Tiga Desa di Kaltim Terpilih Pilot Project sebagai Desa Wisata 

Samarinda, nomorsatukaltim.com – Potensi desa menjadi destinasi wisata cukup besar. Menampilkan ciri khas dan nilai jual yang berbeda di setiap desa. Langkah menjadikan desa sebagai sebuah produk pariwisata sudah lazim.

Untuk mencapai itu, perlu fokus dalam upaya-upaya pengembangan. Agar desa wisata yang hidup mampu meningkatkan taraf hidup masyarakat.

Kepala Dinas Pariwisata (Dispar) Kaltim Sri Wahyuni mengatakan, desa wisata harus memiliki unsur pemberdayaan. Lalu fokus mengembangkan produk-produk daerahnya.

Wisatanya pun harus dikelola dengan baik. Baik dari pihak swasta, pemerintah, maupun dari desa. “Unsur pemberdayaan harus ada. Secara otomatis akan meningkatkan kesejahteraan masyarakat,” terangnya.

Sebutan desa wisata tidak harus sama dengan teritorial desa itu sendiri. Sri mencontohkan, ada sebuah dusun di Pulau Jawa yang memiliki dua desa wisata.

desa wisata

Wisata Mangrove Desa Mentawir berada di Kecamatan Sepaku. Kearifan lokal warga Mentawir dalam menjaga hutan mangrove patut mendapat acungan jempol. Karena keasriannya sangat terjaga. (Istimewa)

Seperti diketahui, membangun desa wisata berawal dari Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf). Di mana sudah ada 244 desa yang akan mendapatkan pendampingan.

Kategorisasinya pun ada. Yakni desa wisata persiapan, berkembang, dan mandiri. Untuk di Kaltim, yang paling tinggi ialah kategori desa berkembang. Dan yang paling banyak ialah desa wisata persiapan. “Desa wisata mandiri itu benar-benar pemasukan, perputaran ekonomi, semuanya sendiri. Dan maju,” jelasnya.

Dalam penguatan desa wisata, ada 3 desa di Kaltim yang terpilih. Bersaing dengan 490-an desa wisata seluruh Indonesia. Sri Wahyuni menyebut pencapaian itu sangat penting.

Ketiga desa terpilih itu ialah Desa Wisata Pela, Kedang Ipil, dan Mentawir. Desa Pela berbasis sungai. Desa Kedang Ipil berbasis alam budaya. Dan Mentawir berbasis hutan mangrove.

“Kita akan memberikan apa yang mereka perlukan, terutama data ya. Dan kalau bisa ketiga desa yang sudah terpilih bisa menjadi pilot project,” tuturnya.

Tiga Desa di Kaltim Terpilih Pilot Project sebagai Desa Wisata 

Kedang Ipil memiliki air terjun yang memukau. Berada di Kecamatan Kota Bangun. Desa ini disematkan menjadi desa budaya Kutai Adat Lawas. (Istimewa)

Dispar Kaltim pun membentuk klaster dari basis-basis tertentu. Seperti basis hutan, bahari, dan agro. Kenapa perlu klaster? Kata Sri, kondisi penanganan tiap desa, serta kebutuhannya berbeda. Jenis pendampingannya pun akan berbeda.

Sri menerangkan, bersama Masyarakat Sadar Wisata (Masata) Kaltim, Dispar akan berfokus pada klaster agar lebih efisien. “Kita himpun kendala apa di lapangan, baru kita pilah. Untuk mengusulkan apa yang akan dilakukan nanti,” ucapnya.

Pandemi juga menjadi faktor untuk mendorong desa wisata hadir. Karena keinginan kuat masyarakat untuk berlibur tinggi. Dan perlu sarana dan prasarana.

Pariwisata berbasis produk unggulan lokal ini sesuai dengan program gubernur Kaltim. “Ownership dari masyarakat desa juga penting, agar bisa mengelola desanya,” katanya.

Disinggung kendala saat ini, Sri mengaku akan fokus mengambangkan sumber daya manusia (SDM). Seperti beberapa kegiatan yang sudag berjalan. Yakni workshop, sosialisasi, dan pelatihan-pelatihan. Karena mewujudkan desa wisata harus dimulai membangun tim desa yang kuat.

