumat kami jadwalkan untuk setoran hafalan Quran melalui video call,” jelas Abdi.

Seluruh siswa juga wajib menjalankan salat duha. Setiap pagi, sejak pukul 7.30 hingga pukul 8 pagi. Baik saat PTM mau pun saat belajar dari rumah.

Pihak sekolah juga telah melengkapi fasilitas sarana prasarana protokol kesehatan. Dengan menyediakan 17 wastafel di dalam dan luar ruangan, untuk mencuci tangan. Thermo gun untuk mengukur suhu tubuh, dan alat kebersihan lainnya. Seperti sapu, tempat sampah, hand sanitizer, disinfektan, tisu dan sebagainya.

Sebelum masuk kelas, siswa diukur suhu tubuhnya dengan thermo gun. Jika kondisi tubuh dalam keadaan demam, siswa akan diistirahatkan di UKS kemudian dipulangkan.

Selama lebih 2 pekan berjalan, Abdi menyebut proses PTM relatif lancar. Pihak sekolah juga menyiapkan tim satgas untuk mengontrol dan mengawasi jalannya pembelajaran.

Untuk proses antar jemput ke sekolah. Sepenuhnya menjadi tanggung jawab orang tua murid. Dan setiap siswa tidak diizinkan pergi keluar lingkungan sekolah, sebelum dijemput oleh wali murid atau pun pihak keluarga.

Kasus Positif COVID-19 Selama PTM

Abdi menegaskan, selama pelaksanan PTM. Belum ada kasus penemuan COVID-19 di lingkungan sekolah. Namun, infeksi virus tetap terjadi di lingkungan keluarga. Baik murid mau pun para guru. Jika hal itu terjadi, pihak sekolah dan keluarga saling kooperatif untuk menjalin komunikasi.

Ketika ditemukan ada dari keluarga siswa yang terpapar virus. Maka siswa dilarang untuk hadir ke sekolah. Demi mencegah penularan kepada siswa lain. Dan diajurkan untuk melakukan isolasi mandiri di rumah selama 2 pekan.

“Kami saling menjaga keterbukaan dengan orang tua murid. Dalam keadaan apa pun lebih banyak toleransi. Kalau ada yang terpapar, siswa tidak masuk dulu ke sekolah tidak apa-apa.”

“Atau pun semisal siswa hanya demam atau batuk boleh diizinkan untuk tidak hadir. Dan memilih daring,” sambungnya.

Abdi juga menyebut, jika dari pihak guru atau tenaga kependidikan nantinya ada yang terpapar. Pihaknya telah berkoordinasi dengan Klinik Islamic Center untuk memberikan perawatan. Hal ini juga menjadi keunggulan sekolah ini. Karena memiliki sistem yang terpadu dengan bidang kesehatan.

Proses PTM yang dilaksanakan saat ini masih dalam proses percobaan. Konsep pembelajaran bisa berubah setiap waktu tergantung kondisi perkembangan kasus. Masing-masing orang tua siswa juga diberi kebebasan penuh untuk memberikan izin anaknya belajar di sekolah. Maupun secara daring.

Terakhir, Abdi berharap pemangku kepentingan terkait. Mulai dari dinas pendidikan, kesehatan, dan pemerintah kota. Turut memantau dan mengawasi proses PTM di Sekolah Tangguh COVID-19.

Disway Kaltim edisi 27 Maret 2021.

Guru Masih Khawatir

Salah satu tenaga pengajar di SD Islamic Center Samarinda, Nurhadi mengaku masih khawatir pelaksanaan PTM.

“Kekhawatiran pasti ada. Apalagi ini pandemi COVID-19. Tapi, kita merasa bahwa pembelajaran yang tidak disampaikan secara langsung. Ada yang tidak sampai ( ke siswa),” ungkap Hadi, Jumat (25/3).

“Walau pun ada feedback di pembelajaran daring. Tapi rasanya kalau berhadapan langsung dengan siswa, bisa lebih tersampaikan. Selain pelajaran kami juga menanamkan sikap,” tambah Hadi.

Guru mata pelajaran IPS dan Pendidikan Kewarganegaraan (PKn) ini mengaku. Selama pemberlakuan PTM. Ia harus menyesuaikan ulang sistem penyampaian materi. Karena waktu pertemuan yang reaktif singkat. Durasi PTM bagi masing-masing kelas adalah 2,5 jam per hari. Dari waktu itu, ia hanya mendapat jatah 30 menit. Untuk penyampaian satu mata pelajaran.

Sehingga materi yang disampaikan harus lebih fokus pada pokok-pokok pembelajaran. Mengingat waktu pembelajaran yang sangat terbatas.

“Jadi ya berpacu dengan waktu. Dari satu kelas ke kelas lain tanpa break. Biasa normal waktu pembelajaran itu kan 2 x 30 menit. Kini dipangkas separuhnya,” keluhnya.

Belum lagi, beberapa murid yang tidak bisa menghadiri pembelajaran secara langsung. Sehingga ia harus menyesuaikan kembali pemberian materi secara daring.

Selama pelaksanaan PTM. Guru diwajibkan hadir setiap hari ke sekolah. Hadi menyebut, pelaksanaan PTM ini juga sudah mendapat izin dari orang tua siswa.

