Anak-Anak Korban Kebakaran di Gunung Polisi Diberi Trauma Healing

Balikpapan, nomorsatukaltim.com – Musibah kebakaran yang terjadi pada Kamis (18/3/2021) lalu di RT 38 dan RT 46 Kelurahan Baru Ilir, Balikpapan Barat menyisakan kesedihan mendalam. Terlebih bagi mereka yang kehilangan harta benda.

Aktivitas keseharian yang tadinya aman dan nyaman, berubah total karena mereka harus pindah atau mengungsi ke posko bencana sementara waktu. Kondisi ini dapat menimbulkan tekanan, kecemasan bahkan trauma. Bila berkelanjutan dan tidak ditangani, dapat berujung pada gangguan psikologis seperti depresi.

Oleh karena itu, TNI-Polri dan Pemerintah Kota Balikpapan melalui Babinsa dan Bhabinkamtibmas Baru Ilir, serta Dinas Pemberdayaan Perempuan Perlindungan Anak dan Keluarga Berencana (DP3AKB) Kota Balikpapan, ikut andil dalam kegiatan pelayanan dan bimbingan psikososial, atau trauma healing bagi anak – anak korban kebakaran. Kegiatan ini dilakukan sejak Sabtu (20/3/2021) hingga beberapa hari ke depan.

“Kita sengaja melakukan hal ini agar para korban kebakaran, khususnya anak-anak ini dapat terhibur dan melupakan kejadian kemarin,” ujar dr. Syafaah dari DP3AKB, Minggu (21/3/2021).

Dalam kegiatan tersebut, sekitar 20 orang anak diajak bermain dengan beragam teknik permainan untuk mengatasi trauma anak. Antara lain bermain pasif, bermain aktif motorik halus, dan bermain aktif motorik kasar, yang bertujuan agar dapat mengeluarkan perasaan sedih di alam bawah sadar mereka.

“Kegiatan ini terlihat sederhana, namun mampu memfasilitasi anak untuk menyuarakan perasaan dan harapannya,” jelasnya.

Lanjut dr. Syafaah, pihak yang paling rentan mengalami trauma akibat bencana adalah anak-anak dan remaja. Hal ini disebabkan karena mereka belum memiliki kapasitas yang memadai dalam mengontrol emosi dan menyelesaikan masalah secara adaptif.

“Kita harus peka, mungkin tampak dari luar terlihat baik, tetapi belum tentu perasaannya, pemberian pelayanan psikologis yang intensif bagi korban bencana dapat mencegah timbulnya depresi dan meningkatkan ketahanan, sehingga kelak mereka menjadi lebih tangguh menghadapi masalah,” tambahnya.

Pemulihan trauma bukanlah hal yang instan. Saat kegiatan psikososial telah dilakukan, bukan berarti semuanya telah berakhir. Masih diperlukan kegiatan serupa sambil dilakukan monitoring dan evaluasi, agar program pemulihan trauma dapat mencapai hasil yang signifikan, yaitu terwujudnya kesejahteraan psikologis pada korban bencana.

“Kita harus berikan terapi ini secara continue agar si anak ini bisa lekas pulih dari ingatan atau emosi musibah ini. Tapi dengan cara yang tepat juga,” ujarnya.

Sementara itu usai kegiatan trauma healing ini, Kapolresta Balikpapan Kombes Pol Turmudi yang hadir di posko kebakaran, mengajak anak-anak korban kebakaran untuk makan bersama sembari memborong dagangan warga yang ada saat melintas di depan posko.

“Tujuan cuma satu, yaitu mau menghibur mereka agar tidak sedih dan melupakan kejadian kemarin,” ujarnya. (Bom/zul)

Leave A Reply