Pemulasaran Jenazah COVID-19 Rentan Penolakan, Keluarga Perlu Pendampingan

Balikpapan, nomorsatukaltim.com – Proses pemulasaran pasien COVID-19 kembali diwarnai insiden. Teranyar, pihak keluarga berseteru dengan petugas kepolisian di Rumah Sakit Pertamina Balikpapan (RSPB), Minggu (24/1/2021) lalu.

Tindak kekerasan yang dilakukan pihak keluarga, berakhir dengan ancaman pidana. Insiden demi insiden penolakan pemulasaran prosedur covid terjadi selama ini.

Psikologi keluarga pasien positif corona tentu sudah sangat sulit. Menerima kenyataan orang tersayang terkonfirmasi positif. Jika meninggal, tidak ada kesempatan untuk melihat terakhir kalinya. Apalagi memakamkan.

Sampai kemarin, Satgas Penanganan COVID-19 Balikpapan sudah mencatat lebih dari 342 kasus terkonfirmasi positif berujung maut. Ratusan pasien positif berguguran. Beragam reaksi muncul dari pihak keluarga yang baru saja ditinggalkan.

Salah satunya Pakde Nuhun. Warga Gang Mufakat I, Kelurahan Damai. Yang tinggalnya persis di pinggir aliran Sungai Ampal. Ia menjadi pendiam sejak ditinggal istrinya yang lebih dulu menghadap sang pencipta. Setelah seminggu menjalani perawatan di Rumah Sakit Kanujoso Djatiwibowo (RSKD), di awal Desember 2020.

Nama istrinya, Ijum. Akrab disapa Mama Ijum. Wafat dalam kondisi reaktif hasil rapid antibody. Dengan riwayat kesehatan mengidap penyakit penyerta. Lebih dari dua penyakit. Komplikasi.

Sepekan sebelum meninggal dunia, mendiang sempat dinyatakan reaktif. Kondisi itu membuatnya harus menjalani perawatan tanpa didampingi anggota keluarga.

Meski pada hari-hari terakhirnya menunjukkan kondisi kesehatan yang mulai membaik, namun takdir berkata lain. Ia meninggal bertepatan dengan hari Pilkada Serentak 9 Desember 2020, sekira pukul 09.00 Wita.

“Sampai meninggal, kita (keluarga) cuma berkomunikasi jarak jauh, ada suster yang biasa menghubungkan kami lewat video call,” ujar Neta, cucu dari Pakde Nuhun dan almarhumah Mama Ijum, ditemui, Rabu (27/1).

Sama seperti pasien lainnya yang meninggal dunia dalam kondisi COVID-19. Maka pengurusan jenazah berlangsung dengan protokol covid. Hanya butuh 2 jam persiapan pemulasaran. Jasadnya sudah siap dimakamkan di pemakaman kilometer 15, Balikpapan Utara.

“Awalnya keluarga diberi tahu pihak rumah sakit, kalau jenazah boleh dibawa pulang. Tapi dengan syarat tidak boleh ada keramaian. Kami juga diminta tanda tangan persetujuan,” ujar Reza, kakak Neta.

Mendengar kabar itu, pihak keluarga bergegas menjemput jenazah. Sekira pukul 11.00 Wita, keluarga dan kerabat mendiang sudah siap menjemput. Namun tiba-tiba keputusan itu berubah. Satgas menetapkan jenazah harus dimakamkan di tempat pemakaman pasien COVID-19 meninggal. “Kalau kami sih enggak apa-apa. Tapi kan sudah sempat miskomunikasi. Kami kecewa,” kata Reza.

Setali tiga uang, pimpinan Pondok Pesantren (Ponpes) Al Azhar Asy Syarif di Indrakilla, Kampung Timur, ustaz Hamka, merasakan hal yang sama.

Hamka adalah anak dari ulama yang meninggal dalam kondisi terkonfirmasi positif, di awal masa-masa pandemi. Ia mengenang masa-masa sulit yang dialami komunitasnya di ponpes.

“Karena kita melihat, di awal-awal itu beliau lah yang pertama meninggal di Balikpapan dalam status covid. Pada saat itu menjadi heboh,” kenangnya.

Dampak yang ditimbulkan dari kejadian tersebut, muncul penolakan warga sekitar. Yang takut bersosialisasi dengan pihak keluarga dan santri.

