Monopoli Ayam Pedaging

Produksi Berlebih, Harga Sulit Diprediksi

TANJUNG REDEB, DISWAY – Produksi ayam pedaging (broiler) di Kabupaten Berau selalu mengalami surplus. Namun, pencapaian itu berdampak pada harga yang fluktuatif. Bahkan, sulit diprediksi.

Menukil data Dinas Pertanian dan Peternakan (Distanak) Berau, sejak tahun 2018 produksi ayam pedaging sebanyak 1.418.339 kilogram (Kg) dengan total konsumsi masyarakat per tahunnya mencapai 1.347.422 Kg. Kemudian di 2019, produksi melonjak sebanyak 2.223.747 Kg dengan konsumsi masyarakat per tahunnya 2.112.560 Kg. Sedangkan di 2020, produksi mencapai 1.903.334 Kg dengan konsumsi masyarakat sebanyak 1.808.167 Kg.

Kasi Bina Usaha, Promosi dan Pemasaran Hasil Peternakan, Distanak Berau, Widodo menjelaskan, di tahun 2020 produksi mengalami penurunan. Tapi, produksi berlebih. Apalagi, daya beli masyarakat turun akibat pembatasan aktivitas, baik rumah makan maupun hajatan skala besar-besaran.

“Termasuk banyak hasil produksinya. Pun populasi ayam petelur di tahun 2020 sebanyak 2.488.546 ekor. Selama ini, Berau juga ikut menyanggah provinsi tetangga (Kaltara),” ucapnya kepada Disway Berau, Senin (8/2).

Melimpahnya produksi di Berau, kata dia, tentu mempengaruhi pergerakan harga yang tidak dapat diprediksi. Apalagi, pihaknya dan stakeholder terkait sulit mengendalikan harga. Terutama pengusaha besar yang mempunyai banyak mitra, ikut mempermainkan harga.

“Terdapat sekira tiga pengusaha besar dengan banyak mitra,” bebernya.

Dia mengakui, pihaknya sulit untuk mengendalikan pengusaha dengan peternak yang bermitra. Padahal, kerugian paling besar tentu pada peternak. Seperti peternak mandiri ayam berdaging, sudah tidak mampu berdiri sendiri.

Kondisi itu, memaksa mereka untuk memilih untuk bermitra. Padahal dengan harga kontrak, belum tentu memberikan untung yang besar. Terutama saat harga terjun bebas dan konsumsi masyarakat melemah.

Jika harga beli menurun dan stok melimpah, peternak yang bermitra maupun mandiri akan bertambah berat pada biaya pakan. Dalam produksi, 80 persen modal dihabiskan untuk pakan. Dan normalnya, panen dilakukan usia ayam pedaging menyentuh ukuran 1 hingga 1,5 Kg. Ketika harga turun, akan dipanen pada ukuran 2 hingga 3 Kg.

“Semakin berat, semakin banyak pakan. Itupun, ukuran melebihi 2 Kg sudah tidak begitu disukai, dan peternak akan menjual harga yang sama, karena perjanjian kontrak sudah demikian,” ungkapnya.

Widodo mengungkapkan, pihaknya belum bisa mengendalikan pihak ketiga, lantaran peternak lebih memilih untuk mengikuti bermitra. Yang penting, tidak merugi. Masih mendapatkan keuntungan.

Harga eceran tertinggi untuk ayam pedaging mencapai Rp 30-35 ribu per Kg. Namun, dalam beberapa tahun terakhir, harga ayam berada di angka Rp 18 ribu per Kg. Kendati dipertengahan 2020 lalu, harga ayam sempat menyentuh Rp 40-45 ribu per Kg, dipicu kelangkaan dipasaran. Padahal data menunjukkan surplus.

Selama ini, pihak menyarankan untuk beralih ke jenis peternakan yang memiliki peluang besar untuk dikembangkan, Seperti daging sapi, kambing dan babi. Ketiga jenis ternak tersebut, masih harus disangga dari daerah luar.

“Saran kami kepada peternak mandiri ayam pedaging, saat ini jangan mengambil risiko karena akan kalah saing. Bagusnya, melihat komoditas yang jarang dikembangkan untuk memenuhi permintaan pasaran. Kami upayakan seperti itu,” tutupnya. */RAP/JUN

Saksikan video menarik berikut ini:

Leave A Reply