Mengikuti Pelayaran Tongkang Batu Bara (2): Menanti Panggilan Dekat Muara Kaman

Yang paling mengkhawatirkan memasuki anak Sungai Mahakam adalah banyaknya ativitas penduduk. Jalurnya sempit dan meliuk-liuk.  Apalagi menarik tongkang kosong. Pantangannya banyak. Selain kabut, juga angin kencang. Kondisi tongkang bisa terombang-ambing menimpa rumah warga. Pilihan aman masuk pada saat malam hari.  

Pewarta: Darul Asmawan

APA yang dikhawatirkan kapten Jumardin tidak terjadi. Hanya ada kabut tipis di beberapa titik. Yang masih bisa ditolerir. Jumardin mengambil keputusan Kapal Lintas Samudera (Lisa) 53 yang menarik tongkang batu bara kosong berlayar sepanjang malam. Dari Tanjung Batu Kukar menuju Desa Senyiur, Kecamatan Muara Ancalong. Berjalan pelan dan tambat pada Sabtu (13/2) pukul 07.30 Wita di dekat Muara Kaman.

“Kabut semalam itu tidak terlalu parah. Jadi kita masih bisa jalan pelan. Sambil berkoordinasi dengan kapal di depan,” ujar Jumardin di ruang kendali kapal.

Sebelum tambat itu, tongkang yang ditarik Lisa 53 hampir saja menabrak sebuah perahu mesin tempel di pinggir sungai. Milik warga. Itu salah satu risiko berlayar malam hari. Pandangan terbatas. Belum lagi kabut yang tak bisa diprediksi. Biasanya kabut tebal muncul sekitar pukul 00.00 hingga pagi.

Keuntungan berlayar malam karena tidak banyak aktifitas masyarakat di Sungai Mahakam. Kecuali tongkang yang hilir mudik selama 24 jam.

Berita Terkait:

Tegang Berpapasan dengan Kapal Lawan Arah

“Kalau kita senggol sedikit saja perahu warga tadi malam, ganti rugi kita. Nominalnya tidak sedikit itu. Kadang ganti sama mesin. Padahal tidak ada mesinnya di situ”.

Kejadian semacam itu sudah sering. Apalagi cerita tentang tongkang terbalik. Atau tongkang yang menabrak sisi daratan atau rumah-rumah dan bangunan lain di sisi sungai. Selain kabut, juga bisa pengaruh angin kencang.

Sore itu, Jumardin baru saja menyelesaikan istirahatnya. Dan menyeduh segelas kopi. Lalu menuju dek atas, melanjutkan bercerita. Jumardin adalah orang yang penuh cerita. Tak pernah kehabisan bahan. Selalu antusias menceritakan apa saja. Terutama soal politik.

Sambil menyeruput kopinya, ia mengatakan, hal yang paling ditakutinya beroperasi di mahakam ialah cuaca. Menarik tongkang kosong bukan tanpa risiko. Selain kabut, angin kencang bisa menyeret kapal ke daratan. Apalagi jika melawan arus. Salah-salah menabrak pemukiman atau perahu warga yang lalu lalang. 

“Kadang kalau sudah angin kencang, malah tugboat ini yang ditarik oleh tongkang,” sebutnya.

Mengikuti Pelayaran Tongkang Batu Bara (2): Menanti Panggilan Dekat Muara Kaman
Sejumlah tongkang batu bara tambat di pinggir Sungai Mahakam. Sekitar 3 km dari Muara Kaman, Kukar. Mereka menunggu panggilan masuk ke Sungai Senyiur–anak Sungai Mahakam untuk mengangkut batu bara.

Tetapi ayah dua anak ini yakin dengan kekuatan tugboat Lisa 53. Dianggap super power dan lihai bermanuver. Menurutnya terbaik dari sekian puluh kapal yang pernah dicicipinya selama 12 tahun berkarier sebagai pelaut. Meski hanya bermodal mesin 1.200 PS, Jumardin berani menyandingkannya dengan tugboat yang berbekal mesin 2.000 PS.

Ukuran bodi, kapasitas mesin dan baling-baling Lisa 53 dianggap sangat ideal. Sehingga membuatnya lebih tangguh dan cepat. Termasuk ketika dipergunakan untuk menarik tongkang ukuran 270 (feet) jumbo.

Oleh karenanya, Jumardin dan delapan awak Lisa 53 merawat kapal itu dengan baik. Kondisi kapal selalu terlihat bersih dan mengilap. Itulah tempat bekerja sekaligus tempat tinggal bagi para perantau dari Sulawesi Selatan ini.

Sudah sehari Lisa 53 tambat di sisi kanan (dari hilir) Sungai Mahakam. Sejak Sabtu pagi. Berjarak sekitar tiga kilometer dari Muara Kaman. Tempat tambat itu bukan dermaga. Melainkan hanya daratan belukar. Namun, pemilik lahan menarik retribusi setiap tongkang yang tambat. Jumardin tak mengetahui nominalnya. Ia hanya perlu melaporkan ke kantor pemilik Lisa 53. Berapa lama ia tambat di tempat itu.

Waktu tambat tongkang akan disesuaikan dengan tagihan yang diajukan pemilik lahan. Kadang mereka hanya memantau dari jauh kapal-kapal yang tambat. Dan menghitung lamanya berada di pinggiran mahakam.

