Bisnis Kertas Dinding yang Naik Turun, Bertahan dengan Trik Marketing

 Samarinda, nomorsatukaltim.com – Demi fleksibilitas, sebagian orang lebih memilih menggunakan lembaran kertas dinding atau biasa disebut wallpaper. Untuk melapisi tembok dinding ruangan.

Berbeda dengan cat tembok, selain praktis dipasang, wallpaper juga praktis dibongkar. Motifnya pun lebih beragam. Sebenarnya, penggunaan wallpaper sempat menjadi tren di Indonesia sekitar 1980-an. Setelah itu, minat pada wallpaper menurun.

Belakangan, kertas dinding kembali diminati seiring dengan tumbuhnya perumahan dan perkantoran. Baik apartemen, rumah susun, dan kos-kosan.

Seperti yang ada di Jalan Siradj Salman, Samarinda. Berdiri di ruko tiga lantai. Dan berada pinggir jalan. Toko itu dikelola Ardian.

Ardian menceritakan, toko tempatnya bekerja berdiri sejak pertengahan 2015 lalu. Cabang yang muncul baru ada dua. Dan usianya berdekatan dengan toko yang pertama.

“Cabang setelah ini ada di (jalan) Kesuma Bangsa, baru buka setahun kemarin, dan (di jalan) Kakak Tua belum sampai setahun sih,” terangnya, Rabu (17/2/2021).

Untuk harga, jelas Ardian, sudah jauh menurun dibandingkan awal-awal tren wallpaper muncul. Kini harganya cuma berkisar puluhan ribu saja. Tepatnya mulai dari Rp 30 ribu.

Penentuan harga pun tergantung ketebalan kertas wallpaper. Lalu desainnya, dan harga jual yang diberikan pemasok. “Untuk barang kita ambil dari Jakarta dan Surabaya,” ucapnya.

Ada trik marketing yang dilakukan. Dengan menggunakan slogan tertentu. Seperti di tempat Ardian, yang mengklaim menjual wallpaper termurah se-Kaltim.

Soal pembeli, disampaikan Ardian dari berbagai kalangan. Tapi jarang orang kantoran. Diakui Ardian, pelanggannya lebih banyak dari perorangan saja. “Produk unggulan sih kita enggak ada. Tapi lebih ke apa yang dicari orang banyak saja, biar enggak jadi barang mati,” tuturnya. Mengikuti era digital, penjualan juga dilakukan menggunakan sosial media.

Tapi tak jarang, ada pelanggan yang ingin melihat. Dan memilih secara langsung. Ardian menegaskan, semua dilayani dengan cara yang sama.

Soal pembeda, kata Ardian lebih kepada brand produk. Ardian menceritakan, tiap toko wallpaper pasti memegang brand tertentu. “Agar tidak sama, jadi misalnya pelanggan pengen brand A, dan itu ada di kita, ya mereka pasti cari kesini,” bebernya.

Untuk karyawan, ada 8 orang yang tersebar di 3 cabang toko. Dan itu belum termasuk dengan karyawan yang bekerja untuk memasang wallpaper.

Karyawan yang memasang wallpaper hanya berstatus freelance. Tetapi, tetap terikat dengan toko. Karena orderan untuk memasang wallpaper juga cukup banyak. “Karyawan yang bekerja untuk memasang, itu kita sepertinya kerja sama. Partner sih bisa dibilang,” lanjutnya.

Pendapatan yang diperoleh dari berjualan wallpaper pun lumayan. Per toko, omzet yang didapat mencapai Rp 40 juta. Tapi karena pandemi, penurunan terjadi. Jika dipresentasikan penurunan mencapai 40 persen.

“Tapi enggak tentu sih, kadang naik kadang turun, cuma rata-rata memang penurunan sampai segitu,” ujarnya.

Ardian berharap agar pandemi segera berakhir. Dan penjualan dan pemasangan wallpaper kembali ramai.

Hal senada disampaikan Ayu Rusnawati, kepala toko di Jalan Antasari. Selama pandemi toko tempatnya bekerja juga mengalami penurunan. “Di sini (penurunan) sampai 50 persen,” katanya.

Ayu mengaku pendapatan di tokonya juga mengalami pasang surut. Alias kadang naik kadang turun. Walaupun tidak terasa signifikan.

Berbeda dengan yang sebelumnya, di tempat Ayu, ada pelanggan tetap yang berasal dari perkantoran. “Itu (perkantoran legislatif) rutin pesan di kita,” sambungnya.

Untuk pengambilan barang, Ayu mengatakan, berasal dari Bandung dan Jakarta. Yang dikirimkan ke Balikpapan terlebih dahulu, baru ke toko yang Ayu kelola.

Slogan unik sebagai trik marketing juga diterapkan toko Ayu. Yakni ‘termurah sejagad raya’. Diakui Ayu itu menarik perhatian customer.

“Memang harus beda sih (trik marketing). Karena penjual wallpaper di Samarinda, atau di Kaltim sudah cukup banyak,” jelas Ayu.

Kata Ayu, untuk cabang, tokonya adalah toko ke-4 di Kaltim. Satu toko berada di Jalan Ahmad Yani Samarinda. Kemudian, duanya berada di Balikpapan. Tepatnya di Jalan Sudirman dan Ahmad Yani.

Ayu melanjutkan, pendapatan bersih yang didapatkan pertoko bisa mencapai Rp 50 juta.

Untuk brand favorit pelanggan, disampaikan Ayu itu relatif. Konsep indent pun diterapkan di tokonya. Agar customer bisa memilih wallpaper sesuai keinginan. “Kalau brand memang beda-beda tiap toko, karena biar pelengkap. Jadi tergantung selera pelanggan saja maunya bagaimana,” pungkasnya. (nad/eny)

Saksikan video menarik berikut ini:

Leave A Reply