Aktivitas Sesar Maratua

TANJUNG REDEB, DISWAY – Berau diguncang gempa berkekuatan magnitudo 4.1 SR, pada Jumat (29/1) sekira pukul 01.42 Wita. Diduga pergerakan dari sesar Maratua.

Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Berau, Tekad Sumardi mengatakan, guncangan gempa bumi ini dirasakan hampir di semua wilayah di Kabupaten Berau, terutama di Kecamatan Tanjung Redeb dan Tabalar.

“Getaran dirasakan nyata dalam rumah. Terasa getaran seakan akan truk berlalu,” ujarnya, Jumat (29/1).

Diterangkannya, episenter gempa bumi terletak pada koordinat 2.03 LU dan 118.05 BT, atau tepatnya berlokasi di laut pada jarak 76 km Tenggara Berau-Kalimantan Timur pada kedalaman 10 Km.

Dengan memperhatikan lokasi episenter dan kedalaman hiposenternya, gempa bumi yang terjadi merupakan jenis gempa bumi dangkal akibat aktivitas sesar Maratua.

“Aktivitias sesar Maratua ini memang sering terjadi, saya lupa sudah berapa kali,” tuturnya.

Lebih lanjut dikatakan Tekad, dampak dari gempa yang terjadi tidak menimbulkan kerusakan berarti. Ini wajar karena magnitudo gempa relatif kecil dan dampaknya hanya guncangan yang mencapai skala intensitas III MMI, atau belum merusak.

“Hingga saat ini belum ada laporan dampak kerusakan yang ditimbulkan akibat gempa bumi itu. Hasil pemodelan menunjukkan bahwa gempa bumi ini tidak berpotensi tsunami karena kekuatan rendah,” terangnya.

Tekad menuturkan, Kaltim, khususnya Berau tidak lepas dari ancaman bencana alam, seperti gempa bumi. Apalagi dua sesar aktif yakni sesar Mangkalihat, sesar Maratua yang dapat menimbulkan gempa bumi.

Kendati demikian, dirinya mengimbau kepada masyarakat agar tetap tenang, dan tidak terpengaruh oleh isu yang tidak dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya. Namun, pihaknya tetap meminta masyarakat selalu waspada ketika terjadi gempa bumi.

“Menghindari bangunan yang retak atau rusak diakibatkan oleh gempa. Periksa dan pastikan bangunan tempat tinggal cukup tahan gempa, ataupun tidak ada kerusakan akibat getaran gempa yang membahayakan kestabilan bangunan rumah,” jelasnya.

Sementara itu, Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Berau, Thamrin menjelaskan, pihaknya sudah berkoordinasi dengan tim yang ada di Kecamatan Tabalar. Karena, pusat gempa berada dekat dengan Kecamatan Tabalar.

“Dari informasi, tidak ada terjadi kerusakan,” katanya.

Diakuinya, warga sempat khawatir jika terjadi gempa susulan dengan kekuatan lebih besar. Namun, semua masyarakat di sana sudah kembali beraktivitas normal.

“Aktivitas warga sudah normal, meski sempat kaget ketika merasakan adanya gempa,” pungkasnya

50 Personel Siap Siaga

Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Berau, siagakan 50 personel tanggap darurat bencana.

Hal itu diungkapkan Kasi Kedaruratan BPBD Berau, Azkar Husairi. Personel BPBD telah siap untuk melaksanakan tanggap darurat bencana.“Kami siap, sekira 50 personel akan siaga,” ujarnya kepada Disway Berau, Jumat (29/1).

50 personel itu, terdiri dari Tim Reaksi Cepat (TRC), Tim pemadam kebakaran dan posko damkar di kecamatan. Jika terjadi bencana, maka personel di kecamatan akan langsung mengambil tindakan. Tidak menutup kemungkinan, yang di markas komando pun akan dikerahkan.

“Kami saling bersinergi untuk hal ini. Dan jika terjadi bencana, kami tidak bergerak sendiri. Banyak juga masyarakat yang ikut serta membantu. Terlebih personel TNI dan polisi,” katanya.

