Dispar Kaltim Dukung Corporate Tourism Responsibility

Samarinda, nomorsatukaltim.comHimpunan Pramuwisata Indonesia (HPI) Kaltim sejak 2017 mengusulkan Corporate Tourism Responsibility (CTR). Dengan cara berdiskusi bersama stakeholder terkait. Juga anggota dewan kota maupun provinsi.

Ketua HPI Kaltim Awang Jumri beberapa waktu lalu mengatakan, sistem CTR terinspirasi dari Corporate Social Responsibility (CSR). Di mana tiap perusahaan yang ada di Kaltim harus menyumbangkan 10 persen dari penghasilan yang didapatkan.

Usulan ini untuk memajukan sektor pariwisata. Tanpa harus bergantung dari anggaran yang diberikan pemerintah.

Soal itu, Kepala Dinas Pariwisata (Kadispar) Kaltim, Sri Wahyuni menyampaikan, beberapa perusahaan sudah ada yang melakukan kegiatan seperti CTR. “Tapi bentuknya memang masih menggunakan kebijakan CSR,” ungkapnya, Rabu (17/2/2021).

Dirinya menjelaskan, CSR memang kebijakan yang mengharuskan perusahaan untuk mensejahterakan rakyat di sekitarnya. Entah itu memberikan bantuan dalam bentuk barang. Atau mendanai sebuah kegiatan.

Dia mencontohkan yang terjadi di Kukar. Salah satu perusahaan membantu memperbaiki infrastruktur destinasi pariwisata di sana.

Tepatnya di Pantai Hitam Samboja. Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) di sana diberikan bantuan oleh perusahaan. Lalu, dermaga kapal di wilayah itu juga diberikan bantuan.

“Toilet, jetty, diperbaiki. Pergoa di sana diberikan tanaman hias merambat, lalu diberikan informasi-informasi pembuangan sampah juga kepada pengunjung di sana,” jelas Sri.

Sri melanjutkan, bantuan lain juga diberikan perusahaan di wilayah Pantai Hitam. Seperti tempat informasi tentang hewan-hewan primata yang ada di wilayah pantai.

Contoh lain yakni di Kampung Putak. Sri memaparkan, Putak dahulu dikenal dengan konotasi yang berbeda dibandingkan sekarang.

Di mana kata Sri, wilayah Putak dulu tidak seterbuka sekarang. Dan kini sudah jauh berbeda. Semua itu juga karena bantuan dari perusahaan. Yang membantu memberikan informasi soal destinasi wisata tersebut. “Di sana sampai ada sosialisasi soal Putak, dan itu dari perusahaan,” tegasnya.

Koneksi antara warga sekitar dan pihak perusahaan harus bisa terjalin dengan baik. Untuk bisa produktif bersama-sama masyarakat. Dan membangun wisata sekitar. “Pihak perusahaan lebih ke fasilitator. Betul-betul mempercantik,” sambungnya.

Sri mengaku sangat mendukung jika CTR bisa terjadi. Dan dilakukan oleh tiap perusahaan di Bumi Etam.

Disinggung soal alih profesi para pramuwisata di Benua Etam, Sri mengatakan pihaknya sudah memberikan beberapa program untuk bisa menunjang keterampilan para pramuwisata.

Terlepas dari pandemi, di 2020, kegiatan sertifikasi dilakukan. Walaupun jumlahnya terbatas. Dan peserta yang ikut hanya setengah dari rencana awal. “Cuma 20 dari 40 peserta yang ikut. Tapi itu pelatihan virtual tour dari kita,” tuturnya.

Sri juga memiliki harapan untuk para pramuwisata. Agar bisa lebih produktif dan kreatif. Seperti membuat video virtual tour. Yang dimasukkan ke platform tertentu. Dan bersifat berbayar.

Di Kaltim baru 3 virtual tour yang bisa menembus salah satu platform. Dan itu dengan konsep serta rencana yang matang. Tentu harus ada pembedaan. Agar bisa memberikan ketertarikan untuk pengunjung trip virtual.

“Ibaratnya, kita membuat kue dengan resep yang sama, tapi akan berbeda karena yang membuat juga dari orang yang beda. Kembali ke kreativitasnya masing-masing,” celetuknya.

Sri memberikan saran kepada pramuwisata di Kaltim. Pilihan lain juga harus dilakukan oleh mereka. Seperti yang dilakukan pramuwisata di Bali. Yang bergerak di sektor pertanian.

Beberapa program, kata Sri, sudah mulai disusun dalam kalender wisata nanti. Tetapi semuanya dilakukan mungkin dengan cara virtual.

“Dulu kita cuma peserta, tapi nanti kita akan jadi penyelenggara. Harapannya sih teman-teman pramuwisata juga bisa ikut andil,” pungkasnya. (nad/eny)

Saksikan video menarik berikut ini:

Leave A Reply