Sulitnya Pengendalian Gizi Buruk di Perkotaan, Banyak Orang Tua Enggan Datang ke Posyandu

Samarinda, nomorsatukaltim.com  – Pencegahan dan pengendalian gizi buruk di perkotaan ternyata lebih sulit. Ada kecenderungan orang tua yang tinggal di kota besar enggan datang ke posyandu. Untuk memantau tumbuh kembang balitanya. Salah satunya di Samarinda.

Kondisi demikian digambarkan Kepala Seksi Kesehatan Keluarga dan Gizi Masyarakat, Dinas Kesehatan Kota Samarinda, dr Rudy Agus Riyanto.

posyandu

dr Rudy Agus Riyanto.

Apalagi, ia menceritakan, kondisi itu kini makin pelik dengan adanya pandemi virus corona disease. Sebab pemerintah belum mengizinkan daerah tertentu menggelar pos pelayanan terpadu (posyandu).

Terutama daerah yang masih tinggi kasus penyebaran virus pagebluk itu. Sehingga Diskes terpaksa mengakali. Bukan ibu-ibu lagi yang diminta datang ke posyandu. Tapi posyandu yang mendatangi mereka.

“Yang jadi kendala kita, ibu-ibu yang memiliki balita di Samarinda sebelum pandemi pun masih sedikit yang mau datang ke posyandu. Untuk melakukan konseling dan pemantauan pertumbuhan anaknya. Sehingga begitu ada gangguan, bisa lansung ditangani,” jelas dr Rudy.

Padahal menurut dr Rudy, pengendalian terhadap gizi buruk tidak bisa hanya berfokus pada penanganan simpulnya saja. Sebab gizi buruk adalah hasil dari adanya gangguan pertumbuhan pada anak. Pun terkadang, walaupun sudah ditangani, masih ada gejala sisa.

Itulah mengapa, Diskes Samarinda lebih berkonsentrasi mencegah terjadinya gizi buruk, jauh sebelum seorang anak lahir. Yaitu pada saat ibunya masih remaja. Sudah dipersiapkan sejak dini. Oleh Diskes diberi tablet tambah darah.

Dokter Rudy mengatakan, sudah hampir tiga tahun, remaja usia SMP dan SMA di Samarinda diberikan tablet tambah darah. Setiap satu kali dalam seminggu. Tujuannya, supaya usia remaja tersebut lebih siap jadi ibu. Di samping itu belajarnya pun jadi lebih konsen, karena dia tidak mudah terkena anemia. Tidak kekurangan hemoglobin. “Syukurnya remaja-remaja di Samarinda ini sudah mulai bisa menerima,” katanya.

Selain itu, ketika akan menikah, Diskes juga memberikan program konseling kepada calon pengantin. Untuk membekalinya pengetahuan ketika sudah berumah tangga dan memiliki buah hati.

Kepada calon ibu, atau ibu hamil, juga diberikan konseling dan asupan makanan tambahan. Baik itu makanan lokal maupun biskuit khusus.

Sebab yang berpotensi kekurangan gizi, kata Rudy, bukan hanya bayinya, tapi juga ibu hamil. Salah satu tanda-tandanya, ibu hamil yang lingkar lengannya kurang dari 23,5 cm.

Kemudian, terhadap bayi yang baru lahir, penanganannya diberikan IMD (Inisiasi Menyusu Dini) kepada bayi. Yaitu, bayi, begitu dia lahir, tidak lansung dimandikan. Melainkan hanya dilap dengan kain tertentu.

Lalu bayi tersebut diletakkan di atas dada ibu yang melahirkannya. Hingga antara kulit dengan kulit menempel. Agar si bayi punya inisiatif untuk menyusu dengan sendirinya. Setelahnya baru masuk tahap pemberian ASI eksklusif.

Permasalahan lainnya, masih kurang pemahaman masyarakat bahwa ASI (Air Susu Ibu) adalah satu-satunya makanan terbaik untuk bayi 0-6 bulan. “Tidak ada lawannya (ASI) itu,” Imbuhnya.

Diskes mengaku cukup kesulitan mengedukasi masyarakat terkait hal itu. Sebab, masih banyak yang merasa kalau tidak beli susu formula itu orang miskin. Padahal persepsi itu salah. “Karena susu formula tidak boleh diberikan pada bayi 0-6 bulan,” sebutnya.

Pun selepas 6 bulan, sebaiknya balita diberikan makanan pendamping ASI. Yakni makanan-makanan yang diatur gizinya. Diskes menyebutnya dengan istilah menu 4 bintang. Isinya, karbohidrat sebagai zat energi, kemudian kacang-kacangan, lauk, sayur dan buah. Itulah gizinya yang seimbang.

Dan untuk memastikan itu, anak-anak balita hanya bisa dipantau melalui Posyandu. Program-program itulah yang menurutnya bisa mencegah gizi buruk.

Karena, dia menjelaskan, urutan kejadian bermula dari gangguan pertumbuhan, lalu mengalami gizi buruk, dan kemudian stunting.  Namun, pada saat mulai mengalami gangguan pertumbuhan harusnya sudah bisa dideteksi di posyandu.

“Jadi kalau ibu-ibu di Samarinda mau datang ke Posyandu, untuk memantau dan mengontrol perkembangan anak, jangankan stunting, gizi buruk saja bisa kita cegah,” papar Rudy.

Untuk penanganan terhadap penderita gizi buruk sendiri, Diskes menyiapkan tim khusus di seluruh puskesmas. Namanya Tim Aduan Gizi Puskesmas. Terdiri dari seorang dokter, seorang perawat/bidan dan seorang ahli gizi. Tugasnya termasuk menangani kekurangan gizi pada ibu hamil.

“Penanganan gizi buruk di Samarinda saya rasa tidak ada masalah yang besar. Artinya setiap ada yang ditemukan pasti bisa ditangani,” tutur Rudy.

Apalagi penanganan gizi buruk tidak selalu dirujuk ke rumah sakit. Sebab tidak semua penderita gizi buruk terlihat loyo dan lemas. Ada kriteria khusus. Karena ketika penderita gizi buruk sudah lemes, artinya sudah terlambat untuk ditangani.

Dia mengatakan, ada banyak penderita gizi buruk yang masih bisa berlari-lari. Namun keadaan itu juga sudah masuk kriteria gizi buruk tanpa komplikasi medis. Yang akan dilakukan puskesmas terhadap kasus demikian, adalah penanganan rawat jalan. “Kalau sudah ada komplikasi medis. Anaknya lemes, mulai tidak sadar. Baru dirujuk ke rumah sakit.”

Namun terkadang, ada orang tua yang merasa anaknya masih sehat. Tidak mau dilakukan penanganan oleh puskesmas. Selalu bilang anaknya masih sehat, masih bisa berlari-lari. “Padahal kita selalu ingin melakukan penanganan lebih dini. Dan lebih cepat,” pungkasnya. (eny)

Saksikan video menarik berikut ini:

Leave A Reply