Dengan adanya gempa tektonik yang terjadi, pihaknya belum mendapat laporan adanya masyarakat yang terimbas atau menjadi korban.

“Sejauh ini, kami belum mendapat informasi bahwa ada korban dari bencana ini,” ungkapnya.

Kendati demikian, pihaknya berharap di setiap bencana yang terjadi tak ada korban jika. Terlebih lagi, kata dia, berharap Berau aman dari bencana.

“Saat ini kita hanya bisa berharap agar Berau baik-baik saja,” tegasnya.

Lanjutnya, saat ini peralatan yang dimiliki BPBD Berau terbilang cukup mumpuni. Mulai dari tenda darurat, armada, logistik hingga personel.

“Untuk armada ada banyak, di setiap kecamatan pun ada yang siaga. Untuk perahu karet ada 2 dan perahu fiber juga ada 2. Kalau untuk tenda darurat belum tahu jumlahnya,” ungkapnya.

Diberitakan sebelumnya, BMKG Berau, juga menyebut Berau sangat berpotensi tsunami. Pasalnya, ada dua lempengan aktif di laut Bumi Batiwakkal. Yakni, Sesar Maratua dan Sesar Mangkalihat.

Diungkapkan Kepala BMKG Berau, Tekad Sumardi, walaupun lempengan di Berau terbilang kecil, tapi jika ada gempa cukup tinggi yang mengakibatkan pergeseran lempeng semakin jauh, maka Berau bisa terjadi tsunami.

Bukan hanya itu, Tekad menyebut, untuk wilayah utara Kalimantan Timur (Kaltim), khususnya Berau, ada lempengan aktif yang cukup besar di dekat atau sekitar Pulau Tarakan. Hal itu pun sangat membahayakan untuk Berau.

Jika terjadi tsunami di Tarakan, sudah dapat dipastikan Berau juga akan digulung gelombang.

“Karena Berau dan Tarakan masih satu laut. Yakni, laut Sulawesi,” ujarnya kepada Disway Berau.

Tak hanya itu, Tekad mengatakan, jika terjadi tsunami di wilayah Mamuju, Sulawesi Barat (Sulbar), Berau pun akan tersapu gelombang. Bahkan, tak hanya Maratua dan Derawan. Bidukbiduk pun bisa terkena tsunami.

“Waktu Aceh mengalami tsunami, ombaknya itu sampai ke Madagaskar. Waktu di Jepang tsunami, gelombang juga sampai ke Halmahera, Maluku Utara. Karena mereka satu laut. Jadi sangat wajar itu terjadi,” ungkapnya.

Dikatakannya, ada satu alat yang terpasang si Pesisir Selatan Berau. alat itu berfungsi untuk mendeteksi getaran atau gempa.

“Sementara kita belum punya alat pendeteksi tsunami,” ungkapnya.

Diakuinya, dari pantauan alat, terlihat beberapa kali ada getaran di perairan Berau. Diungkapkannya, Sesar Maratua beberapa kali bergeser, yang mengakibatkan getaran sekira 3 sampai 4 skala richter (SR).

“Jadi memang di bawah 5 masih, kalau di atas 7, pasti tsunami,” jelasnya.

Saat ini, dirinya berharap agar pemerintah sesegera mungkin melakukan sosialisasi dan simulasi tanggap bencana tsunami. Pasalnya, cuaca di Laut Sulawesi, sedang tidak baik.

“Ini harus segera dilakukan, masyarakat harus punya jalur evakuasi jika memang bencana itu terjadi,” tegasnya.

Saat ini, di Manado, Sulawesi Utara, gelombang sudah sangat besar. Bahkan, sudah naik ke jalan. Hingga merusak beberapa fasilitas umum.

“Ingat, Berau dan Manado juga masih satu laut. Kalau di sana gelombang bisa sebesar itu, maka Berau juga berpotensi,” jelasnya.*/ZZA/*FST/APP

Saksikan video menarik berikut ini:

Leave A Reply