Kalau pun ada orang tua yang tidak mengizinkan anaknya melaksanakan PTM di sekolah. Pihak sekolah akan memberikan pelayanan pendidikan yang sama secara online.

Selain sebagai tenaga pengajar, Hadi juga merupakan Ketua Satgas COVID-19 di SD Islamic Center. Ia bertugas mengontrol dan mengawasi pelaksanaan protokol kesehatan di lingkungan sekolah. Dan mekoordinir guru-guru untuk menjaga anak didiknya.

Tim Satgas ini, juga memiliki Divisi Psikososial. Tim ini, bertugas untuk memberikan pendampingan dan konseling kepada anak-anak dari keluarga penyintas COVID-19. Untuk menghapus trauma psikis mereka. Dan mengedukasi siswa lain agar saling menerima keberadaan sesama. Meski pun salah satu dari mereka adalah adalah penyintas COVID-19.

“Kita pahamkan anak-anak misal yang keluarganya pernah positif. Tidak ada masalah. Tidak perlu dijauhi. Kalau sudah sembuh, ya sudah. Kembali bergaul seperti biasa,” ucapnya.

14 Sekolah

Sekolah Tangguh COVID-19 adalah program yang diinisiasi oleh pemerintah kota Samarinda. Dalam upaya penanganan COVID-19 di bidang pendidikan. Program ini, akan menjadi pilot project untuk pelaksanaan pembelajaran tatap muka (PTM) di beberapa sekolah. Dan merupakan prioritas program 100 Hari Kerja Wali Kota dan Wakil Wali Kota baru. Andi Harun dan Rusmadi Wongso.

Ada 14 sekolah yang mengikuti program Sekolah Tangguh. Program ini, resmi dibuka pada Senin, 8 Maret 2021. Dengan memulai PTM di 4 sekolah tangguh pada tahap pertama. Di antaranya ada SD dan SMP Islamic Center, SMPN 42, dan SMP Nabil Husein. Sementara 10 sekolah tangguh lainnya, akan menyusul pada pelaksanaan PTM tahap ke dua dan ke tiga.

Kepala Dinas Pendidikan (Disdik) Kota Samarinda, Asli Nuryadin menjelaskan Sekolah Tangguh COVID-19 adalah sekolah yang mampu memutus mata rantai penyebaran virus. Dengan menerapkan protokol kesehatan yang ketat.

Hal ini, bertujuan untuk membentuk kebiasaan, karakter, dan kultur baru di lingkungan sekolah.  “Sekolah Tangguh COVID-19 yang dipersiapkan dalam prioritas program 100 hari kerja, ada 4 TK, 4 SD dan 6 SMP yang berada di wilayah Kota Samarinda,” jelas Asli kepada Disway Kaltim, Jumat (26/3).

Sekolah Tangguh COVID-19 memiliki lima kategori tangguh yang terdiri dari tangguh informasi, tangguh kesehatan, tangguh keamanan, tangguh pendidikan, dan tangguh gizi.

Ada pun kriteria yang harus dipenuhi sekolah dalam program Sekolah Tangguh ini. Meliputi kesiapan sekolah seperti fisik bangunan, kelas, kebersihan, dan UKS.  Kesiapan guru, tenaga kependidikan, dan orang tua siswa. Serta ketersediaan jaringan internet dan tingkat mobilisasi warga.

Sekolah juga wajib menjalankan protokol kesehatan 5 M. Yakni memakai masker, mencuci tangan, menjaga jarak, menjauhi kerumunan, serta membatasi mobilisasi dan interaksi. Termasuk sarana prasarana protokol kesehatan, seperti tempat mencuci tangan, hand sanitaizer,  pengukur suhu tubuh, dan fasilitas pendukung lainnya.

Dinas Pendidikan berharap stakeholder terkait seperti Dinas Kesehatan dan  Puskesmas dapat bersinergi mengawasi jalannya program Sekolah Tangguh COVID-19.

Terkait pelaksanaan PTM secara nasional, penemu pertama kasus AIDS di Indonesia, Profesor Zubairi Djoerban mengaku setuju dengan catatan. “Sikap saya ya setuju sekolah dibuka, asal positivity rate kurang dari 5 persen. Apakah saat ini sudah aman? Ya belum,” tulis Zubairi di akun Twitter miliknya.

Menurutnya, belajar dan mengajar secara virtual tidak ideal, tetapi ia juga tidak menyatakan senang sekolah tatap muka akan dibuka dalam waktu dekat. “Di lain sisi, saya juga mengerti dorongan untuk membuka sekolah itu besar, termasuk dari pemerintah,” jelasnya.

Menurut Zubairi, positivity rate Indonesia rata-rata 20 persen ke atas. Kondisi itu akan rawan untuk siswa—karena risiko penularannya amat tinggi.

“Semoga, Juli nanti, positivity rate kita bisa di bawah 5 persen, dan itu pun harus tetap patuh prokes,” ujarnya. Saat itu, PTM bisa dibuka dengan 50 persen jam sekolah biasa. Kelas jangan langsung diisi penuh. Dan, kegiatan belajar diselingi keluar kelas untuk melakukan olahraga. (krv/yos)

Simak video terbaru dari Nomor Satu Kaltim:

Leave A Reply