Lisa 53 tak sendiri, ada lima tongkang lain yang juga tambat di sepanjang bantaran itu. Semuanya mengantre untuk memuat batu bara di Senyiur. Begitulah peraturannya. Tongkang yang hendak masuk ke Senyiur harus menunggu panggilan. Kemudian dipandu menyusuri anak Sungai Mahakam tersebut. Jika antrean kapal tongkang di Muara Kaman sepanjang itu, artinya tongkang di sekitar dermaga Senyiur juga sedang ramai.

*****

PANGGILAN DATANG

Para awak Lisa 53 sudah selesai membersihkan kapal menjelang petang. Sebagian menyelesaikan memasak hidangan makan malam. Sebagian bersiap menunaikan salat magrib di dek paling bawah. Itulah ruangan sempit. Ditempati untuk tidur, ibadah dan aktivitas lainnya bagi awak kapal ini.

Hidangan selalu tersedia. Dengan menu ala pelaut. Ada jadwal piket memasak tiga kali sehari. Umumnya yang terlihat, para awak kapal begitu disiplin soal makan. Pun sebenarnya ketika melakukan aktivitas lainnya.

Kapten Jumardin terjaga hampir sepanjang malam. Di dekat radio. Di ruang kendali kapal. Ia menunggu panggilan. Layaknya seorang suami menanti kelahiran anaknya. Itulah panggilan untuk masuk ke Sungai Senyiur. Secara bergantian anak buah kapal menemaninya. Dan tentu saja bergelas-gelas kopi. Ia hanya tertidur beberapa jam menjelang pagi. Tapi panggilan itu tak kunjung datang. Padahal tongkang lain yang sebelumnya mengantre sudah meluncur memasuki Sungai Senyiur.

Paginya, Jumardin sedikit cemas. Ia berusaha menghubungi pihak yang menyewa kapal itu. Perusahaan yang menyuplai batu bara ke PLTU Embalut. Tidak begitu jelas terdengar pembicaraan mereka. Niatnya, ingin mengonfirmasi status pembelian batu bara dan jadwal untuk memuatnya.

Hingga Minggu 14 Februari 2021 pagi semua masih menunggu. Waktu demi waktu itu dilalui dengan aktivitas apa saja. Ada yang tidur. Lebih dominan yang berusaha menjangkau jaringan telekomunikasi. Agar bisa terhubung dengan siapapun melalui jalur perpesanan instan atau pun telponan. Sinyal internet jadi barang berharga di tempat itu.

Akhirnya panggilan itu tiba, Minggu sore. Melalui Radio di channel 14. Saluran khusus untuk tugboat yang tambat di kawasan itu. Sumber panggilan dari dermaga di Desa Senyiur. Datangnya sekitar pukul 16.00. Kapten seketika semringah. Dan segera mengabarkan kepada seisi kapal.

Semua awak langsung bergerak, mengabil posisi masing-masing. Ada yang menghidupkan mesin. Ada yang memeriksa keadaan dan posisi tugboat serta tongkang. Sebagian menunju haluan bersiap melepas tali tambatan.

Pukul 16.20, TB Lintas Samudera 53 lepas tambat. Pergerakan menuju ke muara Sungai Senyiur. Inilah saat yang mendebarkan. Yang membuat Jumardin tidak bisa terlelap. Ibarat kata truk trailer yang melalui gang sempit di pemukiman padat penduduk perkotaan. Alirannya begitu deras. Alurnya berkelok dan sempit.

Baru berjalan setengah jam, muncul kapal pandu dan assist. Seseorang berpindah dari kapal assist yang berbentuk tugboat tapi terbuat dari kayu. Itulah pemandu Lisa 53 yang ditugaskan PT Bayan Resources, Tbk, pemilik konsesi batu bara di kawasan Senyiur.

Pemandu itu yang akan mengemudikan Lisa 53 memasuki Sungai Senyiur. Ia memang sudah menghapal alur pelayaran sungai itu. Ia warga setempat. Lahir dan besar di Desa Muara Siran, Kecamatan Muara Kaman. Sebuah Desa di bantaran Sungai Senyiur. Berjarak tujuh kilometer dari muara sungai. Pemandu itu bernama Sandi.

Sementara kapal assist tadi, mengambil posisi di belakang tongkang. Tugasnya mendorong tongkang. Terutama ketika melewati mulut sungai yang sisi kirinya padat pemukiman, atau jika ada pusaran air. Atau ketika rute alur menikung.

Tugas kapal assist adalah menyundul-nyundul buritan tongkang. Membantu tongkang bermanuver untuk berbelok di kelokan sungai. Pukul 17.40, kapal tunda ini bermanuver di muara. Pelayaran akan ditempuh sepanjang malam. Targetnya esok paginya sampai lokasi.

Karena berlayar malam di alur sempit, lampu sorot dihaluan ditambah dengan lampu portabel. Tiga kru kapal segera memamasanganya. Itu untuk memastikan daratan di depan sampai batang kayu yang hanyut di tengah sungai terlihat oleh juru mudi. (bersambung/dah)

Saksikan video menarik berikut ini:

Leave A Reply