Petugas Pemakaman Jenazah COVID-19, Garda Terakhir yang Hampir Terlupakan

Tangannya sudah menggenggam sekop. Erat. Saat kakinya berpijak di bumi dan hendak menggaruk tanah, jantungnya berdegup. Darahnya mengalir deras hingga ke otak. Saat itu, keringatnya mengucur tipis di pelipis. Ini bukan jenazah biasa untuk dimakamkan. Di pemakaman. Ini adalah jenazah pasien COVID-19.

Itulah yang dirasakan Mulawarman. Petugas makam COVID-19 di Tempat Pemakaman Umum (TPU) Bontang Lestari. Sudah hampir setahun ia jalani “profesi” sebagai petugas makam. Total 78 orang yang dikubur melalui tangannya. Dengan menerapkan protokol kesehatan yang ketat.

Semula ia hanya pegawai honorer di Dinas Perumahan, Pemukiman dan Pertanahan (Disperkim) Bontang. Kerjaannya mengurusi taman. Karena Bontang punya ratusan titik taman. Saat pertama kali ditugaskan, dirinya sempat was-was. Khawatir tertular saat bekerja. Ketika memasukkan jenazah dalam peti. Dan lebih cemas virus itu menumpangi tubuhnya dan menyebar di keluarga.

“Ya sempat takut sih, cuma namanya kerja. Kan ibadah juga, kita berserah saja lah dan tertib prokes,” katanya, Jumat (19/2/2021).

Baca juga:  Lahan Pemakaman Masih Mencukupi untuk Jenazah Pasien COVID-19

Sudah 78 jenazah yang dikebumikan. Tanpa kenal waktu. Baik siang atau pun malam. Cuaca hujan pun ia ladeni. Sebab jenazah korban COVID-19 harus segera dikebumikan. Terlalu berisiko jika dibiarkan. Pemakamannya pun mengikuti proses yang ketat. Jenazah harus dibungkus kain kafan berlapis-lapis. Lengkap dengan plastik dan peti mati. Rapat.

“Paling sulit itu saat hujan, karena kita pakai APD. Apalagi masker basah, susah bernafas,” ungkapnya.

Sejauh ini seluruh proses pemakaman berjalan lancar. Termasuk alat perlindungan diri (APD). Semua disediakan. Mulai dari baju hazmat sampai masker tersedia.

Kepala Bidang Pertamanan dan Pemakaman, Disperkimtan Bontang, Andi Ilham menerangkan. Luasan lahan pemakaman pasien COVID masih cukup. Luasnya sekitar 4 hektare. Masih muat hingga 200 makam sekalipun.

Namun yang terpenting katanya kesadaran masyarakat. Sebab virus masih menjadi ancaman. Apalagi bagi kelompok lansia. Tanpa kesadaran itu, lahan seluas apapun bakal sesak.

“Tapi untuk saat ini masih cukup kok,” pungkasnya.

Petugas pemakaman punya peran penting. Mereka termasuk satu dari yang paling terdepan hadapi COVID-19. Pemerintah pun memberikan perhatian lebih. Baik dari kesejahteraan. Sampai standar pemakaman. Misalnya di PPU.

Terkait proses pemakamannya dilakukan oleh tim gabungan dari Satgas COVID-19 PPU. Berbagai unsur masuk di situ. Jadi 10 sampai 12 orang terlibat untuk sekali proses pemakaman. Tukang gali makam ada 4-5 orang. Merka adalah petugas Disperkim PPU.

Sementara pemulasaraan dilakukan petugas RSUD Ratu Aji Putri Botung. Tugasnya mulai dari menyemprotkan disinfektan, memandikan jenazah hingga memasukannya ke dalam peti khusus.

Yang bertugas membawa jenazah hingga ke pemakaman beda lagi. Mulai dari sini, petugas dari BPBD, TNI-Polri bergabung. Melakukan penanganan hingga jenazah masuk ke liang lahat.

“Setiap prosesnya, petugas menerapkan protokoler kesehatan (prokes) Yaitu lengkap dengan menggunakan full-APD, mulai atas sampai bawah,” sebut Kepala Dinas Kesehatan (Diskes) PPU, dr Jansje Grace Makisurat.

Mereka yang mendapatkan tugas itu jelas mendapatkan honor tambahan. Sekali kerja, biayanya sekitar Rp 2,5 juta. Biasanya itu dibagi rata diantara mereka.

“Pembayaran itu standar saja. Nilai itu sudah dibahas dalam rapat. Dan sudah disepakati bersama,” kata Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik BPBD PPU, Nurlaila. (wal/rsy/boy)

 

Saksikan video menarik berikut ini:

Leave A Reply