Pengembangan desa wisata ini memang menjadi fokus organisasi non profit Masata. Ketua DPD Masata Kaltim Sri Agustina mengatakan siap menjembatani masyarakat.

“Karena ketika kita bicara masyarakat (yang harus) sadar wisata, kita berfokus ke desa,” ujarnya kepada Disway Kaltim, Senin (22/2).

Titin, sapaannya menjelaskan, Masata juga akan membantu menyelesaikan masalah-masalah yang terjadi di desa. Apalagi, jika desa tersebut memiliki potensi sebagai desa wisata.

Masalah yang dimaksud seperti ketersediaan akses infrastruktur, akses pendidikan dan dari sektor pertanian. Yang dinilai sangat potensial sebagai destinasi wisata.

“Itu yang akan kami (Masata Kaltim) komunikasikan ke beberapa Organisasi Perangkat Daerah (OPD) yang terkait tentunya,” sambungnya.

Diakui Titin, pekerjaan rumah (PR) itu sangat berat. Tapi dirinya tentu akan berjuang. Dengan cara merangkul seluruh unsur pentahelix-lima unsur kekuatan pembangunan. Lalu, meninjau secara langsung desa-desa yang dinilai memiliki potensi.

Kebijakan-kebijakan yang diatur kelak, kata Titin, harus sesuai dengan situasi. Agar, kebijakan yang dibuat tidak sia-sia. “Dan berpihak kepada masyarakat,” tambahnya.

Titin juga mendorong semangat para pemuda Benua Etam. Baik itu yang ada di Kaltim. Maupun yang merantau ke luar kota dan tidak lagi kembali ke desa.

Dorongan itu berupa niat. Yang bertujuan untuk membangun desa. Hingga akhirnya mengangkat perekonomian. Dengan cara mempromosikan produk khas desa asal masing-masing.

“Ayo bangun desa menjadi mandiri, enggak perlu cari kerjaan di luar, karena produk-produk khas desa bisa diolah dan dijual, dan kami juga ada kerja sama dengan penjualan secara online,” bebernya.

Titin mengakui, saat ini harus lebih banyak sumber daya manusia (SDM) desa yang kreatif di bidang pariwisata. Di mana, pihaknya akan turun membekali SDM tersebut. Meskipun beberapa anggotanya bukan dari kalangan akademisi. Atau yang bersekolah di jurusan pariwisata. Tapi dengan pengalaman yang mereka miliki, Titin yakin hal itu mampu mereka lakukan.

Di sisi lain, Titin juga memberikan sedikit saran. Sebagai salah satu bentuk mengedepankan kreativitas pariwisata di masa pandemi.

Saran itu ialah rencana Perhimpunan Usaha Taman Rekreasi Indonesia (PUTRI) Kukar untuk menggelar destinasi wisata melihat buaya. Yang dinilai menjadi salah satu destinasi pilihan sekarang.

Sementara itu, lembaga yang baru berdiri pada 30 Januari 2020 tersebut akan berfokus pada pembenahan SDM. Sekaligus memperluas jaringan agar produk-produk Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM) lokal juga dapat digunakan oleh penduduk regional.

Seperti sandal yang digunakan hotel-hotel. Titin ingin agar bisa menggunakan produk lokal. Yang dibuat dari rotan agar menjadi ciri khas.

Dia juga menegaskan, Masata hadir bukan untuk berbisnis. Melainkan untuk membantu produk hulu UMKM Kaltim. Agar dapat sampai ke hilirnya. “Setelah dari hulu kemudian jangan putus sebelum sampai di hilir, karena mereka bingung mau jual di mana dan kemana,” tegasnya.

Saat ini, keanggotaaan Masata masih berada di 5 kabupaten/kota saja. Yaitu, Penajam Paser Utara (PPU), Kutai Kartanegara (Kukar), Kota Balikpapan, Samarinda, serta Bontang. “Keberadaan kami tidak mengganggu teman-teman organisasi lain yang juga fokus ke pariwisata,” tandasnya. (nad/eny)

Saksikan video menarik berikut ini:

Leave A Reply