“Bahwa ada santri yang enggak bisa membeli keperluannya di warung. Namun dengan bergulirnya waktu, sekarang sudah enggak ada masalah dengan warga sekitar,” urainya.

Bahkan warga justru membantu penghuni ponpes. Yakni saat Ramadan. Warga sekitar ramai-ramai menyedian makanan untuk keperluan berbuka puasa selama satu bulan.

“Supaya santri tidak keluar kesana kemari. Pak RT yang menyediakan buka puasa selama satu bulan,” katanya.

Berkaca dari pengalamannya, Hamka menyebut pihak keluarga yang berduka pasti menginginkan prosesi pemulasaran berjalan sesuai tradisi atau hukum agamanya masing-masing.

Namun di sisi lain, prosedur pemakaman jenazah mesti berjalan dengan protokol COVID-19.  “Kita kan tidak tahu apakah ada proses tayamum, atau memandikan jenazah seperti apa. Kita kan tidak tahu. Ini hanya pendapat saya secara pribadi,” katanya.

Ia menyayangkan bahwa sampai sekarang masih ada reaksi penolakan yang muncul dari luapan emosional pihak keluarga yang berduka. (ryn/eny)

Keluarga Pasien Perlu Edukasi Psikologi

 

Pemulasaran Jenazah COVID-19 Rentan Penolakan, Keluarga Perlu Pendampingan

Sarwendah Indrarani.

Psikolog Sarwendah Indrarani menganggap masyarakat masih sangat memerlukan edukasi psikologi. Terutama bagi pasien COVID-19 dan pihak keluarga. Bisa berupa pendampingan, agar masyarakat bisa melalui masa-masa pandemi.

Sebenarnya, kata dia, saat pihak keluarga tahu ada seseorang di antara mereka terkonfirmasi positif, hal itu sudah memunculkan emosi negatif.

“Reaksinya kan banyak. Bisa kaget, khawatir, ada yang cemas, maksudnya takut gimana-gimana dengan keluarganya,” ujar Sarwendah, saat dihubungi, kemarin.

Pikiran-pikiran itu otomatis terlintas. Orang-orang mulai khawatir bagaimana nanti saat keluarganya harus dirawat di rumah sakit. Tanpa didampingi orang terdekat.

“Dari situ saja sudah muncul banyak emosi-emosi negatif yang dialami oleh keluarga. Sampai akhirnya pasien itu meninggal, sudah ada banyak pengalaman tak menyenangkan selama itu,” katanya.

Luapan emosi yang tidak terarah, akan menumpuk dan memicu tindakan-tindakan yang tidak diinginkan. “Ada lelahnya, ada capainya, sehingga saat ada pihak-pihak yang berkepentingan, misalnya mau mendokumentasikan jenazah, atau tidak sengaja melakukan sesuatu, menjadi pemicu,” katanya.

Menurutnya, kondisi psikis orang yang sedang berduka sangat normal terjadi pada anggota keluarga. “Itu normal sekali, tapi kita tetap perlu edukasi. Memberikan pengertian bahwa itu berbeda dengan kasus (penyakit) biasanya,” katanya.

Dengan terus bertambahnya kasus positif berujung kematian, maka fenomena itu juga menjadi momok bagi masyarakat berusia di atas 40 tahun.

Ada kecemasan untuk berobat di rumah sakit. Apa lagi kondisi rumah sakit di Balikpapan sudah penuh oleh pasien COVID-19. “Sebenarnya kalau kita tetap menerapkan protokol kesehatan, masih tergolong aman ya,” katanya.

Namun kondisi kesehatan orang tua umumnya sudah disertai penyakit-penyakit gejala berat. Yang membuatnya lebih rentan terinfeksi COVID-19. “Jadi harus lebih ekstra penjagaannya,” tambahnya.

Apa lagi bagi pasien yang diharuskan pergi ke rumah sakit, seperti pasien cuci darah. Sehingga para orang tua diharuskan menjaga dirinya dengan cara self assessment yang lebih intens.

“Kalau masih bisa ditangani di klinik-klinik mungkin lebih baik. Harus mencari alternatif fasilitas kesehatan yang tidak terlalu penuh, misalnya,” imbuhnya. (ryn/eny)

Saksikan video menarik berikut ini:

Leave A Reply