Akurasi Tinggi

TANJUNG SELOR, DISWAY – Rapid antigen tetap menjadi acuan Dinas Kesehatan Kaltara, untuk mendiagnosis apakah seseorang yang masuk tracking terpapar virus Corona.

Karena menurut Kepala Dinas Kesehatan Kaltara, Usman, penggunaan rapid antigen sebagai acuan dalam melakukan tracking kontak erat, berlaku bagi daerah yang tidak memiliki alat PCR. Tetapi bagi daerah yang memiliki alat PCR, tetap mengacu hasil laboratorium.

Dia menyebut bahwa tingkat akurasi rapid antigen cukup tinggi. Rata-rata yang hasil tes rapid antigen positif, lalu dilanjutkan dengan PCR, kata Usman, hasilnya juga positif. Karena itu, lanjutnya, Menteri Kesehatan pun menerbitkan peraturan yang menyatakan hasil rapid antigen bisa menjadi acuan.

Di sisi lain, ia mengatakan bahwa pemerintah daerah terus berupaya menekan laju penambahan kasus terkonfirmasi positif COVID-19. Salah satunya, dengan melakukan pelacakan terhadap kontak erat dari pasien yang dinyatakan terkonfirmasi positif COVID-19.

Namun, yang menjadi kendala di lapangan, hasil swab PCR yang dilakukan oleh petugas tracking, diakuinya sering lambat keluar.

“Ada yang sampai 10 hari setelah dilakukan swab, hasilnya belum juga keluar. Akibatnya, orang-orang yang diswab tersebut, jadi serba salah untuk beraktivitas dan merasa terkucilkan di lingkungannya. Jadi kami sangat mendukung soal penggunaan antigen untuk menentukan kondisi warga itu,” ujarnya.

Usman juga mengatakan, sejauh ini pihaknya sudah melakukan berbagai upaya untuk mengedukasi masyarakat. Agar tidak mengucilkan orang-orang yang terpapar virus Corona. Karena menurutnya, terkonfirmasi positif COVID-19 bukan aib.

Namun, lanjutnya, orang-orang yang mengetahui bahwa ada yang terpapar, harus membatasi kontak fisik terhadap yang bersangkutan, guna mencegah terjadinya paparan yang lebih luas lagi.

“Makanya selalu kami ingatkan, patuhi protokol kesehatan dengan menerapkan 3M,” ujarnya. *

Saksikan video menarik berikut ini:

Leave A Reply