Februari Super Kelam untuk Liverpool

LIVERPOOL benar-benar tak beruntung bulan ini. Menjalani 5 pertandingan Liga Inggris sepanjang Februari. Salah dkk cuma memenanginya sebanyak … 1 kali saja! Kans Liverpool untuk mempertahankan titel Premier League pun bisa dikatakan sudah pupus.

Terakhir kali Liverpool menang di Liga Inggris adalah ketika mereka melumat West Ham United dengan skor 3-1 pada 1 Februari lalu. Laga yang berlangsung di permulaan bulan Februari itu seolah menjadi asa. Bahwa Liverpool tak akan mengalami nasib sial di bulan ini.

Bukan apa-apa. Liverpool memang memiliki sejarah kelam di Februari. Bulan ini seolah jadi keramat untuk tim Marseyside itu. Sudah cukup sering mereka gagal juara karena tampil memble sepanjang Februai.

Asumsi bahwa kutukan itu sudah berakhir setidaknya terlihat dari hasil melawan West Ham itu. Terlebih, musim lalu Firmino dan kolega tampak mulus melewati Februari dan kemudian merengkuh gelar juara PL perdana mereka.

Sayangnya, itu hanya jadi isapan jempol belaka. Di 3 laga selanjutnya, di mana 2 laga dimainkan di Anfield. Kandang Marseyside Merah yang angker itu. Liverpool menelan 3 kekalahan juga.

Momen kebangkitan Liverpool harusnya bisa terjadi di laga versus Everton pada Minggu dini hari waktu Indonesia. Pada 21 Februari. Pertandingan Februari terakhir mereka.

Segalanya tampak sangat pas. Bermain di kandang. Melawan tim sekota. Sudah 3 kali menelan kekalahan beruntun. 2 di antaranya di kandang. Dan akan menghadapi rival langsung. Liverpool dalam posisi yang bagus untuk menang. Secara moril, Salah dkk harusnya sedang tinggi-tingginya.

Apa yang membuat Liverpool harusnya dipenuhi amarah saat bertanding? Hanya dua. Manchester United dan Everton. Tak ada yang lain.

Sayangnya, Liverpool kembali kalah. Ini menyakitkan. 4 kekalahan beruntun. Mereka menutup Februari kelabu ini dengan tertunduk lesu di kandang sendiri. Oleh tim sekota. Paraaaah.

Marseyside Itu Biru

DERBI Marseyside pada akhirnya dimenangi oleh Everton. Gol cepat Richarlison dan sepakan penalti Gilfy Sigudrsson di akhir laga sudah cukup bagi The Toffes untuk menegaskan bahwa Kota Liverpool kini menjadi biru.

Liverpool sendiri sebenarnya bukan tanpa perlawanan. Mereka begitu menguasai pertandingan dengan 72 persen penguasaan bola. Berbanding terbalik dengan milik Everton yang hanya 28 persen.

Pun Liverpool membuat cukup banyak percobaan ke gawang Everton. Total 15 tendangan dilepaskan. 6 di antaranya tepat sasaran. Sementara Everton bermain lebih efektif dengan melepaskan 9 tembakan, 6 yang tepat sasaran.

Mandulnya Liverpool ini tentu mudah bagi semua orang untuk menyalahkan trio Firmansyah. Firmino, Mane, dan Salah. Benar-benar kehilangan ketajamannya. Padahal reputasi ketiganya sangat mentereng. Sebagai trio paling mematikan di dunia beberapa musim terakhir.

Menurut catatan Opta, Firmansah tidak begitu banyak mengancam Everton. Jika ditotal, ketiganya cuma membuat 7 shots, dan tiga yang on target.

Secara total, Firmansah memang sedang bapuk selama tahun 2021 ini ketika bermain di kandang. Dari lima laga yang berlangsung di Anfield. Baru satu gol yang mampu dibuat. Itu pun lewat titik penalti. Ketika Salah melakukannya saat timnya dihajar Manchester City dengan skor telak 4-1.

Penampilan tidak sip trio Firmansah tentu berimbas pada hasil klub. Liverpool kini terlempar dari empat besar klasemen Liga Inggris.

Graeme Souness, legenda Liverpool yang kini bekerja sebagai pundit sepak bola. Tak tahan untuk tidak mengkritik mantan timnya itu. Liverpool disebutnya tidak hanya bapuk saat periode Februari kelam ini. Tapi secara keseluruhan. Tidak ada energi yang ditampilkan anak asuh Jurgen Klopp saat berada di lapangan.

“Liverpool tidak berenergi, sangat mengecewakan. Mereka tidak terlihat agresif seperti sebelum-sebelumnya,” kata Graeme Souness seperti dilansir dari Sky Sports.

Di laga versus Everton. Ketika Jordan Pickford bermain begitu tangguh mengamankan gawang Everton. Para pemain Liverpool kata Graeme Souness. Harusnya bisa lebih berenergi dan lebih kejam lagi.

Dalam kondisi seperti ini. Peringkat keenam yang sedang ditempati Liverpool bisa direbut dan mereka akan semakin melorot. Karena semua tim sedang bahagia ketika akan bertemu Liverpool. Yang sudah 4 laga Liga Inggris terakhir belum pernah menang. Ini akan menjadi sinyal bahaya jika Jurgen Klopp belum juga menemukan formula untuk mengangkat moril anak asuhnya.

“Semua tim sekarang maunya melawan Liverpool, karena mudah dikalahkan. Itu membuat saya sedih,” tutupnya.

Pickford Jadi Pembeda

Selain memblenya barisan penyerang Liverpool. Satu sosok yang pantas disorot dari laga tersebut adalah Jordan Pickford. Kiper Inggris itu benar-benar jadi pahlawan buat timnya.

Pickford yang sempat kehilangan tempat di bawah mistar Everton. Bermain sangat tenang ketika menahan sepakan Trent Alexander-Arnold. Sampai beberapa gempuran dari trio Firmansah.

Salah satu momen penting yang dilakukan Pickford adalah ketika ia menggagalkan peluang emas Mo Salah pada menit ke-70. Ia maju ke depan, menutup ruang gerak Salah. Lalu berhasil menghalau bola masuk ke gawangnya.

Manajer Everton, Carlo Ancelotti begitu bahagia dengan penampilan Jordan Pickford. Ia menyebut, kiper Inggris itu sedang kuat mentalnya dalam laga yang bertajuk derbi tersebut.

“Pickford melakukan tugasnya dengan sangat baik. Dia tahu akan berjuang keras di sebuah laga derbi,” kata Ancelotti seperti dilansir dari BBC.

Ancelotti mengaku, Jordan Pickford memang kerap membuat kesalahan di beberapa laga terakhir Everton dan dikritik habis-habisan. Namun baginya, Pickford mampu membalas kritikan tersebut.

“Dia menerima kritikan itu, mencoba bangkit kembali, dan berhasil,” tutup Ancelotti. (*/ava)

Sumber: detiksport

Saksikan video menarik berikut ini:

Leave A Reply