Inspiratif! Rizka Menjelajahi Dunia dengan Anggar

Balikpapan, nomorsatukaltim.com – Rizka Indah Kurniawati adalah kepingan kecil dari perjalanan cabor anggar di Kaltim. Turut menjadi perintis, Rizka kemudian mewujudkan mimpinya berkeliling dunia tanpa keluar biaya. Hanya berbekal kemampuan di olahraga anggar.

Memang sudah menjadi framing klasik. Ketika ada seorang atlet berprestasi. Mendapat banyak sekali pundi-pundi rupiah. Lalu menjelajah dunia untuk bertanding di satu turnamen ke turnamen lain.

Tapi yang kerap dilupakan adalah. Upaya mereka untuk mendapatkan itu. Jelas saja tak mudah. Hanya orang-orang terpilih dan memilih dirinyalah yang mampu melakukan. Maksudnya, ada atlet yang menjadi besar karena bakat alaminya. Yang dengan tempaan latihan keras dan disiplin. Membentuk dirinya menjadi atlet andalan.

Tapi jangan lupa, ada pula atlet yang bahkan sebelumnya tak memiliki minat apalagi bakat. Tapi ketika ia mendapat momen jatuh cinta pada cabor tertentu. Kemudian dia berlatih dengan sangat ulet. Jadilah dia atlet berprestasi.

Dari manapun mulanya. Yang jelas, Tanpa keseriusan dan kerja keras. Siapa pun tak akan bisa menjadi ‘orang’ di dunia olahraga.

Rizka memiliki cerita menarik sendiri dalam upayanya menjadi olahragawati. Sejak awal, wanita kelahiran Samarinda ini memang sudah menyukai olahraga. Bola voli kemudian jadi pilihannya.

Walau jenjang karier di cabor voli sangatlah panjang. Rizka remaja tak memperdulikannya. Dia tetap saja berlatih giat. Ditambah dukungan besar dari orang tua. Membuat Rizka makin tekun saja.

Saat itu, dia bergabung dengan Camar. Salah satu klub bola voli di Samarinda. di masa itu, voli memang olahraga yang sangat familiar. Di sudut kota ataupun pedesaan. Olahraga ini banyak dimainkan. Walau kebanyakan hanya untuk mencari keringat saja.

Sementara Rizka memilih jalur klub karena menginginkan pembinaan berjenjang. Yang memungkinkannya menjadi atlet voli ternama di masa mendatang.

Tapi peruntungan Rizka nyatanya bukan di cabor voli. Melainkan di anggar. Cabor yang kala itu minim peminat. Ia mendapatkan peluang secara tidak sengaja. Tapi kejeliannya melihat peluang membawa berkah baginya.

Bukan apa-apa, cabor yang masih sepi peminat. Memiliki peluang prestasi yang lebih besar secara individu. Minimal, saingannya tidak banyak. Layaknya sepak bola, voli, ataupun bulu tangkis.

“Waktu itu sore saya joging sama bapak saya. Kebetulan saya juga latihan voli di klub Camar Samarinda. Ketemu sama teman bapak. Diajak untuk latihan anggar karena anggar waktu itu peminatnya sedikit sekali. Ya saya coba ikut dulu,” kata Rizka.

Rizka dengan tekad yang bulat lalu meninggalkan voli untuk mencari peruntungan lain di cabor anggar. Dari coba-coba, menjadi keasyikan. Dia pun langsung gas pol untuk menempa kemampuan anggarnya.

Porprov Kaltim III pada 2006 di Kutai Kartanegara merupakan debut Rizka sebagai atlet. Dia sukses meraih medali perak kelas sabre beregu putri untuk Kota Samarinda.

Tren positif Rizak terus berlanjut hingga Kejurnas 2008 dengan menyabet medali emas sabre putri kadet. Pun ketika Kaltim menajdi tuan rumah PON XVII 2008 lalu. Perak berhasil dipersembahkan untuk Kaltim. Setahun kemudian dia turut mewakili Indonesia pada Kejuaraan Anggar Junior dan Kadet di Singapura.

Berhenti sampai di situ kah? Tentu saja belum. Pencapaian Rizka masih terus berlanjut. Bahkan dia pernah tampil di kejuaraan dunia. Singapore Cadet Fencing World Cup 2010. Sayang dia hanya berhasil finis di babak 16 besar.

Walau kecewa, setidaknya masih ada hal baik yang dia rasakan. Yakni bisa menjelajah negeri orang dengan kemampuan olahraganya. Kesempatan itu tentu tak bisa didapatkan semua orang. Rizka pun mensyukuri itu sebagai sebuah berkah lain menjadi seorang atlet. Karena selain Asia, dia sudah pernah menjelajah Eropa untuk bermain anggar.

“Fasilitas menjadi atlet anggar itu enak sekali. Selain itu saya bisa punya ilmu bela diri untuk bekal. Ketemu banyak orang dari berbagai belahan dunia,” tambah ibu dari tiga anak ini.

Hingga satu momen yang tak bisa dilupakan Rizka. Sewaktu mendapatkan kesempatan try out ke Eropa. Karena waktu itu kiblat anggar masih berada di Benua Biru. Jerman dan Ukraina pun jadi tujuan skuat anggar Indonesia yang dipersiapkan untuk SEA Games.

Ketika itu dia hendak sarapan pagi di salah satu hotel. Karena suka daging sapi. Rizka pun menyantap dengan lahap. Ternyata buka daging sapi yang dia makan.

“Ada teman yang non muslim bilang rasanya kok seperti daging babi. Ternyata benar itu daging babi kata pegawai hotelnya. Dan mereka minta maaf karena lupa ganti tampilan menu,” kenang Rizka.

Kini Rizka telah pensiun sebagai atlet dan hanya bisa mengenang apa yang sudah dijalani dan didapatnya dulu. Tahun 2012 merupakan  terakhir kalinya dia bertarung. Kejurnas, PON Riau, hingga kejuaraan anggar se-Asia merupakan pertandingan terakhirnya.

“Ya, sekarang jadi pelatih anggar Balikpapan,” ungkapnya.

Walau sudah tidak aktif sebagai atlet. Minat Rizka di olahraga yang membesarkannya itu belum benar-benar pudar. Dia kini dengan telaten melatih anak asuhnya. Agar minimal bisa merasakan pencapaiannya dulu.

Sesekali, dia turut menceritakan pengalamannya itu pada atletnya. Agar menjadi motivasi tersendiri. Bahwa di setiap kerja keras. Tentu ada imbalan selaras.

Saat ini fokus Rizka adalah membawa kontingen anggar Balikpapan berprestasi di ajang lokal. Di mulai dari Pra Porprov sampai putaran final Porprov Kaltim tahun depan di Berau. Niatan itu tentu untuk menopan target Kota Balikpapan. Yang ingin sekali menjadi juara umum Porprov Kaltim. Sesuatu yang belum pernah diraih sampai saat ini. (fdl/ava)

Saksikan video menarik berikut ini:

Leave A Reply