Dibayangi PHK Besar

Jika Mal Tetap Dilarang Buka Akhir Pekan

Balikpapan, Nomorsatukaltim.com – Pengelola pusat perbelanjaan nampaknya akan mengambil opsi paling dihindari. Memutus hubungan kerja dengan karyawan atau PHK.

Musababnya tak lain karena pendapatan yang belum dalam posisi normal. Terlebih kebijakan harus menutup operasional di akhir pekan, semakin menggerus pendapatan.

Tindakan PHK mau tidak mau diambil sebagai jalan keluar. Memangkas fixed cost yang tetap sama, sementara pendapatan tak kunjung membaik.

Dibayangi PHK Besar

Ketua Asosiasi Pengelola Pusat Belanja Indonesia (APPBI) Kaltim, Aries Adriyanto tidak menampik kebijakan menutup mal pada akhir pekan lalu berdampak kerugian yang cukup besar. Termasuk berujung pada PHK.

“Kami mohon mal jangan tutup di weekend untuk (kebijakan) selanjutnya,” kata Aries Adriyanto kepada Nomor Satu Kaltim saat dijumpai usai menghadiri perayaan HUT ke-124 Kota Balikpapan, Rabu (10/2).

Menurutnya, akhir pekan adalah momen bagi mal mendapatkan tingkat kunjungan. Sekaligus kesempatan tenant mendapatkan omzet yang lebih baik dibandingkan hari biasa.

Dibayangi PHK Besar

Tercatat, pada Februari ini tingkat kunjungan dan omzet penjualan tenant semakin menurun drastis dari bulan-bulan sebelumnya. “Kami selaku pengelola pusat perbelanjaan yang tergabung dalam APPBI DPD Kaltim sangat berharap agar pada akhir pekan ini pusat perbelanjaan (mal) dapat beroperasional kembali dengan tetap menerapkan protokol kesehatan,” tekan Aries.

Aries mengatakan, langkah ini ditempuh agar mal dan tenant dapat tetap bertahan di tengah kondisi ekonomi yang sedang sulit ini. Apabila mal tetap beroperasi, pihaknya berkomitmen menjalankan protokol kesehatan dengan ketat.

“Pengunjung menggunakan masker, menjaga jarak, tidak berkerumun, membatasi jumlah kapasitas pengunjung dan menjaga kondisi mal tetap bersih dan steril,” beber pria yang juga GM Plaza Balikpapan itu.
Di Plaza Balikpapan sendiri, kata Aries, merinci kerugian sebesar Rp 250 juta lebih dalam sehari. Saat akhir pekan lalu tidak beroperasi. “Kalau kondisi ini berlanjut di bulan Februari ini, mau tidak mau harus pengurangan tenaga kerja lagi. Kita sudah terhantam COVID-19. Apalagi weekend tutup, tambah drop,” tuturnya.

Dengan kondisi seperti saat ini, tenant juga terpaksa meminta kompensasi pengurangan biaya sewa dan service charge.

Dibayangi PHK Besar

Terpisah, Kepala Toko Ramayana Balikpapan Dikky Pratama menjelaskan, diberlakukannya penutupan saat weekend membuat pendapatan mal turun drastis. “Hancur dengan Sabtu-Minggu tutup. Sementara mal ini berjuangnya di weekend, itu sama dengan jualan lima hari. Otomatis kita mengoptimalkan weekday,” kata Dikky Pratama saat dihubungi melalui sambungan telpon.

Saat ini, tambahnya, jumlah pengunjung turun jauh dari normal. Begitu pula dengan tingkat transaksi. Pada tahun lalu, omzet tidak mencapai target. Walaupun target omzet telah direvisi. “Karena tingkat konsumsi belum stabil. Sampai sekarang daya beli masyarakat masih turun,” tuturnya.

Ia mengaku dampak pandemi memberikan pukulan berat. Diperparah dengan diberlakukannya PPKM. “Customer sudah turun jauh dibanding sebelum COVID, (sekarang) tambah drop lagi. Transaksi kalau normal bisa Rp 200 juta di weekend. Sementara hari biasa Rp 30 juta per hari,” ujarnya.

Ramayanan mematok target setiap bulannya sekitar Rp 2 miliar. Target tersebut saat ini sulit tercapai. Untuk mencapai itu, berbagai upaya dilakukan. Baik penjualan di toko ataupun online. “Online karena baru, belum mendongkrak signifikan. Dalam sebulan sekitar Rp 40 juta,” sebut Dikky.

Dia berharap sebelum pemerintah mengambil kebijakan harus diperhatikan sisi positif dan negatifnya. Misalnya, pada pekan kemarin begitu diberlakukan, pasar penuh dan harga juga mengalami kenaikan.
Melihat kondisi omzet yang tak tercapai. Pihaknya pun tak dapat memproyeksikan kondisi ritel ke depan. “Saya belum bisa proyeksi ke depan. Pemerintah harus pikir panjang, kita tidak tahu. Kebijakannya berubah ubah. Walaupun (sudah) divaksin,” tandasnya.

Dengan situasi saat ini, kata Dikky, tidak ada peluang mal bertahan apalagi jika Sabtu dan Minggu diharuskan tutup. “Kalau sampai ini berlangsung lama, maka akan ada PHK besar-besaran,” ujarnya.

Dampak pandemi di Ramayana Balikpapan menyisakan kurang dari 50 karyawan. Di mana sebelumnya sudah berkurang atau di PHK sekitar 160 karyawan. (fey/eny)

Saksikan video menarik berikut ini:

Leave A Reply